
DERA
Kak Zayn meninju bahu asistennya dari belakang. Mulut yang memang biasa asal ceplos itu memang terkadang sangat menyakitkan kalau bicara. Bisa-bisanya dia menyamakan aku dengan kucingnya di kampung.
"Kakak, aku mau Asisten Kai turun dari mobil," ucapku sambil bersandar di lengan kokoh suamiku.
Asisten Kaisar langsung menoleh ke belakang, Mang Ujang yang sedang menyetir terlihat menahan tawa.
"Aduh Nona Bos, ampun."
"Suruh Asisten Kaisar naik ojek online Kak, kita ikutin dari belakang," pintaku dengan merengek-rengek seperti anak kecil pada Kak Zayn.
"Kamu denger kan, Kai?" tanya Kak Zayn dengan nada yang terdengar membentak.
"I-iya Bos," jawab Asisten Kaisar yang kemudian mengeluarkan ponselnya. "Ini saya pesan langsung, Bos."
"Hemm," sahut Kak Zayn. "Kamu mau apa lagi, Queen?" Kak Zayn kini beralih menatapku, lalu mencium tanganku.
"Pokoknya aku mau lihat Asisten Kai naik ojek online," ucapku sambil menatap kesal pada Asisten Kaisar yang sudah mengatai aku seperti kucingnya di kampung.
"Iya Nona, Bos. Saya akan naik ojek online."
Selang beberapa saat kemudian, sebuah motor berhenti di depan mobil kami, Asisten Kaisar langsung beranjak menghampiri bapak-bapak itu.
"Mang Ujang ikuti Asisten Kaisar ya, jangan sampai kabur!" titahku pada sopir yang biasa mengantarku ke mana-mana, kini beliau harus ikut ke kantor juga.
Mobil berjalan beriringan dengan motor yang ditumpangi Asisten Kaisar. Tidak berapa lama, motor itu berhenti di tepi jalan.
"Mau ngapain tuh Asisten Kai, jangan-jangan mau kabur!" gerutuku yang semakin kesal.
"Kayaknya dia terima telfon, Queen," kata Kak Zayn yang juga sedang memperhatikan gerak-gerik asistennya.
Tidak berapa lama, motor mereka kembali jalan, tetapi saat di lampu merah, motor itu malah belok ke kanan, padahal seharusnya arah ke kantor itu jalan lurus.
"Kok mereka belok, mau ke mana itu, Kak?"
"Nggak tau Queen, kita ikuti aja."
"Pasti Asisten Kai mau kabur."
Cukup lama kami mengikuti Asisten Kaisar, sampai akhirnya kami berada di jalan yang tidak asing.
"Mau ngapain Kai ke rumah?"
Rumah yang Kak Zayn maksud adalah rumah besar peninggalan almarhum Kakek Darma, kakek buyut Kak Zayn.
"Kakak, dia kabur," aduku pada suamiku.
"Mang Ujang langsung masuk aja," perintah Kak Zayn.
Setelah kami sampai di halaman rumah, mobil Papa Elvan juga baru saja sampai, sementara asisten itu entah pergi ke mana.
"Papa lihat Asisten Kaisar?" tanyaku pada mertuaku yang baru turun dari mobilnya.
"Udah masuk, kalian cepat masuk juga!" kata Papa Elvan yang langsung berjalan cepat masuk ke rumah.
"Ada apa sih?"
"Nggak tau."
Aku dan Kak Zayn berjalan mengikuti Papa yang terburu-buru.
"Lagi, kejadian lagi," kata Papa yang belum sempat duduk.
"Aku nggak ngelakuin apa-apa, Pa," protes Zayyan yang langsung berdiri.
"Dulu kakak kamu, sekarang kamu, Ya Allah anak laki-lakiku kenapa begini semua?" Papa duduk di sofa. Mama dengan sigap memijat pundaknya.
"Ada apa sih Ze?" tanya Kak Zayn pada kembarannya.
"Si Zayyan kepergok sama aku dan Mama, entah lagi ngapain. Nih!" Kak Zea menunjukkan gambar sebagian tubuh Putri yang sedang tiduran di atas tubuh Zayyan, sedangkan Zayyan memeluknya.
"Maaf Tuan Besar, kemarin saya juga memergoki Tuan Muda keluar dari kamar adik saya, keadaannya mereka baru selesai mandi keramas, dan adik saya minum sesuatu yang saya tidak tahu apa."
"Kakak, itu kan vitamin. Aku kemarin habis kehujanan," protes Putri yang langsung ditahan tangannya oleh Zayyan.
"Papa nggak tau dosa papa itu apa sampai kalian begini." Papa menunduk sambil memegang kepalanya.
"Maafkan aku Pa, aku siap ngelakuin apapun yang papa mau, termasuk menikahi Putri," kata Zayyan.
❤❤❤
...Ah, mantenan lagi deh. Pusing aku nyewa EO. nyewa segala macem, mana ini kan masih korona 🥲🥲🥲...
Adakah yang bersedia membantuku 🤭🤭🤭
Eh, aku up 3 bab yah.. banyak amat, tumben ya aku 🤭🤭🤭
Iya, aku termotivasi dari komentar kalian yang seneng si zayyan digrebek 🤭🤭🤭 makasih sayang sayangku 🥰🥰🥰