
Sudah bisa diduga Raya, kalau makan malam itu akan se-mencekam ini. Darma menikmati makan malamnya sendiri, tanpa bicara atau pun menoleh ke arah Elrick. Benar-benar fokus pada isi piringnya saja.
Bagi Elrick sendiri, baru kali ini dia canggung menghadapi lawan. Mati kutu seperti orang be*go.
"Makan ini. Kenapa hanya ikan itu saja kau santap. Kau tenang saja, ini semua halal!" ucap Darma menyodorkan piring berisi udang sambal merah.
Ingin menolak, tapi saat ini Darma sedang menatapnya. Harus bagaimana dia mengatakan pada Darma, dia tidak memakan makanan yang lain karena memang tidak bisa untuk memakannya, bukan karena takut makanan itu tidak halal. Ingin meminta pertolongan pada Raya, namun saat ini gadis itu sedang menggoreng kerupuk udang atas suruhan Darma.
"Ayo, dimakan. Kenapa diam saja? atau kau takut ini ada racunnya?"
Tidak ingin mendebat, Elrick hanya mengangguk, lalu menarik piring berisi udah gala besar. Kesal karena ucapan Darma yang seolah memojokkannya, Elrick menyendokkan tiga kali sambal udang itu.
Keringat mulai muncul di keningnya saat mulai mengunyah suapan pertama. Darma masih tetap sama memandang Elrick yang sedang makan, seolah sedang mengawasi anak kecil makan, takut makanannya akan dibuang jika tidak dipantau.
Elrick menerima tantangan Darma. Duel ini harus dia menangkan. Di depan mata Darma, Elrick menyendok kembali dua kali lagi ke piring nya terus makan seolah menikmati hidangan itu, padahal keringat sudah membasahi kening dan juga tubuhnya. Dia sudah tidak tahan lagi, tapi demi harga dirinya, dia terus memasukkan makanan itu ke mulutnya. Terbakar sudah mulut lidah dan juga tubuh Elrick.
Darma yang mengamati mulai menyadari kalau ternyata Elrick tidak tahan makan makanan yang pedas.
"Ini kerupuknya, ayah..." Raya meletakkan di atas meja lalu duduk di bangku yang semula dia tempati. Sadar akan piring berisi udang sambal pedas itu ada di hadapan Elrick, lalu lanjut ke piring pria itu, ke atas menatap wajahnya dan mendapati wajah Elrick yang sudah memerah menahan pedas.
"Ya Allah, Mas makan udang pedas ini? Mas kan gak bisa makan pedas, kenapa dimakan?" pekik Raya bangkit dan bergegas ke dapur. Tidak selang berapa lama, dia keluar membawa gelas berisi susu putih. "Minum ini, Mas."
Elrick segera mengambil dan menghabiskan susu itu sekali teguk. Lalu mengambil tisu yang ditawarkan Raya padanya.
"Gimana, Mas? masih pedas?"
Masih pedas? bibir gue udah mati rasa. Bokap lo emang keterlaluan. Awas aja kalau perut gue sampe bocor gara-gara nih cabe. Lihat aja, nanti gue balas bokap lo. Apa gue nikahi aja anaknya, ya? Eh... dih, apaan sih isi otak gue. Ini pasti karena gue kebanyakan makan cabe.
Darma sendiri tersenyum, lalu kembali menghabiskan makanannya.
Selesai acara makan malam yang mengerikan bagi Elrick itu, pria itu pun pamit pulang. "Kau jangan kembali lagi, Raya tidak akan saya izinkan kembali denganmu."
Untuk membalas rasa kesalnya pada pria itu, ingin sekali Elrick menunda kepulangannya besok, terus muncul dihadapan mereka biar Darma muak sekalian. Tapi dia perlu mengatur langkahnya. Dia tidak ingin pertikaian dan rasa benci muncul di hati Raya karena melawan keputusan ayahnya.
"Baiklah, Om. Aku pamit. Besok aku akan kembali ke Jakarta. Tapi Minggu depan, kalau Raya masih tidak kembali, saya aku akan datang lagi," ucap Elrick menatap berani pada Darma. Raya yang diam diantara kedua pria itu melirik Elrick dengan ekor matanya. Pipinya bersemu merah. Kalau ada yang mendengar, orang pasti akan salah paham terhadap ucapan Elrick, dikira pria itu mempertahankan Raya karena ada rasa, padahal karena untuk kepentingan Omanya. Kalau bukan karena Oma, dia tidak mungkin jauh-jauh datang menjemputnya.
