Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 79


Penghulu sudah memegang tangan Dipa, bersiap mengambil sumpah Dipa. Raya masih terus terisak, masih tidak rela menerima pernikahan ini.


"Baiklah, kita mulai saja," ucap pak Penghulu akhirnya bisa bernapas lega. Sudah hampir tiga jam dia menunggu, kalau bukan karena memandang keluarga Diraja yang mengundangnya, maka dia pasti sudah pulang dua jam lalu.


Dipa menerima uluran tangan penghulu, untuk mengucap sumpah. Tangisan Raya yang semakin kencang, mengganggu pak penghulu, yang merasa gadis itu terpaksa melangsungkan pernikahan ini.


"Apakah pernikahan ini adalah sebuah paksaan bagi mempelai wanita?" tanya pak penghulu yang tidak akan mau menikahkan orang yang dipaksa.


"Tidak ada yang terpaksa pak penghulu. Saya adalah ayah kandung mempelai wanita dan saya setuju menikahkan putri saya dengan Dipa. Tangis putriku hanya tangis haru, jadi silakan dilanjutkan," ucap Darma mengunci tatapan pada Raya.


Gadis itu sungguh tertekan. Dalam hatinya entah mengapa masih terus berharap Elrick akan datang menyelamatkannya. Dia sungguh mencintai pria itu, dan bisa dikatakan Elrick lah pria pertama yang dia cintai. Rasa yang belum pernah dia rasakan dari pria manapun, walaupun dari mantan suaminya, Dika.


Dipa akan mengucapkan sumpahnya, namun bibirnya kaku untuk memulai karena dibawah sana, Raya menarik-narik ujung baju koko nya sembari berbisik, "Aku mohon Dipa, jangan lakukan ini padaku."


Tubuh Dipa menegang. Apa yang harus dia lakukan. Satu langkah lagi, Raya akan menjadi miliknya, tapi tangisan gadis itu serta kepedihannya saat memohon, sungguh membuat Dipa tidak berdaya. Dia tidak bisa egois, demi kepentingannya sendiri mengabaikan kepedihan di mata Raya.


"Dipa, ayo..," ucap Oma menyentuh pundak pria itu. Ada kesedihan juga tergambar di mata Nani, harusnya baju koko itu dipakai Elrick, tapi kini justru harus diserahkan pada Dipa.


"Dipa, ayo lakukan. Apa yang kau tunggu?" hardik Darma yang membuat pria itu semakin bimbang.


Kembali Darma mengambil posisi. Memegang tangan Dipa, mengucapkan kalimat yang menjadi tanggungjawab nya.


"Ya, Adipati Ramadhan, saya nikahkan putri kandung saya, Rayana Hasianna kepada Ananda, dengan mas kawin mas seberat satu ton emas beserta mobil, villa dan juga tanah serta seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Semua orang yang menyaksikan menunggu tanggapan serta jawaban Dipa. Tapi pria itu semakin bimbang, karena Raya sudah meremas kembali ujung bajunya, menarik-narik memohon untuk tidak melanjutkan ijab qobul itu. Diliriknya wajah Raya yang bersimbah air mata, dan semua itu buat Dipa tidak kuasa. Dia rela melepas kebahagiaan demi menghentikan air mata Raya.


"Dipa," bisik Nani.


"Maaf, Om. Saya tidak bisa melanjutkannya."


"Apa yang kau katakan? jangan buat malu Oma, kau Dipa!"


***


Raya masih menangis tersedu-sedu. Bahkan Nana tidak diizinkan Darma menemani di kamar. Tidak ada yang bisa mengukur setinggi apa amarah Darma saat ini. Hampir saja dia memukul Dipa karena sudah mempermainkan Darma. Dia sendiri yang meminta untuk menikahi Raya, tapi dia juga yang membatalkan di tengah jalan.


Penuh amarah, tanpa memperdulikan Nani yang memohon untuk tinggal, Darma menyeret Raya untuk pulang meninggalkan rumah Diraja.


"Kau akan ikut ayah pulang ke kampung. Selamanya tinggal di sana. Jika kau memang memiliki jodoh, maka kau hanya akan menikah dengan pria di desa, dan itu pun yang ayah pilih!"


