Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 109


Kami kembali ke Indonesia setelah liburan singkat di Maldives. Dari bandara, Kak Zayn yang mengemudi, sementara Asisten Kaisar mengantarkan Dara pulang. Aku sangat paham jalanan menuju apartemen, dan ini bukanlah jalan untuk pulang.


"Kita mau ke mana, Kak?" tanyaku yang sudah tidak bisa lagi menebak-nebak ke mana Kak Zayn ingin membawaku.


"Mau pulanglah," jawabnya, menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan beraspal di hadapannya.


"Ini kan bukan jalan ke rumah, Kak."


"Udah, kamu nanti juga akan tau, Queen." Kak Zayn tetap tidak mau memberitahuku saat ini.


Aku membuang muka dan menikmati perjalanan yang entah akan ke mana. Mengamati jalanan ibu kota yang tak pernah sepi walau di malam gelap begini.


Sampai akhirnya, mobil berhenti di depan rumah besar yang dari luar saja sudah telihat mewah.


"Ini rumah siapa?" tanyaku saat Kak Zayn membunyikan klakson mobilnya.


Seorang satpam lalu terlihat membuka gerbang, Kak Zayn kembali melajukan mobilnya memasuki halaman rumah, lalu memarkirkan mobil ke garasi.


"Rumah kamu." Kak Zayn baru membalas setelah mobil berhenti.


"Rumahku? Serius?"


"Jangan norak! Kamu itu istri big boss, rumah seperti apapun bisa kamu miliki." Kak Zayn keluar dari mobil. Ia membukakan pintu mobil untukku.


Saat aku keluar dari mobil, beberapa orang menyambut kami di depan pintu. Tersenyum, lalu membungkuk memberikan ucapan selamat datang.


"Mereka siapa?" tanyaku bingung. Aku pikir mereka orang yang bekerja di rumah ini, tapi kenapa banyak sekali?


"Mereka yang mengurus rumah. Kalau ada apa-apa, kamu bilang aja sama mereka," kata Kak Zayn yang kini merangkulku dan berjalan memasuki rumah.


Entah ini mimpi atau nyata, rumah luxury modern type ini santat luas. Walaupun malam hari, tapi cahaya lampu di luar rumah masih mencetak jelas gambaran dari mewahnya rumah ini.


"Kok tiba-tiba sih?" tanyaku masih penasaran.


"Nggak tiba-tiba kok, aku udah lama siapin ini, aku mau tinggal di sini sama orang yang aku cintai. Jadi, maaf ya, aku mengajakmu tinggal di apartemen dan membiarkanmu mengurusnya sendiri, itu karena awalnya aku belum yakin sama kamu, My Queen, tapi sekarang kamu ratu di rumah ini." Kak Zayn mengecup pipiku sekilas lalu mengajakku duduk di ruang tengah yang sangat luas.


Mendengar penuturan Kak Zayn, membuatku semakin terpesona dengannya.


"Besok ulang tahun kamu, 'kan? Rumah ini hadiahnya. Hadiah ulang tahun pertamamu sebagai Nyonya Zayn," kata Kak Zayn yang kemudian mendaratkan kecupan lagi di keningku.


Besok? Aku bahkan lupa kalau besok ulang tahunku.


"Kasih surprise itu jam dua belas malam biar romantis, ini masih jam sembilan loh," balasku dengan senyum yang tak lepas dari sudut bibirku. Siapa sih yang tidak bahagia mendapat hadiah semewah ini?


"Suka kok suka banget," sahutku dengan cepat.


"Kalau suka cium dong." Kak Zayn mendekatkan wajahnya sambil memajukan bibir, membuatku refleks langsung tertawa karena ekspresinya. "Kok malah ketawa sih?"


"Soalnya Kakak lucu banget," jawabku lalu mengecup bibirnya sekilas.


Kak Zayn malah menyerangku dan membuatku tergeletak di sofa besar yang kami duduki, dengan posisi Kak Zayn yang berada di atasku.


"Pokoknya kita harus rayakan ulang tahun kamu dengan yang spesial," kata Kak Zayn lalu mencium bibirku lagi. Tak lama, ia bangun dan menggendongku. "Kamu makin berat deh kayaknya."


"Ya udah aku diet kalau gitu."


"Jangan, aku lebih suka kamu kayak gini, lebih seger dilihatnya, dan lebih enak dipegangnya."


Kak Zayn menggendongku bahkan sampai menaiki tangga. Sepertinya kamar kami berada di atas.


"Apanya yang enak dipegang?" tanyaku sambil mengalungkan tangan ke lehernya.


"Semuanya enak. Apapun yang kamu punya, semuanya enak untuk dinikmati," jawabnya yang membuatku malu-malu.


"Emangnya aku makanan?"


"Iya, pipi kamu kayak kue mochi."


"Kue mochi kan kecil."


"Tapi enak dimakan. Buka pintunya, Queen."


Ternyata kami sudah sampai di sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih yang terlihat berkilau karena sorotan lampu. Lalu, aku berusaha membuka pintu itu, dan terlihatlah kamar yang sangat luas.


"Ini kamar kita? Gede banget."


Kak Zayn melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan kakinya. Berjalan lagi ke arah kasur besar dan membaringkanku di sana.


"Nggak ada yang lebih gede dari Juna sama susu kamu."


"Ih, frontal banget sih, malu tau, Kak."


"Malu sama siapa sih? Cuma ada kita berdua di sini."


♥️♥️♥️