Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 22


Keadaan Nani belum juga membaik, hingga Raya masih harus di sana bersama Elrick. Tita dan Dipa juga berada di sana, langsung dari Jepang, saat akhirnya Elrick harus mengatakan pada mereka.


"Kenapa baru kasih tahu kami sekarang?" Protes Dipa saat tiba di Singapura.


"Permintaan Oma. Dia gak mau acara bulan madu kalian rusak gara-gara Oma masuk rumah sakit."


Dipa hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Oma memang selalu begitu, tidak ingin menyusahkan orang lain.


Jadilah kedua pasangan suami istri itu menjaga Nani di sana.


"Mama dan Papa belum bisa pulang katanya," ucap Scot yang baru saja berbicara dengan Raya. "Bang, kita ke sana ya Sabtu ini?"


Scot yang sejak tadi mengganggu Paris di kamarnya mencoba meminta perhatian pria itu yang masih fokus pada laptopnya.


"Bang, lo dengar gak?"


"Berisik, Lo!"


"Gue kangen Oma. Perasaan gue gak tenang. Lagi pula, papa udah izinin kok. Bang... Kalau lo gak mau, ya udah kita berdua aja yang ke sana."


Mendengar kata berdua, gerakan tangan Paris terhenti. "Bocah ini mau bawa cewek gue ke sana?" Batinnya memutar kursinya menghadap Scot.


"Ya udah, Sabtu kita ke sana."


***


"Kenapa sih lo, kayak udah mau makan orang aja? Lo kenapa lihatin kak Cici kayak gitu?" Tanya Scot yang sudah duduk di kantin bersama Sidney. Mereka baru tiba karena pak Hotman, guru matematika itu masih saja mengajar walau bel sudah berbunyi. "Woi, setan, dengar, gak? Kenapa sih lo? Kesambet?" Scot kembali menggoyangkan tubuh Sidney yang masih menatap tajam ke arah gerombolan Cici yang menempel pada Paris.


"Gak papa," sahutnya ketus. Sidney ingin sekali mendatangi meja itu, menjambak Cici karena sudah berani membelai rambut Paris. Parahnya, pria itu tampak diam, bergeming atas tindakan Cici padanya. Paris yang membelakangi Sidney jelas tidak tahu kalau Sidney sekarang sedang memasang wajah pembunuh.


Seseorang tampak menyikut Cici memberi kode padanya, tidak lama Cici menoleh ke arah mereka.


Scot yang tidak tahu apa-apa justru melambai melihat para seniornya yang terkenal dan tentu saja cantik itu melihat ke arah mereka.


"Sini..." ucap Cici melambai pada mereka berdua.


"Ke sana yuk?" ajak Scot.


"Gak. Gue malas."


"Lo kenapa, sih? kok bad mood banget dari tadi?"


"Gak papa. Kalau lo mau ke sana, ya udah. Gue di sini aja, tuh Agnes datang," ucap Sidney yang kini sudah mulai akrab dengan geng Agnes.


"Dari pada lo temenan sama nenek sihir itu, kita ke sana aja."


Scot sudah menarik tangannya hingga tidak bisa mengelak lagi. Satu kursi panjang sudah disediakan untuk mereka berdua, tapi Sidney masih enggan untuk duduk.


Cici sudah tahu kedekatan Paris dengan Sidney. Dua hari lalu, saat keduanya jalan-jalan dengan tangan bergandengan, tanpa sengaja Cici melihatnya.


Saat Paris mengatakan putus dengannya, Paris memang tidak menyebutkan alasan karena sudah menyukai gadis lain, apalagi menyebutkan nama. Tapi setelah melihat kemesraan keduanya, barulah Cici paham, Sidney lah alasan mereka putus.


Keadaan itu dia manfaatkan dengan tetap berpura-pura seolah masih menjalin hubungan dengan Paris. Melihat mereka tidak mengumumkan hubungan mereka, Cici tebak, ada hal yang mereka jaga hingga takut orang-orang tahu.


"Duduk Sid," ucap Cici tersenyum.


