
Sidney bangun dengan kepalanya yang berisi pemain drum yang sedang menabuh genderang, berisik, pusing dan masih ingin muntah.
Diliriknya jarum jam di meja samping ranjangnya. Dia tersentak, pukul delapan pagi.
"Mati gue, terlambat lagi, kan. Duh, gak bisa masuk kelas nih," dumelnya hendak memasuki kamar mandi. Langkahnya terhenti kala pintu kamarnya di buka dan wajah bi Ratih muncul. "Non, ini sarapannya."
"Kok dimana ke sini, Bi? Aku lagi buru-buru mungkin gak sarapan. Udah telat ke sekolah."
"Loh non, ini kan hari libur."
"Hah?" Sidney memasang wajah lemas, energinya sesaat terkuras oleh rasa paniknya. Kembali dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. "Bi, kenapa dibawa kemari?"
"Disuruh sama den Paris. Katanya non butuh susu dan juga ini air lemot hangat, biar seger. Emang non Sidney kenapa?"
"Oh, gak papa. Udah, bibi bawa aja balik, nanti aku turun.
Alih-alih turun ke bawah untuk sarapan, Sidney justru masuk ke kamar Scot. Dia ingin buat perhitungan dengan sahabatnya itu karena sudah meninggalkannya saat di pesta Cici.
Sehabis mandi, Sidney sudah ingat semuanya. Sampai Paris yang datang menyelamatkan dirinya dari permainan gila Agnes dan tim.
"Uh.. tega lo ya, Nyet. Tinggalin gue di pesta kemarin. Lo gak tahu, gue mabok..." Sidney berhenti bicara kala melihat wajah Scot yang tampak memerah di rahang sebelah kanan. "Lo kenapa? jangan bilang lo baku hantam saat di pesta itu hanya gara-gara cewek?"
"Sekate-kate lo kalau ngomong ya. Ini maha karya Paris sama gue subuh tadi, karena udah ninggalin lo. Memangnya lo sreseh apa sih kalau mabuk?"
Wajah Sidney memerah. Dia harus bilang apa, yang ada dia malu. Sidney memilih mengabaikan pertanyaan Scot dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur sahabatnya itu.
Paris semarah itu hingga memukul Scot. Tidakkah itu terlalu berlebihan? kalaupun dia sudah menganggap dirinya adik, tapi sampai memukul adik kandungnya demi dirinya adalah hal yang sedikit aneh.
"Lo kesini mau tidur? pemalas banget, sih. Mending lo ikut gue."
"Kemana?" tanya Sidney tidak bersemangat.
"Tempat yang bisa buat lo fresh!"
Sedikit pun Sidney tidak menyangka kalau tempat yang disebutkan Scot adalah kolam berenang di rumah itu. Begitu mendekati pintu kolam, Scot menggendongnya lalu melempar ke dalam kolam.
"Scoooot..."
***
15 menit tiba di sekolah, anak kelas tiga yang ikut bermain truth or dare bersama Sidney sudah diberi pelajaran seperti yang sudah dijanjikan oleh Paris.
Sekali ancaman keluar dari mulutnya, pasti akan dipenuhi. "Sekali lagi lo semua macam-macam dengan Sidney, gue habisi lo pada!"
Setelahnya bisa dipastikan akan ada anak yang melapor ke guru BP. Pada jam pelajaran pertama Paris harus kembali masuk ke ruang BP. Seperti sebelumnya Miss Tita yang bertugas menangani Paris
"Kenapa sih, Ris, kamu harus selalu adu kekuatan sama teman-teman mu? Kamu itu pelajar, kenapa hobi banget ribut sama teman?" ucap Miss Tita lembut.
"Maaf, Miss. Dia sudah ganggu adik saya."
"Scotland?"
Tita tahu kalau Sidney sudah dianggap keluarga Diraja sebagai anggota keluarga mereka, seperti yang dijelaskan Dipa saat itu.
Mengingat Dipa, entah mengapa Tita tiba-tiba Tita berdebar. Setelah beberapa hari lalu mereka bertemu untuk pertama kali di sekolah ini, kemarin Dipa menghubunginya, namun hanya menanyakan keadaan Paris, apakah anak itu kembali berbuat nakal, dan apakah dirinya perlu datang ke sekolah untuk bertemu Tita.
