
Dengan kemajuan teknologi saat ini, dan setelah mendapat pencerahan dari Luna, Meyra akhirnya bisa melacak keberadaan Elrick melalui ponselnya.
Setelah mendapatkan titik koordinat, Keempat wanita itu mendatangi tempat Elrick saat ini. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Elrick yang baru saja keluar dari studio bioskop bersama Raya.
"Apa? gak salah? Dia nonton bareng si Upik abu?" pekiknya.
"Siapa dia? lo kenal?" tanya Luna maju lebih dekat.
"Dia itu penjilat, kang laundry yang sudah cari perhatian sama Oma. Gila ya, apa Elrick salah minum obat apa diguna-guna hingga mau jalan sama itu cewek?" umpat Meyra kesal setengah mati.
"Gimana kalau kita labrak aja? biar dia tahu Elrick punya Lo, jangan main-main dengan Meyra putri," ucap Luna memanas-manasi Meyra.
"Saran gue sih, jangan. Nanti Elrick malah benci sama lo. Kalau lo mau melabrak dia, lebih baik pakai cara elegan, tidak terdeteksi," saran Gisel.
"Maksud lo?" tanya Meyra menaruh minat.
Setelah dibisikkan sesuatu, Meyra tersenyum tanda setuju dengan saran Gisel.
***
Sepanjang jalan pulang, keduanya diam, tidak mengatakan satu patah katapun. Elrick lebih parah, sepanjang jalan mengutuk dirinya, hanya ciuman seperti itu saja sudah buat dia lemah hingga tidak bisa berkata apapun. Padahal dia sudah pernah lebih jauh melakukan hal selain ciuman, tapi kenapa hanya bibir yang menempel tanpa sengaja saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang? Raya terlalu berharga jika dibandingkan dengan beberapa wanita yang pernah tidur dengannya. Ada lima orang gadis yang pernah tidur dengannya, tapi tidak satupun yang lebih berharga dan bisa buatnya bergairah selain bersama Raya.
"Sudah sampai," kalimat pertama yang diucapkan Raya setelah tiba di depan laundry. "Makasih ya, Mas," ucapnya mengembangkan senyum, tapi saat melihat ke arah bibir Elrick, Raya menunduk. Meremas sekuat tenaga jemarinya, penuh rasa gugup.
Suara Elrick tercekat, jadi dia hanya bisa mengangguk lemah.
Hingga mobil itu pergi, Raya masih berada di sana, sorot matanya mengikuti arah mobil hingga menghilang diujung jalan.
Hendak masuk, mulutnya sudah dibekap oleh tangan berlapis sapu tangan yang diberi obat bius. "Seret dia," perintah Meyra yang memberi komando dari dalam mobil.
Ini lah yang menjadi saran Gisel. Ingin menculik gadis itu dan memberi pelajaran padanya agar jangan mendekati Elrick.
Dengan dua orang suruhannya, Raya dibawa ke salah satu ruang kosong, yang ada di rumah Luna. Rumah itu kosong, karena kini gadis berambut ikal itu sudah tinggal di apartemen yang dia dapat dari sugar Daddy nya.
"Ikat dia," perintah Luna.
Meyra yang dalam skenario tidak berada di tempat penyekapan, dan hanya memantau dari cctv yang ada di ruangan lain, tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin, setelah ini Raya tidak akan berani lagi untuk mendekati Elrick.
Setelah diikat, Raya disiram dengan air es yang sudah dipersiapkan. Raya tersadar mengamati sekeliling. Ada tiga orang wanita berdiri di hadapannya dan dua orang pria yang sama sekali tidak dia kenal.
"Kau sudah bangun, Cinderella?" Luna si bar-bar maju lebih dulu.
"A-aku dimana? kalian siapa? kenapa bawa aku ke sini? kenapa aku diikat? lepaskan aku, Mbak. Aku kedinginan," ucapnya memelas. Dia merasa tidak punya masalah dengan orang-orang yang saat ini berdiri dengan tatapan jijik padanya, namun, mengapa dia di culik lagi kedua kalinya?
"Diam, dan dengarkan. Lo kita bawa ke sini, untuk memperingati lo untuk menjauh dari Elrick, dia gak pantas buat lo. Ngaca dong, lo siapa? gadis desa pembantu yang cuma nyuci pakaian kotor orang, lo itu setara sama babu, jadi gak pantas buat Elrick Diraja!" Maki Bunga.
