Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 2


SMA Bhineka adalah salah satu SMA favorit yang terkenal karena menghasilkan siswa berkualitas. Didukung fasilitas lengkap nan mewah, sekolah ini menjadi incaran siswa dari kelas atas. Jadi wajar jika untuk masuk sekolah sangat sulit. Selain harus punya uang banyak, jalur beasiswa adalah salah satu jalan untuk bisa bersekolah di tempat ini.


"Gue bilang juga apa, telat kan kita," ucap Sidney membuka pintu mobil. Segera berlari, yang disusul oleh Scot masuk dalam barisan anak yang juga terlambat namun masih dibukakan gerbang sekolah.


Siswa yang terlambat disuruh berbaris, meletakkan kedua tangan di bahu siswa yang ada didepannya, lalu berjalan memasuki lapangan tempat seluruh penghuni sekolah mengadakan upacara bendera.


"Mati kita," cicit Sidney mencubit bahu Scot. Ini semua salah pria itu. Sidney sudah berulang kali mengingatkan kalau mereka harus berangkat lebih pagi. Sabtu kemarin adalah hari terakhir mereka MOS, jadi Sidney tidak ingin di hari pertama dia sah menjadi murid SMA, dia harus terlambat.


"Lo tenang aja, Sid. Ada Paris," ucapnya pelan sembari melepas senyum. Scot yang punya pemikiran polos selalu beranggapan semua akan baik-baik saja, semua masalah akan ada jalan keluarnya.


"Apa lo pikir Abang lo itu anak pak Jokowi?" umpat Sidney kesal.


"Bisa gak lo gak usah bawa-bawa nama pak Jokowi, apa lo gak tahu beliau lagi sibuk ngurus negara ini."


Sidney tidak menjawab. Rasa kesalnya cukup dia balaskan dengan cubitan yang semakin kuat.


"Auuuo... Dasar nenek lampir, Lo! Sakit, bego!"


Mereka ada 16 orang, dikumpulkan dalam satu barisan dan disisihkan, sedikit menjauh dari barisan peserta upacara. Setelah setengah jam berlalu, upacara selesai. Para guru yang ikut, kembali ke ruangan mereka begitu juga tata usaha. Tinggallah guru BP yang maju ke depan podium.


Semua anak yang terlambat juga dimintanya untuk berbaris di belakangnya.


"Ini adalah contoh siswa yang buruk. Tidak disiplin, jadi jangan diikuti. Kalian mengerti?" ucap pak Matondang, guru galak yang dijuluki Saddam Hussein karena memiliki rambut keriting, kulit gelap dan kumis yang tebal.


"Mengerti, Paaaaak..." sahut seluruh siswa serentak dan panjang. Lalu mereka dibubarkan, tinggallah 16 siswa yang terlambat.


Wejangan sudah diberikan, dan ini peringatan bagi mereka, jika terlambat lagi, maka ketua dewan orang tua akan memanggil orang tua yang bersangkutan, agar diminta mengurus anaknya di rumah saja, alias di skors.


"Gue bilang juga apa, semua baik-baik aja, kan? Lo nya aja yang panikan." Scot menyampirkan lengannya di bahu Sidney berjalan beriringan dengan sahabat baiknya sejak dari masa kandungan.


"Tetap aja gue masih marah sama lo. Malu tahu, dilihatin semua siswa. Lo gak lihat sih gimana senyum Agnes ngelihat gue."


"Udah, lupakan gadis cantik berotak udang itu. Biar mood lo balik, pulang sekolah gue traktir nonton, makan es krim, gimana?"


Aturan nomor sepuluh, kalau bestie mu sudah minta maaf dengan tampang imut dan juga sogokan es krim, maka wajib dimaafkan.


Senyum Sidney mengembang, dan tepat saat keduanya tiba di depan kelas mereka. "Gimana rasanya dijemur? satu jam pelajaran lagi," ejek Agnes seperti yang diprediksi Sidney.


Kalau soal mengontrol emosi dan menyembunyikan perasaan, Sidney juaranya. Jadi walaupun kesal pada Agnes saat ini dan ingin sekali menonjok wajah gadis itu, dia masih bisa menahan, bahkan menyunggingkan senyum manisnya.


"Dokter bilang, sinar UV bagus untuk tulang. Jadi ya, hitung-hitung berjemur. Malah kurang lama deh kayaknya," timpalnya menaikkan kedua alisnya, tersenyum mengejek lalu pergi ke bangkunya.


