
”Setelah itu ia pergi, jadi saya yang ada tugas pun menyuruh beberapa bawahan saya mengikutinya, tapi jejaknya hilang saat meninggalkan Benua ini,” jawab Jendral Perang Fang Liu terdengar khawatir.
“Ooh begitu ya,” ucap Ling Bai Xie dengan nada santai.
“Baru kali ini aku melihat paman Fang Liu panik selama hidup ku,” sambung Ling Bai Xie.
Dret..!!
Dalam sekejap Ling Bai Xie muncul di depan Fang Liu yang hendak melakukan sesuatu.
Srek..!!
Argh..!!
Tapi sebelum tangan Fang Liu bergerak, tangan Ling Bai Xie lebih dulu terulur ke leher Fang Liu.
Setelah mencekik Fang Liu, bersamaan dengan itu, wajah asli Fang Liu berubah menjadi sosok yang Ling Bai Xie kenal.
“Sudah ku duga jika kau bawahan Dong Lu, dimana pamanku?” Tanya Ling Bai Xie dengan nada dingin.
Aura Ling Bai Xie pun langsung berubah menjadi sangat dingin, hingga menyebabkan ketakutan bagi bawahan Dong Lu.
“Khehehe, kau mencari dia, carilah ke neraka,” kekeh bawahan Dong Lu yang terlihat mencoba memberanikan diri.
Dret..!!
Argh..!!
Argh..!!
“Ooh,, kau kira aku akan langsung membunuhmu ya. Hem.. Kau salah besar, karena kata ayahku, kematian adalah hadiah yang paling mewah bagi musuh kami,” ucap Ling Bai Xie sambil mengeluarkan senyum lembut.
“Ibu, kita akan apakan dia?” Tanya Ling Bai Xie kini melirik ke arah Ling Mu Xia dan Ling Chu Jia yang sedang santai menikmati sarapan mereka.
“Hemm..!! Tanya ke nenek saja, dia ahlinya,” ucap Ling Mu Xia.
Ling Mei yang mendengar namanya di sebut pun langsung bangkit.
Tap..!!
“Sarapanku jadi rusak oleh mu, jadi akan ku berikan kau sedikit minuman, bagaimana?” Tanya Ling Mei kini menggoyangkan gelas yang ada di tangan kanannya.
Sementara bawahan Dong Lu yang pernah mendengar jika Bangsawan Ling isinya orang gila semua kini tersadar jika berita itu benar, ia pun mengutuk dirinya saat ini karena telah masuk seorang diri.
Glek..!!
“A..Aku akan bicara, aku akan bicara, jadi jangan siksa aku, aku mohon,” teriak bawahan Dong Lu hingga ngompol di dalam celana, karena saking takutnya.
“Eeh,, Xie'er, apakah nenek pernah bilang akan menyiksanya?” Tanya Ling Mei.
“Tidak, nenek kan bilang akan memberikannya minuman,” jawab Ling Bai Xie tersenyum manis.
“Kau dengar kan, aku ingin memberikanmu minuman, karena kau terlihat haus dan selalu cegukan. Bukankah aku terlalu baik,” ucap Linh Mei.
Hemm..!!
Bawahan Dong Lu langsung menggelengkan kepalanya. “A..Aku tidak haus dan aku juga tidak cegukan Nyonya,” teriak bawahan Dong Lu.
Sret..!!
Huukk..!!
“Nah kan, kau cegukan,” ucap Ling Mei yang langsung memukul leher bagian tenggorokan bawahan Dong Lu.
Wung..!!
Sret..!!
Huk huk..!!
Terdengar jelas saat ini bawahan Dong Lu kesulitan bernafas setelah di pukul berkali-kali hingga mengerang, namun karena saat ingin mengerang mulutnya di tutup, jadi ia terdengar cegukan.
“Hoho,, kau cegukan sampai berkali-kali, jika begitu mari minum,” ucap Ling Mei.
Hemm hemm..!!
Bawahan Dong Lu langsung menggelengkan kepalanya, saking takutnya, ia bahkan saat ini tidak mampu mengeluarkan suaranya.
Wung..!!
Jlep..!!
Urgh...!!
Urgh..!!
Seketika Ling Mei memaksakan gelas yang ia pegang masuk ke dalam mulut bawahan Dong Lu, hingga membuat bawahan Dong Lu mengerang.
“Aduh,, saking semangatnya ingin minum, kau bahkan sampai-sampai ingin ******* gelasnya juga, jadinya kau berdarah kan,” ucap Ling Mei terdengar penuh kasih sayang.
Tapi bawahan Dong Lu yang mendengar itu, seolah mendengar Iblis Neraka yang tidak ingin ia temui semasa hidupnya.
“Sini nenek obati nak,” ucap Ling Mei mengeluarkan beberapa herbal yang tak lain racun.
Hem hem hem..!!
“Jendral Perang Fang Liu ada di kediaman Jendral Perang Dong Lu, ia di tangkap oleh sosok berjubah hitam dan mengenakan topeng Ungu. Aku di kirim kesini untuk mengirim berita jika kalian ingin menyelamatkannya, maka kalian harus datang sendiri tanpa adanya bala bantuan.” Teriak bawahan Dong Lu.
