Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 96


*Area Dewasa*


Deru napas Elrick selaras dengan langkah kakinya yang berlari menuju rumah. Sudah lewat pukul 12 malam, dia juga tidak yakin kalau Raya masih terjaga. Kalau nanti dia mendapati istrinya sedang tidur, dia pasti tidak tega membangunkannya.


Diputarnya kunci yang sudah dia masukkan ke dalam lobang kunci. Perlahan masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk kamar, agar tidak dua kali kerja, Elrick ke kamar mandi, mencuci kaki, muka dan juga menyikat giginya.


Benar dugaannya, Raya sudah tidur. Selimut sudah menutupi dirinya yang tidur miring menghadap tembok kamar.


Elrick hanya bisa menghela napas panjang. Malam ini pun terlewati dengan sia-sia. "Sabar deh, Boy. Belum waktunya..."


Dengan hati-hati Elrick membaringkan tubuhnya di ranjang. Di tariknya selimut menutupi tubuh istrinya, tidak ingin gadis itu menggigil kedinginan.


Seolah alam semesta berpihaknya padanya, tidak berapa lama, hujan turun dengan derasnya, menambah rasa dingin di kamar itu. Sentuhan lembut Elrick yang membenarkan letak selimut Raya, nyatanya membuat gadis itu terbangun. Menguap dan mengucek matanya kirinya. "Udah pulang?"


Elrick hanya mengangguk. "Di luar hujan, pakai yang benar selimutmu," sahutnya menarik kembali selimut yang sempat diturunkan Raya.


"Memangnya sudah subuh? Ayah mana?"


"Masih jam satu kurang. Ayah masih di pos ronda. Ayah yang minta aku pulang."


Keduanya terkunci pada satu sorot mata yang berhasil buat wajah mereka memerah. Elrick yang sudah terbiasa berhadapan dengan para wanita saja masih berdebar-debar saat di samping Raya. Jantung berdegup lebih kencang, beroperasi tidak seperti biasanya.


Tanpa kata, Raya menarik selimut itu ke tubuh Elrick. Setelah bisa menguasai diri, walau masih tetap berdebar-debar, Elrick menarik tubuh Raya ke dalam pelukannya.


Belaian jemari Elrick yang menari di kulitnya membuat bulu kuduknya meremang. Semakin lama jantungnya semakin bergemuruh, seolah ingin melompat keluar.


Setelah mencium puncak kepala Raya dalam dan lama, pria itu menarik dagu Raya agar mata mereka bisa saling memandang.


"Aku minta maaf untuk hal brengsek yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, akan sangat mencintaimu, dan ingin menghabiskan sisa hidupku hanya ingin bersamamu," ucap Elrick tepat di atas bibir Raya. "Kau mau memaafkanku?"


Sorot mata setajam elang itu menguncinya. Lama Raya berpikir. Dia bukan ragu atau masih tidak ingin memaafkan Elrick, tapi lebih menyadari kalau dia memang tidak beralasan marah pada pria itu. Dia bukan pria yang memperko*sanya. Lagi pula, katakanlah Elrick memang memperko*sanya, tapi sepertinya yang pernah dia ucapkan pada Elrick saat di rumah Oma, dia akan meminta pria itu untuk bertanggungjawab dan menikahinya. Dan kini, walau awalnya hanya ucapan di bibirnya saja, nyatanya hal itu sudah dikabulkan oleh semesta.


Penuh keyakinan, Raya mengangguk. Senyum bahagia Elrick muncul, menatap gadisnya dengan mata berbinar. Tidak puas hanya dengan menatapnya, Elrick menangkup dagu Raya, mendekatkan wajahnya pada bibir gadis itu. Menyapu sekilas bibirnya dan benar, rasanya sudah sangat lama. Dia rindu.


"Aku begitu mencintaimu. Oh Tuhan, aku benar-benar tergila-gila padamu, Sayang," ucapnya mengecup dalam bibir Raya. Mulai merayu dan menggoda bibir sensual itu untuk terbuka, agar Elrick bisa masuk.


Keinginan Elrick terkabul. Bibir Raya terbuka, siap menerima Elrick. Dinginnya udara di luar sana tidak lagi terasa oleh kedua anak manusia itu, karena aliran darah mereka sudah memanas di tubuhnya masing-masing.


Raya sudah membuka kunci bloknya, membiarkan Elrick masuk untuk merampok hatinya, cintanya dan juga hasrat liar yang sebenarnya ada tersimpan dibalik sikap polosnya.


