
Aku menoleh pada Kak Zayn yang kini berjalan ke arahku.
"Mau juga dong dipeluk," katanya setelah mendekat.
"Udah punya istri juga nggak malu apa masih manja sama Mama," protes Kak Zea yang malah diabaikan oleh Kak Zayn.
"Sini peluk aku, Ra, Ma." Kak Zayn menarikku dan Mama dalam pelukannya, mengabaikan Kak Zea yang menggerutu sambil geleng-geleng kepala.
"Kak, malu tau diliatin orang." Aku berusaha melepaskan pelukan Kak Zayn.
"Biarin aja Dera, suami kamu ini emang manja sekali, Mama cuma bisa pasrah sama kelakuannya," kata Mama.
"Pa, liat tuh anak sulung Papa." Suara Kak Zea membuatku menoleh, dan Kak Zayn melepaskan pelukan kami.
"Kang ngadu." Kak Zayn menarikku untuk mendekat dengannya. Sementara Papa Elvan dan Zayyan berjalan ke arah kami.
"Sabar ya Dera, yang kamu nikahin itu anak manja." Lagi-lagi Kak Zea menggerutu.
Kak Zayn hanya membalasnya dengan membuka mulut tanpa suara, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"Zayn, mobil kamu kenapa?" tanya Papa.
Kami semua duduk di kursi luar toko, Mama menyuruh pegawainya untuk menyuguhkan kue dan minuman.
"Aku sama Dera rencananya mau pergi liburan ke villa, Ma, Pa." Kak Zayn menyeruput kopinya yang baru saja dihidangkan pegawai Mama. Ia tampak mengernyit, pasti karena kepanasan.
“Kalian mau honeymoon lagi?” tanya Zayyan dengan hati-hati.
Cowok lembut yang dulu mengejar-ngejarku itu, kini sangat jarang menatapku saat berkumpul seperti ini.
“Anggap aja gitu, kita kan lagi usaha buat kasih kamu ponakan,” jawab Kak Zayn yang malah menatapku, membuatku jadi tersipu malu dengan tatapan matanya itu.
“Aamiin semoga doa kalian segera terkabul,” kata Zayyan.
“Aamiin.” Kami semua mengamini doa Zayyan.
“Berarti sekarang kamu sudah lulus ya, Dera?” tanya Kak Zea.
“Iya Kak, tinggal nunggu wisuda aja.”
Kak Zayn mengajakku berlibur ke villa yang ternyata berada di tepi pantai. Kata Kak Zayn, vila ini milik kakeknya yang masih dirawat dengan baik, kadang juga ada yang menyewa untuk menginap. Ada seorang pekerja yang bertugas mengurusi vila ini.
“Mama itu suka sekali sama pantai, sampai-sampai Papa bikin satu rumah khusus di pantai buat mereka menghabiskan weekend,” kata Kak Zayn saat kami berjalan menyusuri tepi pantai yang cukup ramai.
“Oh ya, di sini juga?” tanyaku sambil menatapnya yang berjalan di sampingku.
“Bukan, di pantai lain lagi, ini kan villa kakek.” Kak Zayn menghentikan langkahnya, lalu menatapku. “Kamu mau tinggal di mana untuk hari tua kita nanti?"
"Kak, apa kita akan bersama sampai tua?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Apa kalau aku tidak bisa hamil Kakak akan tetap setia sama aku? Bukannya aku pesimis, aku hanya ingin tahu saja."
"Memangnya kalau aku jawab aku tidak akan meninggalkan kamu, kamu akan percaya? Kalau aku bilang, aku akan mencari wanita lain, apa kamu akan ganti meninggalkanku?" Kak Zayn memegang pundakku, membuatku mendongak untuk menatap matanya. "Kita nikmati takdir kita, semuanya sudah digariskan Tuhan, Ra. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, itu hanya akan membuang-buang waktumu."
"Tapi …."
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Kak Zayn sudah menutup mulutku dengan bibirnya.
"Jangan dengarkan apapun dari siapapun, aku hanya milikmu, dan kamu hanya milikku. Kalau kita tidak memiliki anak, kita akan mengadopsi bayi dan membesarkannya seperti anak kita sendiri."
♥️♥️♥️
...Dera, udah aku bilangin sabar ya sabar. Jangan insecure, tetep optimis, Kikim aja nggak rewel langsung aku buat hamil, padahal baru lepas KB 🤣🤣🤣 Keep calm ya, pembacanya biar nggak demo. Dikiranya aku nggak adil sama kamu, padahal aku lagi siapin yang spesial loh buat kamu, Ra....
Jangan lupa ritualnya,
Aku catet atu² 🤭🤭🤭
Next mungkin aku ambil komentar paling menarik buat give away, jadi belajar komen yg baik mulai sekarang ya 🤭🤭
Sampai ketemu lagi gaess 😘😘😘