
DERA
Pagi-pagi begini, paling bagus mengajak anak-anak jalan ke sekitaran komplek, karena ktulah aku membangunkan Kak Zayn supaya bisa mendapatkan momen jalan pagi bersama anak-anak.
Walaupun ketiga anak kami mempunyai pengasuh masing-masing, tapi terkadang aku juga melibatkan Kak Zayn untuk urusan mengasuh, karena aku tidak mau mereka kekurangan kasih sayang dan kedekatan bersama ayahnya.
Kami hanya berdua, Kak Zayn mendorong stroller Valen dan Ellea, sedangkan aku mendorong stroller Leonel.
"Kita jalan-jalannya bentar aja ya, aku udah suruh Kai datang tadi," kata Kak Zayn setelah kami keluar dari rumah.
"Ngapain pagi-pagi gini ngerecokin orang? Kakak jangan suka gangguin Asisten Kai dong, ini kan hari minggu, waktunya santai quality time bareng keluarga," omelku yang membuat Kak Zayn berkedip-kedip.
Laki-laki kalau tidak diomeli, mana paham bedanya waktu bekerja dan waktu untuk keluarga. Semua dianggap sama, padahal mereka bekerja juga untuk keluarga, kenapa malah waktu untuk keluarga dibiarkan berlalu begitu saja?
"Cuma mau bahas sekrestaris baru Ra," jawab Kak Zayn sambil garuk-garuk kepala.
"Nggak ada, bahas besok aja di kantor. Emangnya rumah kita itu kantor?"
Aku kembali mendorong kereta bayi milik Leonel, lalu Kak Zayn menyusul di belakangku dengan mendorong Valen dan Ellea.
Setelah jalan-jalan cukup jauh dari rumah, aku mengajak Kak Zayn untuk kembali. Aku harus menggendong Ellea yang tiba-tiba menangis, sehingga Kak Zayn kini mendorong Leon dan Valen.
"Ribet kan kalau nggak bawa suster?" gumam Kak Zayn.
Aku masih berusaha menenangkan Ellea yang menangis, sedangkan Kak Zayn mendorong kereta bayi sambil sesekali mengamatiku dan Ellea.
"Mereka itu anak-anak kita bukan anak-anak susternya."
"El mau gendong Daddy nggak?"
Kemudian, aku pun memindahkan Ellea ke gendongan Kak Zayn. Baru sebentar ternyata bayi empat bulan itu mau diam juga.
"Tuh, El aja nggak tega Daddy diomelin Mommy, iya kan? Anak Daddy emang pinter banget sih." Kak Zayn menciumi pipi Ellea.
"Pakai gendongannya Kak."
Untungnya Ellea sudah kuat menyangga kepalanya, sehingga gadis itu terlihat nyaman dalam asuhan Daddynya.
"Kak Zayn aneh-aneh aja, awas kalau jatoh!"
Akhirnya, kami sampai di rumah dengan selamat. Asisten Kaisar dan Dara sudah menunggu kami di kursi teras yang lebih mirip lobi hotel.
Para pengasuh bayi itu mulai berhamburan keluar menggedong bayi-bayi yang menjadi tugas mereka.
Sekarang, hanya ada aku, Kak Zayn, Asisten Kai dan Dara. Aku duduk di sebelah suamiku, berhadapan dengan Asisten Kaisar dan istrinya.
"Kamu ada kriteria untuk gantiin Lusi?" tanya Kak Zayn tanpa basa-basi. Ia langsung menanyakan soal pekerjaan pada asistennya itu.
"Kalau Dara gimana Bos?"
"Setuju!" Aku langsung menyahut tanpa peduli tanggapan Kak Zayn, karena tiba-tiba aku memiliki rencana untuk memanfaatkan keberadaan Dara di kantor.
"Aku tau isi otak kamu, Queen." Kak Zayn mengusap rambutku sambil tertawa.
"Ih, apa sih Kak."
"Denger ya, aku itu setia sama kamu Queen. Walau pun nggak ada Dara di kantor."
"Ya udah kalau gitu terima aja Dara. Dara, kamu bisa kan kasih laporan ke aku?"
"Queen." Kak Zayn tertawa dan memelukku dari belakang.
"Nyonya Bos, ini hanya sementara, kalau Dara hamil, dia akan berhenti."
"Nggak apa-apa. Masih ada Vivi juga."
"Vivi juga kamu manfaatin? Bener-bener kamu ya." Kak Zayn menggelitikiku di depan Asisten Kaisar dan istrinya.
❤❤❤End❤❤❤