"Tapi aku memang gak ada hubungannya dengan mas Elrick, Mbak. Tolong lepaskan aku," rengeknya mencoba melepas ikatan dipergelangan tangan yang sudah diikat di kursi.
"Diam. Lo kira kita pada gak tahu kalau lo habis nonton kan bareng Elrick? lo mikir gak sih, Lo itu gak pantas. Jadi, karena Lo udah berani mendekati Elrick, kita bakal hukum lo. Wajah lo yang gak seberapapun ini akan kita gores pakai cutter ini, gimana?" tanya Luna yang tidak hanya bar-bar tapi juga psycho.
"Jangan, Mbak. Aku janji, gak akan dekat dengan Mas Elrick lagi, lepaskan aku, Mbak..."
Setelah mendapat pesan dari Meyra di atas sana yang mengatakan kalau hukuman buat Raya sudah cukup, makan ketiganya pun bersiap mengakhiri pertunjukan.
"Gue pegang janji lo. Kalau sampai gue lihat lo nempel lagi sama Elrick, habis lo kita buat!" Ancam Luna dan segera berlalu dengan kedua sahabatnya.
*
*
*
Aku numpang promo novel ku yang lain, siapa tahu minat, bagi yang belum baca mampir ya.
Blurb:
*Satu Atap tiga hati.
Alana Adhinata, gadis 15 tahun. Duduk di sudut ruangan, menatap wanita cantik yang tengah di rias oleh team MUA sejak tiga jam lalu. Hari ini adalah hari bahagia kakak tersayangnya, Lily Adhinata. Dia akan menikah dengan pria yang sialnya sangat di benci oleh Alana karena sikap arogan dan dingin pria itu. Alasan kebencian itu hanya karena masalah sepele, namun berbekas di hati Alana.
Alana membenci Arundaya Dirgantara karena sudah merebut Lily dari hidupnya dengan cara menikahi wanita itu.
"Kau sempurna kak" Alana mencoba tegar untuk mengatakan itu, menahan air mata yang sudah mulai meremang di pelupuk mata.
Pernikahan itu harus nya terjadi satu tahun lalu, tapi karena Alana tidak setuju Lily menikah, dengan berat hati, Lily menolak lamaran Arun, pria yang sudah lama di pacarinya. Hal itu lah yang membuat Arun membenci Alana. Pria itu jelas tahu kedudukan Alana dalam keluarga itu, tapi berani sekali memutuskan Lily boleh menikah atau tidak.
Malam itu, saat akan pulang dari rumah Adhinata, dengan rasa kecewa di hatinya setelah penolakan itu, Arun menarik Alana yang kebetulan melintas di halaman rumah.
"Dasar gadis tidak tahu diri, egois. Demi kepentingan mu, kau membuang kebahagiaan Lily. Apa kau tahu, dia sangat ingin menikah dengan ku, itu membuatnya bahagia! Tapi kau dengan sifat kekanak-kanakan mu itu merusak segalanya. Aku membencimu, Alana!" setelahnya Arun berlalu meninggalkan Alana yang masih terkejut atas apa yang baru saja di lakukan Arun padanya.
Arun sangat mencintai Lilyana, sejak pertemuan pertama mereka di acara kampus, penyambutan mahasiswa baru waktu itu. Arun sebagai almamater kampus yang berprestasi di minta untuk memberikan kata sambutan dan motivasi untuk mahasiswa yang akan berjuang di kampus biru itu.
Sejak hari itu, Arun mendekati Lily. Gayung bersambut, Lily menerima Arun yang kala itu sudah menjadi CEO di perusahaan besar papanya, Wiga Dirgantara.
Pacaran selama empat tahun, meyakinkan Arun untuk melamar Lily. Orang tua Lily tentu saja sangat gembira mendapatkan calon mantu dari keluarga terpandang, sebesar Dirgantara.
Kegembiraan Santi dan Bima, orang tua Lily tidak bertahan lama. Impian mereka terhempas kala Lily menolak lamaran itu. Terlebih karena alasan yang tidak masuk akal, yaitu Alana tidak setuju. Hal itu membuat orang tua nya kecewa sekaligus marah atas keputusan Lily. Bahkan Santi semakin membenci putri tirinya itu.
"Dasar anak tidak tahu diri. Atas dasar apa kau merusak kebahagiaan kakak mu? kau iri ya? kau harus sadar kau siapa disini" salak Santi menyeret tangan Alana menjauh dari ruang tamu.