***


Kantin seperti biasa akan padat setiap jam istirahat. Sekolah itu memiliki tiga kantin, tapi hanya ini kantin sehat yang menunya kalau Scot bilang hampir sama dengan menu rumah sakit.


"Kenapa kita gak ke kantin gedung B, sih?" tanya Sidney yang tidak menyukai makan di sana. Kebanyakan yang makan di kantin gedung A hanya pada juara kelas, kutu buku dan orang-orang pilihan di sekolah itu. Atau setidaknya orang yang beranggapan seperti itu atas dirinya.


"Ada gebetan gue. Noh," tunjuk Scot ke arah jarum jam 12. Sidney ikut menoleh dan hanya tersenyum.


"Gue patah hati," ucapnya seolah menghapus air mata dengan seragam Sidney.


"Dih. Udah deh. Gak usah lebay. Ini urusan perut gue gimana?" ucap Sidney.


"Kemon beibey, kita jajan di kantin B." Scot menarik Sidney, berjalan menuju kantin dengan tetap menggandeng Sidney.


"Lo berdua pacaran? lo adiknya Paris, kan?" Tanya senior mereka yang menatap aneh kedua sahabat itu.


"Kita bestie kental, kak. Kita bahkan udah kayak sibling," terang Scot yang baru saja dihidangkan bakso pesanannya.


"Memangnya ada gitu cowok cewek temenan?"


"Kita."


"Kita."


Kedua orang itu menjawab serentak sembari tos dihadapan para senior mereka. Dari kejauhan, terlihat Paris yang berjalan dengan digandeng seorang gadis cantik seperti Barbie. Bahkan Sidney sendiri begitu terpukau melihat kecantikan gadis itu.


"Hai, ini adik kamu kan, Babe?" ucap Cici, cewek yang paling terkenal di sekolahan karena kecantikannya. Bunga dan kebanggaan SMA Bhineka. Cewek yang paling top, dan hanya Paris yang bisa mendapatkannya.


Paris tidak menjawab, dengan wajah dingin dan arogannya hanya menaikkan satu alisnya dan kembali menatap ke depan. Scot yang juga tersihir oleh kecantikan Cici mengangguk cepat, mewakili Paris memberikan jawaban.


"Kalau ini?" susul Cici merujuk pada Sidney.


"Dia..." Scot menyampirkan kembali lengannya. "Adalah bestie ku, my twins dan orang yang paling aku dan bang Paris sayangi," terang Scot.


"Hai, Kak..." Sapa Sidney dengan tampang bloon. Dia sangat mengagumi Cici karena saat MOS kemarin, Cici banyak menolongnya. Tapi mungkin gadis itu sudah lupa pada Sidney hingga menanyakan siapa dirinya.


Seluruh siswa kelas X sudah tahu kalau mereka adalah sahabat kental. Awalnya mereka juga mengira kalau kedua anak itu pacaran, tapi setelah dijelaskan, kini semua tahu kalau Scot adalah bayangan Sidney. Dimana ada Scot, di situ ada Sidney dan sebaliknya.


"Kamu cantik deh," puji Cici yang membuat wajah Sidney memerah. Paris melirik ke arahnya, mengulum senyum sekilas lalu beralih membuang muka.


Jam istirahat sudah usai, lagu Cannon D menjadi pertanda semua siswa harus kembali ke dalam kelas.


Scot lebih dulu berjalan, berbicara dengan teman Cici yang juga sangat cantik-cantik hingga Sidney berjalan di belakang mereka.


"Jadi ini, gadis kesayangan keluarga Diraja?" ucap Seorang siswa pria yang tubuhnya tinggi besar dan sejujurnya wajahnya cukup tampan. Pria itu tanpa merasa bersalah menepuk bo*kong Sidney hingga gadis itu memekik kaget.


Scot dan semua anak di sekitar itu menoleh ke arahnya begitu pun Paris. Steve yang baru membuat kehebohan itu hanya tertawa puas penuh kemenangan. Dia tahu betul cara memancing emosi Paris.


Benar saja, Paris segera maju, mendaratkan satu pukulan di wajah Steve penuh dendam. Memukul hingga Steve telentang di lantai dan tubuh Paris berada di atas perutnya. Terus memukul wajahnya hingga hidung Steve mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


Pak Matondang datang, melerai dan meminta dengan tegas, Paris, Steve dan juga Sidney masuk ke ruang BP.


"Kalian bertiga, ikut bapak!"