Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 89


kedua pasangan muda-mudi itu terperangah, saling menatap seakan tidak percaya. bagi elrick, ini adalah kabar yang paling manis yang ditangkap telinganya sepanjang hidupnya. kini darma justru meminta mereka untuk segera menikah.


“ayah? benar ayah merestui kami?” bola mata raya berkaca-kaca. dia memang cengeng, tapi berita ini memang pantas untuk ditangiskan, saking gembiranya.


“iya, ayah setuju. ayah tahu, kau hanya mencintai pria ini. sesedih apa pun dirimu, saat sudah bersama dengannya, wajahmu selalu tersenyum, menunjukkan rona kebahagiaan,” ucap darma lembut pada putrinya. dia sadar selama ini sudah banyak buat raya bersedih hati karena melarangnya bersama pujaan hatinya.


“terima kasih, om...,” ucap elrick penuh semangat. dia pikir masih akan panjang jalan terjal yang harus dia lalui untuk mendapatkan raya.


“Tapi ayah juga punya syarat. kalian menikah di sini. ayah ingin semua warga kampung sini melihat, kalau anak ayah punya kebahagiaan, dia diinginkan, bukan gadis pembawa sial, apalagi dituduh menjadi aib keluarga,” ujar darma dengan suara bergetar.


Raya sendiri tidak bisa menahan rasa sedih bercampur haru, ayahnya ternyata selama ini menyimpan sakit yang luar biasa atas gunjingan para tetangga.


“Apa kau sanggup?”


“Aku akan ikuti apapun yang om minta, asal itu untuk kebaikan Raya.”


***


Berita tentang rencana pernikahan Raya dan Elrick, sang miliarder sudah tersebar di seluruh pelosok desa, bahkan satu kecamatan. Tetangga yang selama ingin mengolok dan mencibir Raya, kini berusaha untuk mendekati dan menjilat pada gadis itu.


“Kau lihat sendiri Raya sudah dipinang oleh pria lain, yang ibu dengar lebih segalanya darimu,” ucap Titin dingin. Menatap undangan yang baru diterimanya dari panitia pesta yang khusus membagi undangan ke semua orang.


Dika hanya terdiam. Hatinya hancur. Dia pikir kepulangannya kali ini akan berhasil membuat Raya kembali padanya. Dia bahkan sudah menjual asetnya di kota untuk pindah dan buka usaha di sini.


Sia-sia semua. Rencananya kandas ditikung Elrick. Tapi dia juga sadar, ini mungkin teguran dari Tuhan, sekarang tidak ada guna penyesalan. Mungkin juga Rata akan lebih bahagia dengan Elrick.


Dengan berat hati, Dika pun mengakui kalau Raya yang sekarang sangat berbeda dengan Rayanya dulu. Dika bisa melihat sorot mata Raya yang menatap Elrick penuh dengan cinta dan juga kehangatan, tatapan yang tidak pernah bisa dia nyalakan di mata Raya saat dulu mereka bersama.


“Semoga kau bahagia, Ray. Akan aku tanggung penyesalan ini seumur hidup, sebagai pembelajaran diri,” cicitnya dalam hati.


***


Walau sedih mendengar kabar pernikahan Raya, setidaknya keluarga Dika mendapat kabar baik, Bejo sudah diperbolehkan pulang. Hasil interogasi dan bukti yang dikumpulkan polisi sudah mendapatkan pelakunya.


Kabar terakhir yang dilaporkan anak buahnya pada Elrick, orang yang menusuk Bejo sudah diamankan polisi. Orang itu tidak lain adalah suami wanita yang sudah dirayu Bejo sekaligus main gila dengan pria berumur 50 tahunan itu.


Menurut keterangan tersangka, pria itu sudah lama menaruh dendam pada Bejo karena sudah berhasil mengajak istrinya main gila. Rencana balas dendam pun sudah jauh hari direncanakan. Malang bagi Bejo dan berkah bagi Paijo, malam itu melihat Bejo jalan sendirian di kegelapan malam, dan kesempatan itu langsung diambil Paijo untuk menghabisi Bejo.


Ketika akan memberikan tusukan kedua kalinya, agar Bejo benar-benar ma*mpus, Paijo mendengar suara langkah kaki yang ternyata adalah Darma, hingga lari tunggang-langgang meninggalkan pisau nya di samping tubuh Bejo.


