
"Kamu ada mengajukan magang di kantor cabang ya, Ra."
Saat ini, Kak Zayn mengajakku berjalan menyusuri keindahan pantai di sore hari.
"Iya, sama Nadia juga. Kenapa?"
Aku memperhatikan wajahnya yang tampan dengan rambut tebalnya yang bergoyang-goyang diterpa angin.
"Aku mau tempatin kamu di kantor sama aku," kata Kak Zayn yang membuatku menghentikan langkah.
Apa ini? Dia tidak sedang berencana mengerjaiku kan? Meskipun kami sudah sama-sama menyatukan cinta, tapi bukan berarti sikap menyebalkannya itu bisa berubah tiba-tiba kan?
"Kenapa harus sekantor?"
Kak Zayn menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
"Karena aku dan Kai yang akan menjadi pembimbing magang, kamu harus belajar sungguh-sungguh." Kak Zayn menarik tanganku, untuk melanjutkan lagi langkah kami menyusuri pantai.
"Mana bisa gitu?" Sepertinya aku mencium bau-bau kerja rodi, kalau sampai aku benar-benar ditempatkan di
"Ya bisalah, aku kan bosnya."
Ya Tuhan, dari dulu tujuan utamaku magang di perusahaanya memang untuk bisa lebih dekat dengannya, tapi setelah memahami karakter Kak Zayn yang sesungguhnya, aku jadi ragu mau dekat-dekat dengannya di kantor.
*
*
*
Masa liburan alias bulan madu kami harus berakhir, setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bali. Saat ini aku dan Kak Zayn telah kembali ke ibu kota. Kak Zayn yang super sibuk, mendadak harus terbang ke Singapura untuk rapat dadakan.
"Aku di sana mungkin dua atau tiga hari, kamu yakin nggak mau ikut?" tanya Kak Zayn saat kami sampai di apartemen dan langsung bersiap untuk penerbangannya.
Aku mengeluarkan seluruh isi koper milik Kak Zayn dan menggantinya dengan pakaian kerja dan keperluannya selama di Singapura.
"Nggak deh, kan Kak Zayn kerja. Aku juga masih capek banget mau istirahat aja di rumah Mama,” jawabku masih sibuk memasukkan beberapa perlengkapan Kak Zayn,
"Em, iya deh. Kalau kamu ikut sepertinya aku juga nggak akan bisa konsen. Si Juna pasti nggak mau tidur,” kata Kak Zayn yang membuat pipiku terasa panas.
"Apaan sih Kak."
"Aku pasti kangen sama kamu." Kak Zayn tiba-tiba memelukku dari belakang. "Tapi awas ya kalau sampai kamu main ke klub,” kata Kak Zayn yang membuatku menoleh ke arahnya.
“Maksud kamu hari sial itu waktu kamu ngikutin aku sampai ke apartemen ini?”
“Emm”
“Jadi itu hari sial? Ketemu aku juga sial?” Kak Zayn melepaskan pelukannya dariku.
“Aduh, aku salah ngomong. Nggak gitu maksud aku Kak.” Aku berbalik dan ganti memeluknya. “Maksud aku bukan gitu Kak, maksud aku tu, coba kalau aku ketemu laki-laki lain bukan Kak Zayn, mungkin aja aku sudah kehilangan kehormatan aku dan kita nggak mungkin menikah kan?” Aku menatap mata suamiku itu dalam-dalam. menyentuh tonjolan yang lumayan besar di lehernya itu.
Beberapa minggu menikah, baru kali ini aku memperhatikannya secara langsung. Jakun yang indah itu bergerak naik turun saat aku menyentuhnya.
“Tapi, Tuhan menakdirkan aku yang kamu temui, dan akhirnya aku juga yang mengambil kehormatanmu, kan?” Kak Zayn masih menengadah, membiarkanku menyentuh jakunnya.
“Apa sih, udah ah. Mandi dulu sana Kak, nanti ketinggalan pesawat loh.” Aku mendorong tubuh Kak Zayn sampai masuk ke kamar mandi.
"Mandi sekalian yuk," ajaknya sambil menarik tanganku masuk ke kamar mandi.
"Ih, nggak ah. Nanti Kak Zayn nggak jadi mandi, aku mau beres-beres dulu." Aku melangkah keluar kamar mandi, tapi Kak Zayn langsung meraih tubuhku dan mengunci pintu kamar mandi.
"Ayolah, Sayang. Anggap aja kasih salam perpisahan ke Juna." Kak Zayn langsung membungkam mulutku sebelum aku menjawab.
Ternyata, suamiku benar-benar laki-laki yang agresif. Untung saja dia ke Singapura dua hari. Jadi, aku bisa istirahat setelah ini.
♥️♥️♥️
Ada yang kangen nggak?
Maaf ya, seharian Othor males ngapa-ngapain, males ngetik, males mikir juga.
Eh, tapi ada yang nunggu nggak sih 😅😅
Dah lah, jangan protes, othor makin mager nanti.
Kasih saran boleh, asal yang sopan ya.
Tapi, kalau sarannya yang panjang thor, kurang panjang, mon maap, biarkan si Juna aja yang panjang 😅😅😅
Jejaknya dulu,
Sampai ketemu lagi 😘😘