Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 97


Selama menikah, aku belum pernah melakukan program menunda kehamilan. Mungkin memang belum rejekinya saja, sampai hari ini aku masih belum hamil.


"Enggak kok, Tante. Kami nggak nunda, tapi emang belum dipercaya kali ya," jawabku sambil menutupi perasaan sedihku.


"Sabar Ra, mungkin kamu disuruh sabar sampai wisuda dulu." Tante Mala membuat hatiku tenang. "Kamu mau coba gendong, Ra? Siapa tahu bisa ketularan," lanjutnya.


Kulihat bayi kecil itu sudah selesai menyu*su, lalu aku mengangguk. Bagaimana ya rasanya menggendong bayi? Seumur-umur aku belum pernah merasakannya.


Kemudian, Tante Mala mengambil bayi Kak Yumna dari gendongan ibunya. Lalu, dengan sangat hati-hati bayi itu berpindah ke pangkuanku.


"Udah cocok, Ra. Semoga kamu cepet nyusul ya," kata Kak Yumna yang langsung ku aminkan.


Bayi cantik ini tidur tenang dalam gendonganku. Kalau diperhatikan, wajah bayi ini sangat mirip dengan Kak Dion. Apa nanti kalau aku punya anak akan mirip juga dengan Kak Zayn?


Mama Kak Yumna pamit untuk mengambil pakaian ganti, dan kini tinggal Kak Yumna, Kak Dion, Tante Mala dan aku yang sedang menggendong bayi Kak Yumna.


"Assalamualaikum." Suara Mama membuatku menoleh ke arah pintu yang sedari tadi memang terbuka. Mama datang bersama Kak Arsen dan Kimmora.


"Waalaikumsalam." Kompak kami semua menjawab.


"Kamu sudah di sini, Ra?" tanya Mama yang berjalan mendekat ke arahku.


"Iya Ma baru aja kok. Mama mau gendong?" Aku menawarkan pada Mama karena aku memang sangat kaku saat menggendong bayi ini.


"Sini biar Mama gendong." Mama mengambil alih bayi Kak Yumna. Membuat kelopak mata bayi itu terbuka dan menangis pelan, lalu tidur lagi setelah Mama berhasil menenangkannya.


"Zayn nggak ikut, Ra?" tanya Kak Arsen.


"Tadi masih di kantor. Mungkin sebentar lagi ke sini Kak," jawabku.


Kak Arsen manggut-manggut lalu duduk di sofa menghampiri Kak Dion yang sedari tadi tidur di sofa. Sementara Tante Mala izin pulang setelah Mama datang.


"Lucu sekali ya, apa dia akan terus tidur sepanjang hari?" celoteh Kimmora yang mengusap-usap kain pembungkus bayi Kak Yumna dalam pangkuan Mama, sementara tangannya yang lain mengusap-usap perutnya yang buncit.


"Kalau siang biasanya dia akan tidur terus, nanti kalau malam dia akan begadang. Kamu sama Arsen sebentar lagi juga mengalaminya. Iya 'kan?" jawab Mama yang ikut mengusap perut Kimmora, sambil memangku bayi yang tidur berlapisi bantal itu.


"Dia menendang-nendang, Ma," kata Kimmora.


"Benarkah? Aku boleh menyentuhnya nggak Kim?" tanyaku yang ikut bahagia melihat raut bahagia di wajah iparku itu.


Kurasakan bayi itu bergerak aktif di dalam perut Kimmora.


"Hei Baby, kamu lagi apa di sana?" Rasanya gemas sekali merasakan gerakannya di perut Kimmora.


"Ra, kamu ngapain?" Kak Zayn tiba-tiba muncul di balik pintu.


"Kak Zayn." Aku berdiri tegak lalu mendekat pada suamiku yang masih berdiri di pintu.


Kak Zayn tersenyum lalu mencium pipiku.


"Hei! Sini, Zayn!" panggil Kak Arsen yang membuat Kak Zayn melambaikan tangan pada Kak Arsen, dan Kak Dion yang baru bangun.


"Aku ke sana dulu ya."


Aku pun mengangguk, lalu ikut bergabung bersama Kimmora dan Mama yang sudah meletakkan bayi Kak Yumna dalam box bayi.


"Ma, kenapa ya aku belum hamil juga?" Aku memeluk Mama yang membuat Kimmora dan Kak Yumna menatapku.


"Sabar ya, Sayang. Kamu sama Zayn kan sibuk, stres juga mempengaruhi loh Sayang. Enjoy aja nikmati dulu masa pacaran setelah menikah!" Mama mengusap rambutku.


"Iya Ra, pacaran setelah nikah itu enak kok. Aku sama Kak Arsen aja sengaja menunda biar bisa merasakan nikmatnya itu," kata Kimmora yang mendukung ucapan Mama.


"Iya Dera, jangan kayak aku." Kak Yumna yang masih tidur bersandar di ranjangnya terlihat sedih.


Kenapa dia sedih? Bukankah harusnya dia bahagia karena sudah memiliki anak?


♥️♥️♥️


...Sedih karena nggak ngerasain pacaran halal, Ra....


Selamat pagi gaes, selamat hari jum'at.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 😘😘😘


Sampai ketemu lagi 🥰🥰