
ZAYYAN
Usai ciuman singkat yang baru saja terjadi. Ada sedikit rasa bersalah karena aku mencium Putri tanpa seizinnya, walaupun dia istriku. Putri yang tidak memberikan reaksi membuat rasa bersalah itu mengganggu pikiranku.
"Maaf," kataku. Hanya itu yang terlintas di otakku saat ini. Aku tahu Putri pasti kecewa dan kesal padaku saat ini, ciuman pertama kami benar-benar tidak berkesan, dan itu karena aku teralu terburu-buru.
"Nggak apa-apa kok Kak, maafin aku yang belum biasa." Putri menundukkan kepala.
Aku meraih tangannya yang terasa dingin.
"Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan meminta hakku tanpa seizin darimu. Lagi pula kita masih punya banyak waktu untuklebih mengenal satu sama lain."
"Aku akan berusaha mencintai Kakak, dan menjadi istri yang baik." Putri menatapku, hal yang tidak kuduga adalah ia mencium tanganku.
Ini kali kedua ia melakukannya setelah hari pernikahan kami kemarin.
"Istri yang baik harus mencium tangan suaminya, 'kan?" Putri memainkan alisnya.
Syukurlah dia mulai mau tersenyum, senyum yang perlahan menghapus keraguan di hatiku.
"Pulang yuk! Banyak nyamuk di sini," ajakku.
Putri mengangguk, lalu kami berjalan menuju Nindy terparkir. Aku memberanikan diri menggandeng tangan Putri, menautkan jari-jari kami. Lagi-lagi Putri tersenyum. Semoga saja senyum itu bisa menjadi awal kebahagiaannya setelah menikah denganku.
...****************...
Beberapa hari setelah menikah, Putri mulai sedikit berubah. Ia menjadi lebih baik dari yang sebelumnya, dan aku bersyukur karena itu.
Setelah kejadian di taman, aku dan Putri memang masih seperti teman biasa. Kami lebih cocok disebut teman sekamar atau adik kakak daripada suami istri. Namun, itu jauh lebih baik daripada kami saling beradu argumen dan berakhir dengan saling marah.
"Kakak udah siap-siap ke Inggris ya?" tanya Putri saat aku mengeluarkan koper hitam milikku.
"Hem, dua hari lagi kan kakak berangkat," jawabku sekenanya. "Kenapa?"
Putri menatap pada koper yang masih kosong tak ada isi itu. "Nggak apa-apa, kira-kira Kakak nanti kangen aku nggak?" tanyanya.
"Em, mungkin aja, kalau kamu?"
Gadisku itu dia terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Mungkin juga, nggak tau lah, kita jalanin aja. Enam bulan itu nggak lama, 'kan?"
Putri mengangguk setuju.
"Asal jaga hati kamu, jangan sampai ada laki-laki lain yang menempati ruang yang seharusnya hanya ada namaku," kataku sambil mencubit hidungnya.
"Iya, Kakak juga. Jangan sampai ada perempuan lain di sana," kata Putri. Setelahnya ia menghambur dalam pelukanku. "Jangan ada orang ketiga di antara kita, Kak."
"Iya, aku janji, akan setia sama kamu Putri."
...****************...
Hari perpisahan pun tiba. Malam ini, aku akan meninggalkan Putri dan semua orang yang aku sayangi untuk menyelesaikan program studiku. Putri, Mama, dan Papa mengantarku sampai ke bandara. Berbagai kata-kata dan pesan terlontar dari bibir Mama dan Putri. Dua wanita itu, semoga saja mereka bisa akrab satu sama lain.
"Aku titip Putri, Ma."
"Iya, Sayang. Mama sama Papa pasti jagain Putri kok."
Aku tersenyum lega mendengarnya.
"Putri, kamu baik-baik ya. Kalau ada apa-apa bilang Mama, telfon aku juga. Kamu kuliah yang bener jangan kebanyakan main, yang bayar uang kuliah kamu sekarang bukan Mas Kai mu lagi," pesanku sambil bercanda.
Putri memelukku, cukup lama. Walau dia tidak menangis, tapi aku tau dia bersedih.
"Kakak jangan nakal ya di sana, ingat kita udah nikah!" katanya yang semakin mengeratkan pelukan di tubuhku.
"Iya, Putri. Kamu tau ngga, aku udah pasang gps di suatu tempat. Jadi, kalau kamu pergi kemana pun aku akan tahu," godaku yang membuat Putri melepaskan pelukannya.
"Serius?" tanyanya dengan mata membelalak lebar. "Niat banget sih, Kak."
"Biarin."
Putri mengerucutkan bibir dan bersedekap dada.
Aku harap, setelah ini semua akan menjadi lebih baik. Untukku, Putri, dan hati kami. Semoga Tuhan menguatkan ikatan pernikahan kami.
❤❤❤
Jangan lupa jempolnya diangkat semua 😍😍😍