
“Jika begitu, bersiap-siaplah malam ini,” ucap Xiu Bai sambil melirik ke arah yang lain. “Sama seperti kalian, ikutlah bersiap-siap untuk mengantisifasi jika musuh menyadari kita telah mengetahui penyusupan mereka, dan sebisa mungkin untuk melakukan aktipitas seperti biasanya.” Sambung Xiu Bai.
Tap tap..!!
Xiu Bai, para bawahannya dan semua anggota keluarganya pun langsung berpisah untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
***
Pagi harinya.
Di ruangan tempat Ibu, Istri dan para wanita berkumpul.
Terlihat Xiu Bai, Bai Han, Bai Chu Ye kini berkumpul bersama.
“Ingat untuk jangan bertindak gegabah sayang.”
Terdengar suara dari Ling Chu Jia yang memeluk putranya Bai Chu Ye.
Bai Chu Ye pun mengangguk dan terlihat mengeratkan pelukannya.
“Hemm..!! Ibu jangan khawatir, Ye'er pasti akan berhati-hati, dan juga Ye'er bersama paman Diyu serta paman Wuhan, mereka sangat kuat. Jadi mereka pasti bisa melindungi Ye'er,” ucap Bai Chu Ye terdengar dengan nada lemah lembut.
Tap tap..!!
Entah sejak kapan Ren Jiang dan Dewi Fuzhi telah melahirkan, namun kini terlihat kedua istri Bai Chu Ye sedang menggendong bayi berumur kurang dari 2 bulan.
Melihat kedua putranya yang sangat mirip dengan dirinya. Bai Chu Ye pun melepaskan pelukannya dan langsung mengulurkan kedua tangannya.
Sontak Ren Jiang dan Dewi Fuzhi langsung memberikan Bai Ren dan Bai Zhi An kepada ayah mereka.
Tap..!!
Terlihat senyuman hangat Bai Chu Ye perlihatkan setelah ia memeluk kedua putranya yang kini sedang tertidur lelap.
“Ren'er, Zhi'er, setelah semua masalah ini selesai, ayah janji akan selalu bersama kalian,” bisik Bai Chu Ye sambil tersenyum bahagia.
Setelah bicara dengan kedua putranya, Bai Chu Ye mengarahkan pandangannya ke arah Yinyin.
“Kesinilah, jangan malu atau merasa rendah diri,” ucap Bai Chu Ye.
Yinyin yang terlihat berdiri di belakang Ren Jiang dan Dewi Fuzhi, hanya bisa menundukkan kepalanya malu.
“Ayo,, jangan malu, peluklah Gege,” ucap Ren Jiang dan Dewi Fuzhi terlihat menarik Yinyin dan mendorongnya maju.
Yinyin pun dengan wajah menunduk melangkah.
Ia malu karena banyak sekali wanita kini melirik ke arahnya.
Beruntung tidak ada yang menatapnya dengan tatapan kebencian, malahan mereka menatap Yinyin dengan senyuman hangat dan kasih sayang.
Tap tap..!!
“Akan ku namai dia Bai Ji An,” bisik Bai Chu Ye.
Mendengar itu, semua orang yang ada di sana mengangguk setuju.
“Nama yang bagus Ye'er, ibu setuju dengan nama tersebut, terlepas dari apakah ia laki-laki atau perempuan, nama tersebut cocok untuk keduanya.” Ucap Ling Bai Xia.
“Hem hem..!! Benar Gege, nama tersebut sangat cocok untuk keponakanku,” sambung Ling Xia Xie.
“Nenek dan Buyut mu juga setuju,” ucap Ling Mei terlihat saling melirik dengan Xiu Mu Lian.
Tap tap..!!
“Ya,, calon kakak iparmu juga setuju Ye'er, nama tersebut sangat bagus,” sambung Gisel terlihat mendekat bersama Bai Han.
Gisel adalah calon istri Bai Han, sebenarnya mereka bisa saja menikah semenjak berkumpul kembali. Tapi Bai Han menolak menikah, karena ia tidak ingin meninggalkan istrinya setelah ia menikah nanti.
Niatnya Bai Han ingin hidup di tempat yang damai tanpa gangguan bersama Gisel, namun setelah semua musuh utama ayahnya di kalahkan.
Bai Chu Ye yang mengenal sosok Gisel pun mengangguk.
“Terimakasih semuanya,” ucap Bai Chu Ye dengan nada hangat dan merasakan kebahagiaan setiap ia berkumpul seperti ini.
Pandangan Bai Chu Ye dan semua orang pun terahir mengarah ke Xiu Bai yang terlihat ikut mengeluarkan seutas senyum bahagia.
“Sini, biarkan ayah menggendong cucu ayah,” ucap Xiu Bai dengan nada girang.
Sontak semua orang yang ada di sana saling melirik, mereka tak percaya mendengar Xiu Bai yang begitu kegirangan, terutama Mo Meilin dan Fei Sia Ying.
***
Sementara di dasar laut.
Terlihat Shen Zhi An duduk di sebuah altar berbentuk lingkaran, di sekeliling altar tersebut ada sebuah danau darah.
Secara perlahan Shen Zhi An terus menerus menyerap darah tersebut.
Blush..!!
“Hemm..!! Masih kurang,” gumam Shen Zhi An yang kini membuka matanya dan melihat danau darah telah habis terserap.
“Jika begini aku ragu menang secara telak melawan Pangeran Bai,” gumam Shen Zhi An yang sangat-sangat mengenal siapa identitas Xiu Bai yang sesungguhnya berasal dari Alam Semesta Kegelapan.
“Sialan, kenapa juga aku yang di tugaskan untuk memburunya dan juga Ramalan sialan itu, aku tak percaya jika Ramalan itu benar.” Umpat Shen Zhi An terdengar mulai kesal dengan tugasnya ini.
“Bagaimana sosok Pangeran Bai yang telah mati dan di ciptakan di Alam semesta rendahan ini mampu ke tempat asalnya dan membalas dendam akan kehancuran klannya,” sambung Shen Zhi An terlihat memasang wajah tak percaya sama sekali.