
Kami tiba di hotel saat malam sudah gelap. Kami langsung disambut oleh manajer hotel, dan diantarkan langsung ke kamar kami.
Setelah memasuki lift bersama, kami pun tiba di depan kamar yang sudah disiapkan. Saat pintu terbuka, dan Kak Zayn masih bercakap-cakap dengan manajer hotel, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.
Memang aku masih sangat kesal karena dikerjai oleh dua orang itu. Jadi, biarkan saja mereka tidur bersama. Siapa suruh ngerjain istri sendiri.
Selama perjalanan tadi memang aku hanya diam dan membiarkan mereka puas tertawa. Akan tetapi, aku menyusun rencana pembalasan dan sekarang aku sudah melakukannya.
Ponselku terus berdering bersamaan dengan suara ketukan pintu, yang aku yakin pelakunya adalah Kak Zayn. Aku mematikan ponsel, biar saja malam ini mereka tahu kalau aku tidak suka diperlakukan begitu.
Setelah mandi, aku hanya memakai bathrobe dan berjalan mencari baju ganti. Namun, aku sangat terkejut saat tiba-tiba sepasang tangan memelukku dengan hangat. Lalu, ia membawaku duduk di tepi ranjang, tepat di pangkuannya.
“Kamu marah ya?” tanya laki-laki yang setengah jam lalu sengaja aku kunci di luar.
Aku yakin, ia pasti bisa masuk karena kunci cadangan.
Aku masih tidak merespon. Masih kesal dengan bercandaan mereka yang tidak lucu.
Bayangkan saja, aku sudah merasa bersalah, takut dengan ekspresi wajah keduanya yang terlihat marah, tapi tiba-tiba mereka tertawa karena berhasil mengerjaiku.
Aku bangkit dari pangkuannya, tapi dengan sigap Kak Zayn menarikku lagi.
“Mau ke mana, Ra?” tanya Kak Zayn yang akhirnya mencium leherku.
“Lepas! Aku males sama kamu tau nggak.” Aku menyingkirkan tangannya yang kembali memelukku.
Kali ini dia tidak menahanku lagi. Sedikit aneh sih, harusnya kan dia merayuku terus. Ah sudahlah, lebih baik aku ganti baju. Satu stel pakaian berhasil aku temukan dan aku bawa kembali ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
Setelah selesai ganti, aku kembali ke kamar tidur untuk istirahat. Kulihat Kak Zayn sudah tidur telentang di ranjang, tanpa membersihkan diri terlebih dulu. Mungkinkah dia benar-benar lelah?
Jam tangan, ikat pinggang, bahkan dasinya juga masih melekat. Haruskah aku bangunkan dulu? Akan tetapi, melihat wajah dan juga mendengar dengkurannya, aku jadi tidak tega membangunkannya.
Akhirnya, aku pun melepaskan semua atributnya satu per satu secara perlahan, takut mengganggu tidurnya. Hingga semua terlepas, Kak Zayn tidak bangun juga, dan aku memilih untuk menyusulnya tidur karena aku juga lelah.
*
*
*
Kuusap wajahnya yang lelap. Kugerakkan jariku dari dahi, melewati hidungnya yang mancung, lalu berhenti di bibirnya yang tidak terlalu tebal.
Aku tersenyum sendiri, lalu tanpa sadar aku mencium pipinya.
Hap. Tanganku berhasil diraih, dan Kak Zayn langsung membalik posisi kami.
“Selamat pagi, Ra. Udah nggak marah kan?” tanya Kak Zayn yang kini berada di atasku.
“Masih,” jawabku sambil menatap matanya.
“Maaf ya, Dera Sayang.” Kak Zayn mendekatkan wajahnya, lalu memejamkan mata, aku tahu dia akan menciumku. Dengan cepat aku menoleh ke kanan supaya dia tidak bisa mencium bibirku.
Namun, ternyata Kak Zayn malah menjilat telingaku dan menggigitnya pelan.
“Sakit tau emm ….” Kak Zayn berhasil me*lu* bibirku. Rasanya lembut dan membuatku gila.
Setelah itu, ciumannya turun ke leherku, meninggalkan jejak merah tepat di leher bagian depan. Diperlakukan seperti itu, membuat as*ratku naik dan menginginkan lebih, terlebih hawa dingin hotel ini memang sedang mendukung.
“Aku ada meeting pagi, awas kalau kamu tutupi ini!” Kak Zayn mengusap hasil karyanya di leherku. Lalu ia bangkit dan turun dari ranjang.
“Kita nggak jadi ….”
Ih, apa-apaan sih aku ini? Memalukan sekali!
“Nanti ya Sayang, Juna aja bisa tahan masak kamu nggak.” Kak Zayn tersenyum sebelum akhirnya menghilang seiring dengan pintu kamar mandi yang tertutup.
Jadi, sekarang aku dianggurin?
♥️♥️♥️
...Enak diapelin ya, Ra, Daripada di anggurin 🤣🤣🤣 Sabar dong. Kak Zayn kan harus kerja 🤭🤭🤭...
Selamat siang, geng Juna.
Angkat jempol kakinya jangan lupa 🤭🤭🤭
Sampai ketemu lagi 😘😘😘