Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )

Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )
Trik Kecil Kelompok Penjudi


“Baiklah, tapi dengan syarat, kita lihat dulu sampai batas lantai berapa yang bisa kita masuki,” ucap Bai Han dan yang langsung di angguki Duan Du serta Tu Long.


Tap tap..!!


***


“Tunggu, di lantai 5 ini tidak bisa di masuki oleh sembarangan orang,” ucap penjaga lantai 4 yang menuju ke lantai 5.


Bai Han pun langsung berhenti, ia kini memandang ke arah penjaga tersebut.


“Maaf, jika boleh tahu syarat apa saja yang di perlukan untuk mengakses lantai 5?” Tanya Bai Han.


Penjaga tersebut tidak langsung menjawab, ia malah terlihat melihat penampilan Bai Han, Duan Du dan Tu Long.


Melihat penampilan ketiganya yang terbilang cukup kaya, penjaga tersebut memegangi dagunya.


“Untuk bisa masuk ke lantai 5, di butuhkan kekayaan melebihi 10 juta Koin emas serta harus memiliki kekuatan di atas Kaisar Dewa Energi ⭐ 7 Awal.” Ucap penjaga tersebut.


“Kalian terlihat kaya, tapi kekuatan kalian masih sangat lemah, jadi kalian tidak boleh masuk, karena jika kalian memaksa, maka kalian akan langsung mati saat di tantang.” Sambung penjaga lantai 4.


Bai Han pun melirik kedua pamannya.


Tap tap..!!


“Jika begitu, apakah aku boleh masuk?” Tanya Duan Du terlihat mengeluarkan sedikit energinya.


Penjaga tersebut pun langsung merasakan tingkat kultivasi Duan Du yang sengaja di manipulasi.


“Silahkan Tuan,” ucap sang penjaga, dengan cepat ia membuka pintu menuju lantai ke 5.


Tap tap..!!


Tanpa basa basi Duan Du dan Tu Long pun melangkah masuk berdua, meninggalkan Bai Han yang memang ingin tinggal di lantai 4.


...


“Hemm..!! Di sini rupanya sedikit menarik bocah,” bisik Tu Long saat melihat banyak tatapan serakah mengarah ke dirinya dan Duan Du.


“Tentu saja, mereka semua adalah sasaran empuk kita,” sambung Duan Du menyeringai tipis sembari memandang ke segala arah. Tak lama, tatapan Duan Du terhenti di permainan judi Dadu Kocok.


“Di sana, ayo kita mulai dari tempat itu,” ajak Duan Du yang di angguki oleh Tu Long.


...


“Haha,, ayo Tuan muda, di sini masih ada kursi kosong, jangan ragu untuk ikut memasang taruhan,” teriak salah satu pemain judi sembari menggosok telapak tangannya.


“Benar, bandar judi juga bermain adil, tidak ada kecurangan dari pihak bandar,” sambung salah satu penjudi yang mengenakan jubah hitam.


Tap tap..!!


“Silahkan bermain dulu, saya akan melihat cara bermainnya terlebih dahulu seperti apa. Maklum, ini pertama kalinya saya melihat permainan ini, makanya saya penasaran dan langsung kesini.” Ucap Duan Du dengan nada sopan di tambah tersenyum hangat.


Melihat cara dan tingkah Duan Du, membuat beberapa penjudi merasa Duan Du adalah sasaran empuk.


Sementara beberapa dari mereka sedikit waspada, karena Duan Du terlalu polos untuk datang ke tempat judi bebas ini.


Untuk Tu Long yang kini berdiri di belakang, ia merasa kasihan kepada para penjudi yang ia lihat saat ini, karena ia tahu betul sifat Duan Du.


“Hehe,, teruslah mainkan peranmu bocah, aku sudah tidak sabar untuk memainkan peranku yang akan menghancurkan mereka satu persatu.” Gumam Tu Long menyeringai lebar.


Srek srek..!! Tap..!!


“2-2-1 kecil,” ucap bandar judi yang baru saja mengangkat wadah dadu yang ia kocok dan taruh di meja.


“Haha,, aku menang lagi,” teriak salah satu sosok pria tua mengenakan jubah orange.


“Sialan, aku tidak terima, dia pasti sudah berbuat curang untuk melihat angka yang jatuh,” teriak penjudi yang kalah.


“Benar, kau pasti berbuat curang sialan. Jika kau berani, ayo buktikan jika kau memang menang dengan jujur di Arena,” sambung penjudi yang kalah.


Kini terdengar beberapa penjudi mendesak pria tua berjubah orange.


Pria tua tersebut pun menatap tajam sosok yang memulai provokasi. “Dasar bocah bau kencur, siapa takut, ayo, akan ku hancurkan mulut busuk mu itu,” teriak pria tua berjubah orange.


Tapi sosok yang memulai memprovokasi langsung mundur. “Heh,, siapa juga yang ingin melawanmu, karena yang akan melawanmu adalah dia,” tunjuk pemuda berjubah hitam di sertai mengeluarkan seutas senyum licik.


Pria tua berjubah orange pun menggeram, saat ia hendak ingin meraih pemuda berjubah hitam, ia langsung di hentikan oleh pemuda bertubuh kekar tanpa pakaian.


“Lawanmu adalah aku, dan sesuai peraturan, pihak yang mati, semua kemenangannya akan di ambil alih oleh yang menang,” ucap pemuda bertubuh kekar sembari mengeluarkan senyuman lebar.


Krekk..!!


Pria tua tersebut hanya bisa menggertakkan giginya. “Sialan, siapa takut, ayo maju kau ke arena,” teriak pria tua tersebut langsung melangkah menuju arena.


Tap tap..!!