
Seperti seorang pencuri yang aksinya diketahui, Kak Zayn langsung berpura-pura tidur dengan dengkuran halus. Aku tahu ini hanya alibinya saja supaya dia tidak malu karena tertangkap basah sedang bermain-main dengan tubuhku.
"Kak Zayn ngapain? Aku tahu Kak Zayn pura-pura tidur." Aku menepuk wajahnya dengan satu tangan.
Kak Zayn tidak bangun juga, malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuhku. Dia sama sekali tidak peduli dengan ucapanku. Wajahnya tetap tenang seperti orang yang benar-benar tertidur.
Lalu, aku mencubit lengannya supaya ia terbangun. Sekali cubitan, dua kali cubitan, tidak mau bangun juga, akhirnya aku memaksa untuk berbalik badan. Niatku hanya ingin mencubit hidungnya supaya dia kesulitan napas dan terbangun, tapi yang terjadi malah di luar prediksiku.
Kak Zayn membuka mata dan langsung memposisikan wajahnya tepat di atasku, lalu melu*mat bibir bawahku dengan cepat. Aku yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu hanya bisa diam, lalu Kak Zayn membelitkan lidahnya di lidahku, membuatku tak kuasa menolak dan akhirnya menikmati juga.
Bodoh! Seharusnya aku menolak kan, tapi kenapa aku malah menikmati setiap gerakan lidah dan bibirnya yang seakan membuatku melayang, nikmat!
Kak Zayn terus bermain dan membuatku kesulitan bernapas.
"Maaf," katanya sambil menatapku.
"Kak Zayn ngapain sih?" tanyaku setelah berhasil menetralkan napasku.
"Nggak ngapa ngapain, cuma pengen nyium kamu aja, salah?" Nada bicaranya kembali terdengar menyebalkan.
Bukannya minta maaf dengan tulus dan merasa bersalah, dia malah menjawab seenaknya dan membuatku semakin kesal dengannya.
"Nggak cuma nyium, tapi Kak Zayn juga … itu di dadaku," protesku dengan lirih
"Itu apa?" Kak Zayn kembali mendekat, dan bersiap menciumku.
Tidak mau kembali mengulang ciuman yang membuatku lemah, aku mendorong dada Kak Zayn sebelum ia berhasil menyerangku lagi.
"Apaan sih, Kak Zayn tu mau apa sebenarnya? Katanya tidak akan menyentuhku sebelum Kak Zayn cinta sama aku, tapi sekarang apa?" Aku melotot seakan aku marah besar, padahal sebenarnya aku juga suka dan menikmatinya.
"Tapi sekarang aku mulai cinta sama kamu, Ra. Apa kamu masih tidak mengizinkan aku menyentuhmu?" tanya Kak Zayn dengan ekspresi wajah yang minta dikasihani.
Aku jadi tidak enak dan merasa iba melihatnya, bagaimanapun juga dia suamiku.
Kemarin-kemarin tanpa perasaan dia meremehkanku, sekarang saatnya aku membalas Kak Zayn.
"Ya nggak boleh lah," jawabku seraya membalik badan, menarik selimut lalu memejamkan mata.
"Aku benar-benar mulai cinta kamu, Ra," kata Kak Zayn lirih.
"Buktikan!" balasku dengan ketus.
"Oke, nanti aku buktikan. Maaf ya, Ra."
Aku membuka mata, dan kulihat Kak Zayn yang sedang menatapku. Kasihan sekali sih, tapi Kak Zayn itu plin-plan dan penuh kepura-puraan. Bisa saja kali ini dia cuma akting saja.
"Sabar ya Juna, kita senam lagi," kata Kak Zayn sebelum menghilang di kamar mandi.
Rasain kamu Kak Zayn, emang enak. Siapa suruh jadi orang menyebalkan. Eh, tapi Juna siapa sih? Apa jangan jangan Juna itu pisangnya Kak Zayn? Kenapa juga disebutnya Juna?
Memikirkan Juna, aku jadi menerka-nerka seperti apa wujud aslinya? Apa sebesar sosis jumbo? Atau segeda pisang? Pisang kan banyak juga. Pisang yang mana?
♥️♥️♥️
...Pisang unyil kali, Ra 🤣🤣🤣 Sabar, pokoknya kalau kontrak belum turun, jangan harap ketemu Juna 😂😂😂...
Segini aja lah ya, udah pada nungguin kayaknya. Mohon maaf, otak Othor yang suci ini sulit berpikir kalau ada adegan cium cium gini 🤣🤣🤣
Jangan lupa ritualnya ya, kembang kopinya banyakin 😂😂
Sampai ketemu lagi 😘😘😘