Darma kembali masuk setelah menerima uluran tangan Elrick. Hanya Raya sendiri yang mengantarnya hingga ke depan pagar. "Maafkan ayahku, ya Mas."
"Aku... maksudku Oma sangat berharap kau bisa ikut pulang dengan ku."
***
"Dia cucu seorang nenek yang sangat baik padaku. Oma selalu menganggap ku seperti cucunya."
"Dan kau? apakah kau menyukainya? ada hubungan apa diantara kalian?" desak Darma ingin tahu lebih banyak hubungan mereka.
"Hah? kamu gak punya hubungan apa-apa, Yah. Malah Mas Elrick itu udah punya tunangan," terang Raya pelan. Kenapa seperti tidak nyaman mengatakan hal itu.
"Baguslah. Karena ayah tidak akan menerima menantu seperti itu!"
***
"Jadi kau pulang dengan tangan kosong? Membawa Raya pulang saja kau tidak mampu?" hardik Nani.
Elrick hanya diam. Memilih menjadi sasaran amarah neneknya. Sebenarnya bukan dia tidak ingin bertahan di sana, tapi jika dia terlalu memaksa, ayahnya akan semakin membenci Elrick. Entah berasal dari mana pertimbangan itu, tapi Elrick tidak ingin menanam kebencian yang lebih di hati Darma.
Melihat Elrick yang menjadi samsak makian Omanya, Dipa yang juga tepat baru pulang dari luar negeri, tertawa mengejek ke arah Elrick.
"Biar aku saja, Oma yang jemput Raya. Tentu saja orang tua itu sangat peka, dia tidak mungkin menyetujui anak gadisnya pergi dengan ketua penyamun!" ucap Dipa memprovokasi. Kegembiraan yang hakiki buatnya adalah saat Elrick merasa dirinya sangat tidak berguna. Serasa dirinya satu langkah lebih baik.
"Tidak. Oma tidak ingin gagal lagi membawa Raya. Biar Oma ke sana. Sekalian Oma ingin bicarakan keinginan Oma, mengangkat Raya menjadi cucu Oma."
"Aku tidak setuju!"
"Aku tidak setuju!"
Kembali keduanya kompak menjawab. Akan menjadi hal aneh kalau sampai Raya menjadi anggota keluarga mereka. Keduanya punya kepentingan yang berbeda.
Kalau Dipa jelas karena menyukai Raya. Apalagi saat ini status Raya sudah jelas, bukan istri siapa pun. Dia tida akan mempersoalkan Raya yang sudah tidak gadis lagi. Dia tulus menyukai Raya. Oke, mungkin karena bermula dari rasa kasihan dan simpati, lalu muncul rasa ingin melindungi. Namun, kini berubah menjadi rasa suka dan ingin memiliki.
Berbeda dengan Elrick. Walau mungkin saat ini dalam hatinya tidak ada rasa suka atau ingin memiliki Raya, tapi tidak mungkinkan mereka menjadi keluarga, abang adik, sementara Elrick sudah pernah meniduri... Raya.
"Kalau urusan membantah Oma kalian bisa kompak seperti itu, ya. Tapi Oma tidak peduli. Oma tidak membutuhkan persetujuan kalian. Besok, Oma akan berangkat. Dipa, kau mau ikut, kan? baiklah. Temani Oma besok!"
Elrick sudah pusing dengan kenyataan yang dihadapkan padanya saat ini, jadi dia tidak peduli dengan rencana Omanya berangkat ke desa Mekar. Yang harus dia pikirkan, bagaimana cara memberitahukan insiden masa lalu itu pada Oma dan Raya, jika memang benar neneknya berniat menjadikan Raya keluarga mereka.
Jujur, hal itulah yang buat dia tidak bisa lepas dari bayangan tubuh Raya. Bahkan dia memilih berpetualang dengan banyak kekasih, berharap bisa melupakan malam yang dia kutuk, tapi merupakan malam terbaik selama sejarah hidupnya bercinta dengan wanita. Permainan mereka malam itu, membuat tubuh Elrick merindukan rasa yang dia dapat malam itu, yang dia cari pada banyak gadis, namun tidak kunjung dia dapat. Mungkin memang hanya Raya yang bisa memberikan padanya.