Raya mulai membalas. Lidahnya yang lembut, menyapu langit-langit mulut Elrick, membuat pria itu menegang dan mende*sah penuh kenikmatan.


Tidak ingin tinggal diam, Elrick menciumi leher Raya, menikmati lekukan indah pada leher jenjang itu. Mulus, lembut dan juga menggoda. Kulit Raya begitu sehat dan juga putih bersih. Sekejap saja lehernya sudah memiliki banyak tanda hasil mahakarya suaminya malam itu.


Malu dengan keadaan dirinya yang sudah polos dan Elrick dengan sigap menarik menutupi tubuh Raya.


"Kau sempurna. Jangan ada yang kau tutupi dari diriku. Aku mencintaimu dengan semua yang ada di tubuhmu ini." Elrick mengatakan itu tanpa melepas pandangannya pada Raya. Mencium sekilas bibir gadis itu, menarik lidahnya untuk dia hisap, hingga Raya menggelinjang hebat.


Dia harus segera memutus ciuman itu, agar bisa membuka kaosnya. Setelah berhasil melemparkan ke sembarang tempat. "Sentuh, Raya... tubuh ini milikmu. Tubuhku ingin merasakan lembut telapak tanganmu di kulitku," bisik Elrick dengan suara serak akibat menahan hasratnya yang sudah melanda, menggulung dalam dirinya bak gulungan salju besar.


Raya mengikuti ucapan Elrick yang sebenarnya juga merupakan isi hatinya. Raya membelai, dan merasakan liat tubuh pria itu. Melihat reaksi Raya, Elrick sudah benar-benar terbakar. Ditenggelamkannya kepalanya di leher Raya kembali. Dia tidak ingin buru-buru hingga membuat Raya ketakutan.


Suhu panas tubuh Raya sudah ikut menjalar ke tubuhnya. Elrick sudah tidak berdaya, ketika tangan Raya menelusuri tubuhnya, tangannya membelai bulu halus yang ada di sekitar pusarnya.


Elrick hampir gila. Terbawa arus gelombang memabukkan. Dia mencercap kembali tulang selangka wanita itu, lalu turun ke bawah. Satu tangannya sudah meraba dan bermain di salah satu puncak merah muda mengkilat itu, sementara mulut Elrick segera melahap puncak sebelah kanan. Mencercap puncak nya sebelum merasai dengan lembut hingga tubuh Raya mengejang, bergetar dan juga terasa melayang.


Elrick masih tidak berhenti menyiksanya. Kembali mulutnya berpindah tempat ke sebelah, membelai puncaknya dengan lidah, membasahi dengan air liurnya dan menghi*sap dengan sentakan yang membuat tubuhnya Raya melengkung indah ke depan.


Penyiksaan nikmat itu belum berakhir. Elrick yang melihat Raya sudah hampir terbakar, menyempurnakan aksinya. Tangannya turun melewati perut langsingnya terus merambat hingga ke bawah.


Spontan Raya kembali merapatkan kakinya. Tidak mengizinkan siapapun masuk. "Jangan, Sayang. Aku mohon. Aku ingin menyentuhnya menyatukan tubuh kita sebagai bukti cinta suci kita," bisik Elrick mengecup bibir Raya dan berhasil disambut gadis itu. Menarik lidah pria itu. Melakukan seperti yang sudah diajarkan Elrick padanya.


Setelah kembali rileks, Raya membuat pahanya, hingga pria itu bisa membuka dengan lebih lebar. Tangan Elrick bermain, membelai dan memuja. Semakin berani masuk menelusup ke dalam. Elrick terus menekan dan menusuk-nusuk dengan jemarinya, hingga tidak lama tubuh Raya bergetar. "Mas, ada yang mau keluar dari bawah," ucapnya.


"Mas...," desisnya. Elrick tidak menghiraukan semakin menyerang hingga tubuh Raya bergetar hebat. Sesuatu di bawah sana sudah keluar, kental dan juga bening. Tubuhnya terkulai lemas.


Rasanya sangat nikmat hingga Raya ketagihan. Dulu bersamaan mantan suaminya tubuh Raya tidak sampai melayang seperti ini.


Elrick naik kembali, mengecup bibir Raya, setelah puas bermain dengan kedua benda kenyal itu.


"Kau lelah sayang?"


Raya mengangguk malu. "Tapi sangat nikmat."


"Baguslah, karena aku akan masuk sekarang."


*


*


*


Masih pemanasan ya, gais... Habis ini kita buat yang sedikit hot, gak papa ya🤭🤭🤭