
DERA
Kehamilan pertama dan langsung mendapatkan empat bayi sekaligus membuatku dan Kak Zayn tidak henti-hentinya bersyukur. Sejauh ini, kandunganku masih sehat-sehat saja, belum ada tanda-tanda melahirkan, meskipun Dokter Nayla sudah memberi penjelasan bahwa aku bisa saja melahirkan secara prematur.
Usia kandungan hampir tujuh bulan tapi perutku sudah sangat buncit melebihi wanita hamil normal. Wajar, karena aku memang hamil empat nyawa, dan itu tidak normal.
Dua hari yang lalu, kami mengadakan pengajian yang merupakan wujud syukur kami karena sudah diberikan titipan yang istimewa oleh Tuhan. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa, walau pun aku tidak bisa lagi merasakan tidur nyenyak. Pinggangku juga sering merasakan sakit, apalagi bagian kaki yang sudah bengkak luar biasa.
Pukul 01.00 tadi aku terbangun karena ingin buang air kecil dan sekarang tidak bisa tidur lagi. Kak Zayn ikut terbangun, mungkin karena aku kurang hati-hati sehingga mengganggu tidurnya.
"Kamu nggak bisa tidur lagi ya?" tanya Kak Zayn dengan suara parau.
"Nggak tau, kayaknya mereka nggak mau tidur kalau jam segini," jawabku sambil mengusap perut yang kembali mendapat tendangan istimewa.
Kak Zayn merapatkan tubuhnya padaku. Ia mencium dan mengusap setiap bagian kulitku yang bergerak karena tendangan anak-anaknya.
"Aduh, kenceng banget ini anak Daddy nendangnya, kalian lagi main apa sih di dalam? Mau Daddy tengokin nggak?" Kak Zayn mencium lagi perutku, tapi matanya kini menatapku.
"Pinggang aku pegel banget, Kak. Kamu tega apa sama aku?" balasku. Tangan kananku mengusap rambut Kak Zayn yang sudah acak-acakan.
"Nanti aku pijitin, ayolah Sayang, nanti kalau udah lahiran malah puasa lama loh. Kamu nggak kasihan sama Juna?" tanya Kak Zayn dengan mimik yang memelas.
Memang sih, setelah lahiran pasti akan ada masa nifas yang cukup lama, dan aku tahu Kak Zayn pasti akan sangat tersiksa jika saat itu tiba. Sebagai suami, dia selalu berusaha membuatku bahagia, dan aku tahu kepuasan Juna adalah kebutuhan yang membuat Kak Zayn bahagia.
"Ya udah, tapi hati-hati ya. Pingganggku benar-benar pegal rasanya." Pada akhirnya aku juga tidak tega melihatnya seperti itu. Aku akan menahan lelahku untuk membuatnya bahagia.
"Iya Sayangku, ratuku. Sebentar saja, aku janji."
Kak Zayn bangun dan mendaratkan ciuman di keningku. Ia memperlakukanku dengan sangat lembut, membuatku pasrah dan menyerahkan semua padanya.
***
Rasa ingin buang air kecil membuatku terpaksa menyingkirkan dekapan hangat itu dari tubuhku. Berjalan pelan menuju kamar mandi sambil menahan sakit di pinggulku, aku merasakan tersiksa yang luar biasa. Akhirnya, aku berhasil mencapai kamar mandi dan menuntaskannya.
Setelah selesai, aku berniat kembali ke kamar, tapi kakiku terasa basah. Aku yakin ini bukan air seni. Seketika aku sadar bahwa ini adalah ketuban.
"Kakak, tolong aku, Kak." Aku berteriak memanggil suamiku yang mungkin masih terlelap.
Jarak kamar mandi dan kamar kami yang lumayan jauh karena memang kamar ini sangat luas, mungkin membuat Kak Zayn tidak mendengar teriakanku.
Masih dengan rasa nyeri di pinggul. aku kembali ke kamar dengan air yang terus keluar dari jalan lahir.
Kak Zayn sedang tidur dengan posisi menelungkup.
"Kakak, bangun Kak." Aku menggoyangkan tubuh Kak Zayn.
"Bentar lagi ya Ra, aku masih ngantuk," jawab Kak Zayn.
"Kak, pinggulku sakit banget, ketubannya udah pecah kayaknya," kataku dengan khawatir dan ketakutan yang melanda pikiranku.
"Apa?" Kak Zayn langsung bangun. Ia masih berte*lanjang dada, ia langsung berdiri dan turun dari kasur.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya," kata Kak Zayn lalu meraih kaus dan menuntunku sampai ke bawah.
Semua panik karena Kak Zayn berteriak menyuruh Mang Ujang menyiapkan mobil.
❤❤❤
Selamat pagi, Istri Big Boss kita mau lahiran, kira-kira anaknya cowok apa cewek. Ayo coba tebak! AKu lanjutin lagi ngetiknya.
Jangan lupa jempolnya 😉😉😉