
Semenjak mengalami keguguran, Putri mulai berubah. Dia sedikit pendiam sekarang. Terkadang aku menemukannya dalam keadaan menangis diam-diam. Kehilangan calon anak kami memang menjadi pukulan berat bagi kami, terutama Putri, tapi jujur aku tidak suka melihatnya berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini.
"Maafin mama, maafin mama sayang. Dia pasti ngira kalau mamanya nggak sayang dia, Kak. Aku emang nggak pantes jadi mama." Putri tiba-tiba terisak saat bangun dari tidur. Aku yang masih terjaga, lalu memeluknya, mencoba menenangkan perasaannya yang saat ini sedang kacau.
"Udah nggak usah nyalahin diri sendiri, semua udah takdir, Put." Aku mencoba menenangkannya dengan memberikan sentuhan berulang di kepalanya.
"Aku mama yang jahat, aku nggak pantas jadi mama," ucapnya masih terus terisak.
"Sabar, sabar, udah dia belum rejeki kita. Ikhladin nanti akan ada balasan yang indah untuk kita."
*
*
*
Dua minggu setelah kehilangan, aku rasa sudah cukup waktu bagi Putri untuk meratapi kesedihan. Kini, saatnya kami menata kembali masa depan kami.
"Mau jalan-jalan nggak mumpung libur?" tawarku. Putri saat ini sedang menyimpan pakaian ke lemari.
"Ke mana?" tanyanya. Ia menatapku sebentar, lalu kembali fokus pada pakaian yang hampir rampung.
"Ke mana aja, pantai, danau, atau mau mendaki gunung mungkin?" Aku sendiri tidak begitu yakin, tempat seperti apa yang Putri sukai. Apakah dia menyukai suasana pendakian sepertiku, atau menggilai pantai seperti Mama?
"Danau aja deh," jawabnya.
"Oke, tapi peluk dulu sini!" Kulihat dia sudah selesai dengan urusan pakaian. Ia tersenyum lalu memelukku. "Udah sedihnya, hidup kita harus tetap berjalan. Nanti kalau kamu udah sehat, udah selesai kuliah, baru kita usaha lagi."
"Berarti Kakak sama Jupiter puasa sampai aku lulus kuliah?" Putri mendongak menatapku.
Pertanyaannya itu membuatku bingung sekaligus takut. Takut kalau-kalau Putri menyuruhku berpuasa sampai ia lulus.
"Kok gitu?" tanyaku.
"Ya, kan sampai aku lulus dulu baru hamil, berarti Juputer harus puasa dong biar aku nggak hamil?"
"Terus maksudnya Kakak gimana?" tanyanya.
"Ya, maksudnya biar kamu siap dan sehat dulu. Sampai kamu selesai kuliahnya, selama itu kita take out on the outside mungkin," jawabku.
"Kenapa nggak pakai pengaman atau kontra*sepsi aja?"
Sepertinya ia kurang setuju dengan usulanku untuk mengeluarkan di luar.
"Katanya kalau pakai pengaman itu nggak enak, kalau pakai kontra*sepsi nanti malah susah balikin hormonnya."
"Oh ya. Ya udah beli tisu yang banyak," jawabnya yang membuatku tersenyum lega. Jupiter ternyata nggak harus puasa.
"Siap Ibu Negara, nanti kita belanja ya, mau belanja buku juga nggak?" rayuku. Aku tau dia sangat menyukai buku-buku, bahkan perkenalan kami sebenarnya juga terjadi karena insiden buku.
"Boleh deh. Nanti sekalian aku mau cari buku baru." Putri berjalan keluar dari kamar ganti.
Aku mengikuti Putr di belakangnya.Saat ia sampai di kamar, aku langsung memeluknya dari belakang.
"Aku cinta kamu, Put. Aku harap kamu bisa belajar menjadi dewasa, sebelum kamu siap menjadi ibu untuk anak-anakku." Aku menyandarkan dagu di bahunya.
Putri tiba-tiba berbalik dan mengalungkan tangannya di leherku. "Aku akan berusaha, bantu aku, Kak. Aku nggak akan bisa kalau sendirian."
Aku tersenyum dan menjawab, " Iya, aku pasti akan membantumu berubah, karena aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Kak Za." Putri tiba-tiba berjinjit, kedua tangannya menarik leherku untuk menunduk. Lalu, ia mencium bibirku dengan lembut.
❤❤❤
Selamat malam, maaf aku kemarin absen. Masih ada yang nungguin nggak sih 😅😅
Angkat jempolnya dulu, biar aku itung yang nungguin ada berapa.