
Aku dan Kak Zayn menyusul ke rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa kakek sedang kritis. Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Kak Zayn nggak apa-apa?" Aku merasa bersalah karena kami gagal ber*cinta padahal Juna sudah masuk sepenuhnya tadi.
"Nggak papa, cuma sedikit pusing aja," jawab Kak Zayn yang masih fokus dengan kemudinya.
"Maaf ya,"
"Nggak ada yang salah kenapa minta maaf, Ra. Udah ya kamu diem aja, biar aku konsen nyetirnya."
Sepertinya Kak Zayn sedang kecewa saat ini, dan aku memilih diam sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera menemui Mama Papa yang sedang menunggu Kakek di depan ICU, ada Om Doni, Kak Arsen dan mertuanya juga.
"Ma, Kakek kenapa?" Aku langsung memeluk Mama.
"Kakek kena serangan jantung, Sayang." Mama membalas pelukanku dan mengusap punggungku.
Tanpa terasa, air mata meleleh begitu saja di pipiku. Aku dan Kakek sangat dekat selama ini, dan Kakek memang memiliki riwayat sakit jantung.
"Semua ini karena Arsen, kalau saja Arsen mau membantu perusahaan kita, papa tidak akan terkena serangan jantung," kata Om Doni sambil menunjuk tangannya pada Kak Arsen yang duduk diam di samping mertuanya.
"Doni, cukup! Tidak ada yang salah, ini sudah takdir, kalau kamu menyalahkan Arsen, aku juga bisa menyalahkan anakmu itu, yang hanya bisa menghabiskan uang saja." Papa berganti marah pada Om Doni.
Om Doni tidak bisa berkata-kata lagi, dia lalu duduk tidak jauh dengan Kak Arsen, dan suasana kembali hening.
"Arsen, papa pulang dulu, terlalu banyak orang yang menunggu juga tidak baik, nanti kalau kamu pulang bawa mobil papa aja. Kalau ada apa-apa hubungi papa." Papa dari Kimmora itu sepertinya ingin pulang lebih dulu.
"Papa pulang naik apa? Aku antar dulu, Pa."
"Nggak usah, udah ada sopir yang jemput, kamu yang tenang ya, sabar!" Papa Kimmora menepuk pundak Arsen.
"Iya, Pa. Hati-hati."
Laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Papa itu lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah sakit.
"Ra, kayaknya kamu sama Mama pulang dulu aja, biar papa, om sama kakakmu yang di sini. Nak Zayn, tolong antar mamamu pulang sama Dera, kalau ada apa-apa nanti papa telepon, kalian istirahat saja dulu."
"Iya, Pa. Papa jaga diri, aku antar Mama pulang, Kak Zayn juga belum istirahat dari tadi malam. Besok pagi kita ke sini lagi," jawabku yang dibalas anggukan oleh Papa.
Sesampainya di rumah, aku mengantar Mama ke kamarnya, sedangkan Kak Zayn pergi ke kamarku di lantai dua. Namun, Mama menolak tawaranku untuk menemaninya, dan akhirnya aku pergi ke kamarku menyusul Kak Zayn.
"Kamu nggak jadi nemenin Mama?" tanya Kak Zayn saat ia keluar dari kamar mandi.
"Nggak, Mama nggak mau aku temenin."
Kak Zayn yang baru saja selesai mandi
hanya duduk diam di tepi ranjang.
Aku jadi merasa kasihan melihatnya, lalu aku mendekati Kak Zayn dan memeluknya dari belakang.
"Masih pusing nggak?" tanyaku sambil mencium pipinya yang terasa dingin.
"Masih," jawabnya singkat.
"Mau aku bantu biar nggak pusing?" tanganku merayap ke dada bidangnya yang belum memakai baju.
"Kamu yakin?"
"Iya, habisnya aku nggak tega lihat wajah kusut ini, makin jelek jadinya."
"Iya deh, aku jelek."
"Em, ngambek." Tanganku bergerak turun ke arah Juna, mengusapnya yang hanya terbalut handuk dengan pelan, lalu setelah Juna mulai berdiri tegak, aku menjauhkan tanganku darinya. "Ya udah." Aku memposisikan diriku untuk tidur membelakangi Kak Zayn.
"Sengaja banget sih godain aku," kata Kak Zayn yang langsung memeluk dan menciumku.
♥️♥️♥️
Bayangin aja sendiri ya, mereka ngapain. Pasti udah paham semua kan?🤭🤭🤭
Selamat pagi, selamat hari minggu dan selamat beraktifitas.
Jangan lupa ritualnya.
Sampai ketemu lagi 😘😘😘