Huh huh huh..!!
Bruk..!!
Tepat saat Bawahan Dong Lu mengambil nafas dengan tersengal-sengal, kepalanya pun langsung menggelinding setelah Ling Bai Xie mengayunkan tangannya.
“Bagaimana Xie'er? Apa kita akan kesana?” Tanya Ling Mei yang kini terlihat membersihkan gaunnya dari darah Bwahan Dung Lu yang terciprat ke gaunnya.
“Walau jebakan, apa boleh buat, biarkan Xie'er sendiri yang akan kesana, sisanya bersiap-siap saja di sini.” Ucap Ling Bai Xie.
“Aku merasa jika orang yang ingin kita datang ini, bukanlah orang yang sama dengan orang yang mengejar kita. Karena jika itu dia, dia pasti akan langsung kesini.” Sambung Ling Bai Xie.
“Hem..!! Aku rasa kau ada benarnya Xie'er, jika tidak salah, orang itu jyga menggunakan topeng ungu, dan jumlahnya ada 5.” Ucap Ling Mu Xia sambil mengangguk-angguk.
“Dan nama pemimpinnya Jin, Jin apalah itu, nenek lupa,” sambung Ling Mei.
“Tapi setidaknya kau harus hati-hati Xie'er, walau dia bukan orang yang sama, mereka tetap dari kelompok yang sama.” Ucap Ling Chu Jia memperingati.
Tap tap..!!
“Iya bu, jika begitu Xie'er akan pamit, dadah,” ucap Ling Bai Xie melambaikan tangannya.
Dret..!!
Wuss..!!
Wuss..!!
Melihat kepergian Ling Bai Xie, para wanita pun langsung berkumpul.
“Apa baik-baik saja membiarkan Xie'er pergi sendiri Bu?” Tanya Ling Mu Xia terlihat sangat khawatir, padahal tadi sebelum Xie'er pergi, ia yang terlihat paling santai.
“Aku rasa kau harus mengikutinya diam-diam bersama Jia'er, ibu juga khawatir jika Xie'er kenapa-kenapa nantinya.” Ucap Ling Mei.
“Dia adalah satu-satunya cucu perempuanku, aku tak ingin kehilangannya, jadi lindungi dia,” sambung Ling Mei, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
Tap..!!
“Ibu tenang saja, aku adalah ibunya, jadi aku pasti akan melindungi putriku dengan seluruh kemampuanku,” ucap Ling Mu Xia.
“Benar, dia adalah satu-satunya putriku juga, walau aku sadar jauh lebih lemah dari Xie'er, percayalah jika aku akan membawa Xie'er dan Liu'er kembali dalam keadaan baik-baik saja.” Sambung Ling Chu Jia.
...
Dret..!!
Wuss.. Wuss..!!
Beberapa menit berlalu, terlihat Ling Mu Xia dan Ling Chu Jia langsung melesat keluar ke arah kediaman Jendral Perang Dong Lu.
***
Wuss..!!
Wuss..!!
Di tempat Xiu Bai yang kini terus mengikuti Jing We dan kedua putranya.
Entah mengapa perasaannya secara tiba-tiba gelisah.
“Hem...!! Ini,” gumam Xiu Bai.
“Perasaan ini adalah sinyal bahaya untuk keluargaku, aku pernah merasakan hal yang seperti ini sebelum kematianku dulu,” sambung Xiu Bai dalam hati.
Tap tap..!!
Melihat Xiu Bai berhenti.
Semua orang pun langsung berhenti.
“Ada apa Tuan muda?” Tanya Meng Chen dan Jing We serempak.
Xiu Bai tidak langsung menjawab, ia kini melirik ke arah Benua yang tak lain tempat Dinasty Kuno berada.
Setelah itu, Xiu Bai memejamkan matanya dalam waktu yang cukup lama, hingga 10 menit berlalu, Xiu Bai masih memejamkan matanya.
Semua orang yang di sekeliling Xiu Bai saat ini, terlihat diam tanpa ada yang berani menganggunya.
Sret..!!
“Kau, nama mu Jing We bukan,” ucap Xiu Bai dengan tenang.
“Benar Tuan muda,” jawab Jing We.
“Sebut semua nama Jendral Perang terkuat milikmu?” Ucap Xiu Bai langsung ke intinya.
Dalam hatinya, Xiu Bai mencoba menelusuri perasaan khawatirnya, ia menemukan dorongan jika ada kaitannya dengan Jendral Perang Dinasty Kuno.
Xiu Bai tahu cara ini dari ikatan batin antara dirinya dengan keluarga intinya di masa lalu. Jadi Xiu Bai meyakini jika orang yang dalam bahaya ini adalah orang yang paling ia cintai.
Sementara Jing We yang mendengar itu, langsung menyebut ke 10 nama Jendral Perang beserta seluruh identitasnya.
...
Berselang 5 menit, atau tepat setelah Jing We selesai menjawab, Xiu Bai langsung bergumam.
“Ketemu,” gumam Xiu Bai langsung bersiap untuk bergerak.