Cubitan Santi di lengan dan pinggangnya membuat Alana meringis kesakitan. Santi benar-benar habis kesabaran menghadapi anak tirinya ini. Ditatapnya wajah Alana penuh kebencian. "Kau adalah petaka dalam hidupku dan keluarga ku. Tidak bisa kah kau mati saja?" ucap nya dengan suara bergetar.
Setiap melihat wajah Alana, Santi akan dibawa mengingat peristiwa 15 tahun lalu. Malam yang akan dia ingat bahkan sampai ke liang kubur.
Malam itu, hujan gerimis menyapa tanah Jakarta. Santi baru tiba di Jakarta bersama Lily yang saat itu berusia 7 tahun. Mereka baru saja tiba setelah seminggu lamanya berada di Jogja mengurus nenek Lily yang sakit keras. Bima tidak bisa ikut dengan mereka karena pekerjaan dan juga menjalankan perusahaan yang baru saja mereka rintis.
Pintu gerbang yang tidak di kunci memudahkan mereka untuk masuk, begitu pun pintu yang lupa di kunci dari dalam. Lily yang saat itu sudah lelah, memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa saat memasuki ruang keluarga.
Dahi Santi berkerut. Rumah tampak begitu sepi, sementara sang suami yang biasa pada jam segini pasti sudah menikmati berita di televisi justru tidak tampak. Baru akan memanggil pelayannya, Santi mendengar suara sahut-sahutan dari dalam kamar Mira, pelayannya. Semakin penasaran Santi menempelkan telinganya di daun pintu, menguping sesaat untuk memastikan apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Jantung nya berdebar kencang, saat suara mendesah dan geraman hebat itu seperti suara suaminya. Santi masih menepis segala kemungkinan yang sudah mulai menjalar di pikirannya. Kakinya mulai lemas, tubuhnya bergetar saat pria itu bersuara.
"Kau begitu nikmat Mira, aku menyukai mu" erang nya meracu memuji lawan mainnya. Santi meremas pinggiran gaunnya. Dia tidak perlu bukti lagi untuk meyakinkan hatinya. Cukup mendorong pintu yang jadi penghalang antara dirinya dan dua orang yang sudah mengkhianati nya itu.
Dua kali menarik nafas, Santi menguatkan hatinya. Memberikan keberanian pada dirinya sendiri untuk mendorong daun pintu itu.
Brak!
Hempasan daun pintu yang membentur tembok membuat kedua manusia yang berbaring tanpa sehelai benang pun itu tersentak.
Bima buru-buru mendorong Mira dari atas tubuhnya hingga terpelanting di lantai. "San-ti.."
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Santi Mata nya penuh dendam menatap kedua manusia yang sudah berbuat dosa itu. Perlahan kakinya melangkah, berdiri tepat di hadapan Mira yang dengan kedua tangannya menutupi bagian atas tubuhnya. Wajah nya tampak sangat ketakutan saat bersitatap dengan Santi.
"Maaf kan saya nyonya" ucap Mira penuh rasa takut. Sujud di kaki Santi, berharap wanita itu akan memberikan belas kasih padanya.
Alih-alih mengampuni, Santi yang sudah di penuhi amarah, menjambak rambut Mira, menyeret wanita itu ke luar dari rumah. Saat tiba di halaman Santi memaki bahkan memukuli Mira.
"Wanita sundal, pel*cur, biad*b, tidak tahu diri. Kau menjijikkan" maki nya penuh emosi.
"Maaf kan saya nyonya. Tapi tuan yang memaksa saya. Hari pertama nyonya pergi, tuan memperk*sa saya. Maaf kan saya nyonya" ucap Mira masih sujud di kaki Santi.
Bima yang ikut melihat keluar setelah selesai memakai pakaian, membawakan satu selimut dan menutupi tubuh Mira.
"Dasar pria brengsek, kau malah menyentuhnya di depan ku" raung Santi.
"Aku minta maaf Santi. Aku salah. Aku menyesal" Bima berlutut dihadapan Santi.
"Kau menjijikan. Ceraikan aku sekarang juga"
"Tidak Santi, aku tidak akan menceraikan mu, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, demi Lily, demi perusahaan yang baru kita bangun"
"Lantas wanita ini?" Santi melirik jijik ke arah Mira yang masih tersungkur memohon maaf.
"Usir saja dia. Kita beri sejumlah uang biar dia tutup mulut. Kita bisa mulai lembaran baru. Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, aku bersumpah"
Hanya karena Lily, dan juga kehormatan keluarga nya Santi memaafkan Bima, walau bara itu masih akan selalu tersimpan dalam hati.