Aib yang harus ditanggung keluarga itu. Berulang kali Titin memaafkan kegilaan Bejo, tapi nyatanya pria itu tetap masih belum bisa berubah.


Mendengar berita itu, keluarga Titin kembali menjadi buah bibir warga. Istri Paijo sudah kabur entah kemana, hingga polisi tidak bisa menyelidik kebenaran ucapan Paijo.


"Ibu malu, Dik. Ibu ingin mati saja!"


"Istighfar, Bu. Jangan begitu, nanti ibu sakit," ucap Dika menahan tangan Titin yang terus menepuk dadanya.


Amarah yang menyerang hingga Ubun-ubunnya membuat Titin mengambil penggorengan dan juga panci tang bisa dia lempar pada wanita ******* itu. Sementara Bejo, memeluk kaki Titin, memohon dan mencium jari-jarinya untuk memohon maaf.


Demi keutuhan keluarga, Titin sudah mengabaikan harga dirinya, memaafkan Bejo, tapi sekarang terungkap kembali perilaku gila pria itu, istri mana yang akan sanggup?


Dika hanya diam. Dia juga malu, sekaligus geram pada ayahnya. Mungkin saran Titin untuk pindah ke Bandung, tempat saudara ibunya merupakan gagasan bagus. Dia juga ingin melupakan kegagalannya. Dengan tetap tinggal di sini, berarti dia akan bertemu Raya lagi, karena walau sudah menikah, pasti sesekali akan pulang menjenguk ayahnya.


***


Hari sudah ditentukan, lusa keduanya akan melangsungkan pernikahan. Dan orang yang paling super sibuk adalah Nani. Berpuluh orang dia bawa dari ibukota hanya untuk mempersiapkan segalanya.


Karena hotel yang akan dibangun Elrick belum selesai, tapi tempat wisata itu sudah 70 persen rampung, maka resepsi akan diadakan di sana. Semua warga desa diundang, dan begitu bersemangat karena mendapat bocoran, akan mendapatkan cendramata yang sangat berharga.


Kebaya pengantin Raya dijahit ulang oleh Nani, walaupun gadis itu mengatakan masih menyimpan yang lama. "Gak boleh, nanti jadi sial. Itu kan kebaya yang pas batal nikah, kamu mau batal nikah lagi?" ancam Oma kala itu saat memaksa Raya untuk mencoba kebaya yang sudah siap pakai itu.


"Ih, Oma gak mau lah," sahut Raya cemberut.


"Makanya nurut."


Seperti permintaan Oma, Raya menurut. Apapun yang diperbuat pada wajahnya, dia akan ikut saja.


Sorenya setelah urusan fitting dan perawatan wajah dan rambut selesai, Raya yang sudah sejak kemarin tidak bertemu Elrick ingin mencari pria itu.


"Oma tahu, kau mencari pria tengik itu, dia ada di tempat wisata. Dipa ingin membantu mempercepat pembangunan tempat itu, jadi ikut meninjau, sekedar memberi ide tambahan," terang Nani.


Setelah pamit, penuh semangat, Raya menuju lokasi itu. Banyak orang yang sedang melakukan pembangunan dan perbaikan, walau sudah tampak hampir selesai. Setidaknya tempat itu akan menjadi tempat hiburan bagi warga desa karena banyak wahana permainan.


Dari tempatnya, Raya melihat Dipa, sedang bicara dengan beberapa orang yang memakai topi berwarna putih dan kuning.


Karena Raya memang tidak berminat untuk mencari Dipa, dia segera mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dia rindukan, dan akhirnya menemukannya.


Penuh semangat, Raya berjalan ke arah Elrick yang tampak berdiri memandang ke arah taman yang begitu luas. Raya pikir pria itu hanya sendiri, karena lawan bicaranya tertutup oleh tembok.


Dengan pelan Raya berjalan tanpa mengeluarkan suara langkah.


"Seharusnya, sebelum pernikahan kalian ini dilangsungkan, Anda terus terang pada Raya, kalau Anda adalah orang yang sudah merenggut kesuciannya malam itu!"


*


*


*


Duaaaar!


Aku yang nulis kok aku yang jantungan ya Allah...🤦🤦 part ini buat ku merinding🥺😔