Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 7


KAISAR


Delapan bulan lebih aku menikah dengan Dara. Namun, Tuhan sepertinya belum mempercayai kami untuk menjaga dan membesarkan seorang anak.


Dara sempat merengek, berpikiran macam-macam kalau dia tidak bisa memberiku keturunan. Aku terus meyakinkan dia, dengan atau tanpa anak perasaanku akan tetap sama.


"Mas, tadi mama kasih alamat dokter buat kita cek ...." Dara tidak melanjutkan ucapannya, malah mengambil kursi dan duduk di sampingku sambil mengulurkan sebuah brosur.


Aku meletakkan kaca mata di meja, lalu mengambil brosur dari tangan Dara.


"Kamu cerita ke mama kalau Putri hamil?" tanyaku setelah membaca sekilas brosur tentang paket pemeriksaan kesuburan itu.


"Ya, gimana lagi, itu kan kabar baik, Mas." Dara meletakkan tasnya di mejaku. Jam kerja memang sudah selesai, dan aku masih memeriksa laporan sebelum aku serahkan pada Bos Zayn.


"Nggak usah sedih, sekarang gini deh Sayang, kalau aku yang nggak normal, gimana?" tanyaku sambil membelai pipinya dengan mesrah.


Dara menatapku, matanya mulai berkaca-kaca. Jelas sekali dia ingin menangis.


"Nggak mungkin kalau kamu yang nggak normal, pasti aku yang nggak normal, Mas."


Aku membawanya dalam pelukan. Perasaan wanita yang sensitif itu sangat-sangat merepotkan.


"Ya udah, kita cek ke dokter, apa pun hasilnya, jangan sedih dan jangan putus asa. Kita akan mencobanya terus," kataku sambil mencium keningnya.


*


*


*


Suasana klinik masih sepi, beberapa orang saja yang sudah mengantre untuk menunggu giliran dipanggil.


"Aku udah daftar online kok, Mas. Kita tinggal tunggu dipanggil aja." Dara masih merangkul lenganku. Kami lalu duduk di sofa empuk yang disediakan.


Beberapa menit berikutnya, nama kami dipanggil. Lalu, kami masuk ke ruangan dokter yang akan memeriksa kami.


Banyak hal yang dokter tanyakan, mengenai catatan menstruasi, seberapa sering kami melakukannya, seberapa banyak, dan beberapa hal yang memang berhubungan dengan aktivitas ranjang kami.


Setelah itu, dokter memutuskan bahwa kami harus kembali tiga hari lagi, untuk melakukan pemeriksaan. Kami diinstruksikan untuk puasa, dan aku tidak diperbolehkan mengeluarkan cairan Raja sampai hari itu, untuk memastikan kualitas sper*ma.


*


*


*


Beberapa hari setelah kami melakukan pemeriksaan, hari ini kami bisa mengambil hasilnya. Aku mengampiri Dara di ruangan sekretaris bos. Saat aku melihatnya, Dara sedang merapikan mejanya, begitu juga dengan Vivi.


Bos Zayn keluar dari ruangannya, tepat saat aku aku sampai di meja sekretarisnya itu.


"Kai, udah mau pulang kamu?" tanya Bos Zayn.


"Iya kan emang ini udah jamnya pulang, Bos."


"Oh iya juga. Aku pikir kamu bakalan nginep di sini," ucapnya. Tidak lama, istrinya keluar.


"Ya udah nggak apa-apa, nanti buang aja sampai di rumah. Lain kali biar Vivi aja yang beli." Bos Zayn berbicara pada Vivi dan Dara yang menunduk. Lalu, dia merangkul istrinya. Wanita itu berjalan sambil melambaikan tangan pada kami, sementara tubuhnya berusaha mengimbangi suaminya yang berjalan cepat sambil merangkulnya.


"Apa yang mau dibuang?" tanyaku pada Vivi dan Dara.


"Nggak tau, mungkin CD atau branya," jawab Vivi.


"Aku salah beli ukuran kayaknya, Mas."


"Mereka nganu-nganu di dalam?" tanyaku.


Vivi mengangkat kedua bahunya. Sementara Dara merangkulku.


"Udah yuk pulang. Doain ya Vi, semoga hasilnya bagus."


"Aamiin, semoga bisa cepet punya anak deh kalian."


*


*


*


"Jadi, bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Dara dengan tidak sabar.


Dokter lalu membuka sebuah amplop yang isinya merupakan hasil pemeriksaan kami beberapa waktu lalu.


"Jadi, di sini terlihat Ibu Dara baik-baik saja, tidak ada masalah, semuanya bagus."


Aku hanya memperhatikan ekspresi wajah Dara, dia tersenyum saat dokter mengatakan hal itu.


"Tetapi, hasil pemeriksaan Pak Kaisar kurang bagus."


Dara mengubah ekspresi wajahnya, ia terlihat kaget dan lebih mirip bingung.


Aku melihat ke arah dokter untuk mendengar penjelasannya.


"Jadi, sper*ma yang dihasilkan kurang bagus, pergerakannya kurang lincah, dan kurang sehat. Kita bisa mengatasinya dengan minum suplemen kesuburan dalam tiga sampai enam bulan. Setelah itu, kita bisa tes ulang."


Setelah mendengar penjelasan dokter dan menerima suplemen itu. Saat ini, aku dan Dara sudah berada di mobil. Dia terdiam dan aku pun sama. Sampai akhirnya aku merasa harus membicarakan masalah ini dengannya.


"Sekarang kita tau, kan? Kalau mungkin enam bulan lagi hasil pemeriksaannya nggak bagus lagi, itu artinya aku yang mandul. Sekarang kamu gimana?"


"Aku tetap sama kamulah, Mas. Kita akan lalui ini bareng-bareng kan?"


"Oke, kita akan usaha. Aku akan minum ini setiap hari, tapi sekarang aku tanya balik sama kamu, kalau kita tetap nggak punya anak, apa kamu tetap bisa bertahan sama aku?"


❤❤❤


Oh No, Mas Kai. Aku tetep akan setia sama kamu kok 🥰🥰


Zayyan Putri besok aja, soalnya komennya udah gak begitu rame. Aku mau ngurus penganten baru di sebelah. Si Rafka, yang masih merangkak dari bawah lagi 🤣🤣🤣