Paris masih tidak mendengar karena telinganya masih ditutupi oleh headset super bass. Sementara fokusnya sedang sibuk dengan game yang dia mainkan di ponselnya.


"Duduk, Nyet. Ngapain lo berdiri aja?" Scot menarik tangan Sidney hingga gadis itu terduduk.


Sudah terlanjur datang ke meja itu, Sidney yang kesal karena Paris masih tidak menggubris meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Scot sempat melirik, lalu kembali cuek. Paris yang mengenali ponsel milik Sidney, melirik ke depannya dan terkejut melihat gadis itu ada di sana dengan wajah tampak tidak senang.


"Ini den, pesanannya. Mi ayam bakso," ucap Mang Jajang meletakkan dua mangkok di depan Sidney dan Scot.


"Makasih, Mang," Balas Scot yang bersemangat menyantap makanannya. "Lo gak makan bang?"


Paris sama sekali mempedulikan pertanyaan Scot, dia masih menatap Sidney yang kini tidak sudi untuk melihat ke arahnya lagi.


"Ris, nanti jadikan kita pergi?" Tanya Cici menyentuh pipi Paris yang dengan cepat ditepis Paris. Tatapannya tidak lepas dari Sidney yang jelas sangat marah padanya.


Sidney yang mendengar hal itu tentu saja semakin terbakar. Dia bahkan ingin sekali menyiram wajah Cici dengan kuah mi ayamnya.


Sidney yang sempat melihat gerakan tangan Cici pada Paris, tanpa sadar melirik ke arah Paris dengan tatapan tajam, lalu sadar akan posisinya, Sidney malah mengambil tempat cabe, menuang beberapa sendok hingga mi ayam itu sudah berubah jadi lautan cabe.


"Sid, lo gak salah. Itu namanya lo makan cabe dikasih mi ayam, bukan sebaliknya. Lagian lo gak kuat makan pedas, Nyet. Udah cukup." Scot mengambil tempat cabai nya hingga Sidney tersadar. Cici yang melihat itu hanya bisa mengulum senyum kemenangan.


Mampus lo kan. Makan tuh cemburu. Lo udah berani ganggu hubungan gue sama Paris, jangan harap lo bisa tenang.


Sidney menatap mangkok mi ayamnya yang dipenuhi cabe rawit giling yang pastinya sangat pedas. Dia bingung harus apa, kalau tetap melanjutkan makan, bisa mampus perutnya moncor. kalau gak dimakan, orang-orang akan curiga dia sedang marah.


Jadi, demi menjaga harga dirinya, dia memilih untuk melanjutkan menyantap mi ayam itu.


"Mang, mi ayam satu," ucap Paris membuka headsetnya, dan meletakkan di atas meja. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia menarik mangkok milik Sidney, lalu memakan mi ayam itu. Semua mata melotot, begitu pun Scot. Sidney yang melihat hal itu justru ingin menangis. Perasaannya campur aduk gak jelas.


"Lo makan yang itu aja. Gue udah lapar banget. Sorry punya lo gue embat," ujarnya melanjutkan memakan mi ayamnya.


Sidney tahu Paris melakukan hal itu untuk menyelamatkan dirinya, agar perutnya tidak sakit. Padahal, Paris sendiri juga tidak bisa makan makanan yang pedas karena punya penyakit maag.


Sidney dalam diamnya memperhatikan Paris yang terus melahap hingga habis. Setelah mangkok kosong, dia berdiri mengambil barang-barangnya dan mengajak kedua sahabatnya yang ada di sana bersamanya untuk pergi tanpa mengatakan hal apapun juga.


"Mang, ini buat bayar semua makanan di meja itu," ucapnya saat tiba di gerobak mang Jajang, dan menyerahkan dua lembar uang merah.


"Ini kebanyakan, Den."


"Buat jajan anak Mang Jajang."


Sidney hanya bisa memandangi punggung pria yang sangat dia cintai itu menjauh. Dia ingin marah, tapi rasa cintanya lebih besar. Lagi pula, dia yang salah karena tidak mau jujur pada Scot.


"Scot, ada yang ingin gue omongin sama lo!"