"Aku gak mau ayah. Aku mohon, izinkan aku di sini. Aku gak mau pulang ke desa," ucap Raya sebelum Darma mengunci pintu dari luar.


"Kau tahu betul, ayah tidak akan menyetujuinya!"


***


Persekian detik, umpatan keluar dari mulut Elrick. Kalau tidak dibangunkan Bagas yang menyerobot masuk, membongkar pintu dengan bantuan teknisi apartemen, Elrick pasti masih tergeletak di tempat tidur hingga besok pagi.


"Bos, bangun Bos. Kenapa anda bisa sampai seperti ini?" tanya Bagas yang sudah menciumi ada yang tidak beres. Dia curiga kalau Elrick dalam bahaya dan ternyata benar.


"Gas... Apa yang terjadi? kenapa kepala ku terasa sakit?"


"Bos gak ingat apapun? hari ini seharusnya bos menikah, semua orang menunggu kehadiran anda," ujar Bagas memerintahkan dokter yang dia bawa untuk memberikan obat penetralisir pada Elrick.


Ingatannya muncul. Diliriknya jarum jam di dinding kamar. Benar. Dia seharusnya sudah menikah empat jam lalu. "Ya Tuhan.... Bagas, bantu aku bersiap, aku harus menikah dengan Raya hari ini juga."


"Bos..." Bagas menyodorkan ponselnya, menghentikan langkah Elrick yang ingin menuju ruang gantinya. Dengan tangan gemetar, Elrick menerima ponsel Bagas, melihat pada layar foto Dipa dan Raya yang berada didepan Darma yang akan menikahkan Raya dengan Dipa.


Prank!


Ponsel itu hancur berkeping-keping setelah dilemparkan Elrick ke dinding kamarnya.


"Sialan! gue akan bunuh dia. Bajingan lo Dipa, di saat gue gak ada lo mengambil kesempatan buat mendapatkan Raya! Jangan harap lo bisa miliki dia!" seru Elrick murka.


"Lo segera tangkap Meyra sama semua teman-temannya. Gue bakal habisi para rubah betina itu!"


"Kenapa dengan mereka, Bos?"


"Meyra lah yang sudah membius gue. Karena terlalu lelah tidak tidur berhari-hari buat gue gak mawas diri, sampai bisa dibius mereka. Tangkap dan siksa mereka!" ucap Elrick kesetanan. Dia benar-benar murka, membayangkan Dipa menyentuh Raya membuatnya semakin gila.


Kalau ada perlombaan moto GP, pasti Elrick bisa menjadi pesertanya saat ini. Dia hampir menerbangkan mobilnya menuju rumah Omanya.


Suasana terlihat hening, karena memang semua tamu undangan sudah pulang. Oma dengan berat hati, meminta maaf dan mempersilakan mereka untuk pulang.


Elrick masih melihat berbagai hiasan dan dekorasi ruangan yang masih belum dibenahi para pelayan. Dia juga melirik meja yang seharusnya tempatnya mengucap janji suci dengan Raya. Benarkah tidak ada lagi kesempatan untuknya bersama Raya?


"Raya..." desisnya mengepal tinjunya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk, dan saat dia berbalik, satu pukulan menghantam wajahnya dengan keras. Sudut bibirnya berdarah, dan dia berusaha untuk bangkit.


"Cuih...!" Elrick membuang ludahnya yang sudah bercampur tetasan darah segar.


"Bajingan!" umpatnya penuh amarah, dan melepaskan satu pukulan keras ke arah Dipa. "Gue habisi lo," ucapnya memukul dengan membabi buta. Dipa tidak mau ketinggalan, dia pun ingin melampiaskan amarahnya dan kekesalannya pada Elrick yang sudah membuat Raya bersedih dan dipermalukan.


"Sini, lo. Dasar brengsek, t*ai emang lo, cuih! pengecut, bajingan, gue mampusin lo!" balas Dipa membalas lebih keras lagi.


Saat Elrick akan membalas pukulan Dipa, segera Dipa mengangkat tangan menghentikan gerakan Elrick. "Tunggu, kita jangan duel di sini. Lihat lo para pelayan ketakutan. Kita pindah ke taman samping aja," ucap Dipa melangkah menuju taman yang dia yakini akan diikuti Elrick dan kembali saling bunuh.