"Udah, Miss. Ini anak emang biangnya rusuh, pintar tapi udah kayak mafia aja tingkahnya. Panggil aja lagi orang tuanya," ucap pak Matondang yang kebetulan ada di ruang itu. Beruntung Paris tidak ditangkap pak Matondang saat memukul anak XII IPA 3 tadi.
Matondang memang punya dendam pribadi pada Paris. Dulu saat ada pertandingan karate antar sekolah, pas latihan, Pak Matondang yang juga jago karate dan menyandang sabuk hitam, secara khusus menantang Angkasa karena sikap tengilnya di sekolah. Saat itu Kasa yang masih sabuk biru menerima tantangan guru BP nya.
Pertandingan pun dilaksanakan. Saat itu jelas terlihat kalau pak Matondang ingin sekali menghajar Paris. Tapi teknik menguasai diri Paris sangat baik, dan ambisi Matondang berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Terlalu percaya diri hingga berkali-kali membuat kesalahan, dan akhirnya pertandingan dadakan itu dimenangkan oleh Paris.
Sejak saat itu, Matondang yang merasa dipermalukan di depan murid lain oleh Paris selalu mengincar kesalahannya agar bisa membawa Paris ke ruangannya untuk diadili.
"Tapi..." Tita ragu sesaat. Kalau sampai memanggil orang tua Paris, tapi yang datang justru pamannya, maka Tita tidak akan sanggup menguasai dirinya. Dia pasti terlihat semakin grogi dan terlihat bodoh di depan pria itu.
"Saya pikir itu gagasan yang bagus, Miss. Panggil saja," ucap Bi Ani mendukung pendapat Matondang.
"Kamu panggil orang tuamu ya. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas."
"Paris..." Langkahnya terhenti di ambang pintu gerbang belakang. Paris tidak ingin kembali ke kelas seperti perintah Miss Tita, dia memilih cabut lewat gerbang belakang sekolah yang entah mengapa tumben terbuka.
"Lo mau kemana? Gue gak akan izinkan lo pergi!" Seru Cici yang sudah menghadang Paris dengan berdiri diantara pintu gerbang.
"Apaan sih lo, Ci! Udah balik ke kelas," ucap Paris menarik tangan Cici tapi gadis itu bertahan dengan memegang pintu gerbang sekuat tenaga.
"Gue gak akan balik sebelum lo balik bareng gue. Lo baru aja kena sanksi ya, sekarang lo mau cabut lagi. Gue gak habis pikir sama lo, Ris. Ngapain sih lo ngebelain Sidney sampai segitu? berapa kali lo ribut hanya karena belain dia. Dan jangan pake alasan rasa persaudaraan, gue gak percaya!"
"Hak lo gak percaya, dan itu bukan urusan gue."
Paris mundur, lalu dengan satu pijakan di tembok sekolah, dia berhasil melompat ke luar.
Cici yang merasa tidak dihargai, kembali mengutuk dan melemparkan semua kesalahan pada Sidney.
***
"Apa, Lo kena skors lagi? Jadi om Elrick ke sekolah besok?" cercal Sidney duduk di hadapan Paris yang sedang bermain gitar.
"Ingat, Lo gak boleh ngomong sama bokap nyokap gue, kalau sampai mereka tahu gue ribut lagi, gue ikat lo di pohon ceri belakang," ancam Paris menatap Sidney. Tapi aneh, efeknya malah keduanya jadi terlihat canggung dan malu.
Buru-buru Paris membuang muka, tidak ingin wajahnya yang memerah sampai dilihat oleh Sidney.
"Ehem... Itu, kata anak-anak lo berantam karena belain gue ya? Sampai segitunya. Lo gak takut kalau orang lain menganggap lo itu suka sama gue?"
Astaga Sidney, bego lo dari mana lo punya pikiran buat ngomong kayak begitu sama Paris. Lo kepedean! Kalau lo gak bisa pintar banget jadi cewek, minimal jangan bego dong!
"Uhuk... Uhuk... " Paris bahkan sampai terbatuk mendengar pertanyaan nyeleneh Sidney.
"Gue? suka sama lo? Kalau iya, kenapa?"