
"Kamu antar Dera ke bagian mana aja terserah yang penting jangan terlalu berat kerjanya, awas kalau ada yang berani nyuruh-nyuruh dia lakuin hal yang nggak penting. Ingat! Dia juga bos kalian!" perintah Kak Zayn dengan tegas.
"Baik, Bos." Asisten Kaisar terlihat patuh.
"Proyek yang di kawasan Biru sudah kamu cek? Kalau belum sekalian sana, dan bawa hasilnya sebelum meeting!" kata Kak Zayn lalu fokus dengan laptopnya.
"Ya, Bos. Mari, Nona." Asisten Kaisar mempersilakanku untuk keluar mengikutinya.
Aku mengambil tasku, tapi Kak Zayn tidak memperhatikanku.
"Aku kerja dulu, Kak," pamitku.
"Hemm." Kak Zayn tetap fokus pada pekerjaannya.
Hanya itu? Hemm saja? Tidak ada pesan hati-hati, apalagi cium?
Oke! Awas saja nanti kalau butuh aku. Hei Juna, bersiaplah untuk puasa!
Aku meninggalkan ruangan Kak Zayn dengan perasaan kesal. Berjalan mengikuti Asisten Kaisar yang akan mengantarkanku ke ruangan kerja tempatku magang di sini.
"Nona, mau di divisi apa?"
"Apa aja yang penting halal," jawabku ketus.
"Nona, ini bukan soal makanan." Asisten Kai memencet tombol di lift.
Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di lantai lima,tempatku bekerja nantinya. Ada banyak sekali karyawan yang bekerja di sini. Meja mereka disekat oleh pembatas sekitar satu meter yang memisahkan meja karyawan satu dengan yang lainnya.
"Pak Riko," panggil Asisten Kaisar. Lalu seorang bernama Riko itu menghampiri kami.
"Ada apa Pak Kaisar?" tanya seorang laki-laki yang masih cukup muda itu, mungkin usianya sepuluh tahun di atasku.
"Ini ada mahasiswa magang lagi. Istimewa," kata Asisten Kai.
"Halo, saya Dera. Mahasiswa magang di sini." Aku menjabat tangan Pak Riko yang langsung dibalasnya.
"Bukankah ini istrinya Tuan Bos?" tanya Pak Riko terdengar hati-hati.
"Ya betul sekali," jawab Asisten Kai.
"Dua titipan dengan nama yang mirip, apa kira-kira Pak Kaisar sengaja ingin membuat saya pusing?" tanya Pak Riko sambil tersenyum paksa.
"Kamu kenapa banyak protes? Mau aku laporin si Bos biar dapat keringanan gaji?"
"Mana ada keringanan gaji Pak Kaisar, adanya keringanan hutang."
"Tau ah, udah ayo Bu Bos, saya antar bekerja."
"Awas lecet bisa selesai riwayat kerjamu!" kata Asisten Kaisar setengah berteriak, membuat para karyawan menoleh ke arahnya.
Itu kan Dara, wanita yang dekat dengan Asisten Kai, dia magang di sini juga?
"Ini mejanya Bu Bos, nanti saya akan jelaskan pekerjaannya. Saat ini saya masih bingung harus menyuruh Bu Bos kerja apa." Pak Riko menarik-narik dasi biru yang dikenakannya.
"Jangan panggil saya Bu Bos, panggil Dera saja," protesku.
Kemudian aku duduk di kursi yang ternyata berhadapan dengan meja kerja Dara.
"Saya bisa dipecat kalau ketahuan Tuan Bos memanggil Anda dengan panggilan tidak sopan begitu," balas Pak Riko.
"Yaudah deh, terserah. Panggil Nona aja kayak Asisten Kai, jangan Bu," kataku.
"Baik Nona, saya permisi sebentar. Nanti kembali lagi."
Aku mengangguk, lalu Pak Riko segera pergi.
"Dara, kamu di sini juga?" tanyaku sambil berdiri, karena meja Dara terhalang sekat dengan mejaku.
"Iya, kok kamu di sini juga? Kenapa nggak di ruangan Pak Zayn?" Dara menatapku canggung.
"Santai aja, aku seneng ketemu kamu di sini, kalau di ruangan suamiku, rasanya kayak aku lagi di penjara, nggak bisa bebas. Bukannya capek kerja, malah capek olahraga," jawabku sambil terkekeh.
Dara hanya melongo menatapku, sama seperti karyawan lain yang ikut menatapku bingung.
♥️♥️♥️
Sama-sama kerja kan, Ra, yang gaji juga Tuan Bos. Bedanya, kalau sama suami yang kerja otot, kalau sama Pak Riko yang kerja otaknya 🙈🙈🙈
Selamat sore,
Alhamdulillah bisa up lagi. 🤗🤗🤗
Sekedar info, alur waktunya Zayn sama Arsen beda ya. Zayn agak lambat soalnya 🤭🤭
Jangan lupa bagi vote nya 🥰🥰
Sampai ketemu lagi 😘😘😘