Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 21


PUTRI


Beberapa minggu setelah liburan kami di puncak, au pikir aku akan benar-benar hamil lagi. Namun, pagi ini, aku kembali menelan pil kekecewaan. Darah yang seharusnya tidak usah keluar itu pagi ini kembali muncul. Seketika itu, rasa kesal dan kecewa menyelimuti hatiku. Aku benci datang bulan.


Kak Za yang sudah bersiap untuk pergi ke bengkel, menatapku yang keluar dari kamar mandi dengan muka cemberut.


"Kenapa sih?" tanyanya sembari memakai jaketnya.


"Coba lagi," jawabku malas.


Aku lebih memilih duduk di tepi kasur daripada membantu Kak Za merapikan rambutnya. Masa bodoh, aku sedang kesal.


"Ya udah nggak apa-apa, msih ada waktu kok, kita masih muda," balasnya menenangkan pikiranku.


"Aku bete, enaknya ngapain ya?"


"Kerjain tuh skripsinya!" Mata Kak Za menunjuk pada tumpukan buku dan laptop di meja belajarnya. Tentu saja itu milikku.


"Nggak ah, tambah bete."


"Ya udah, ke salon kek. Main kek," usulnya.


"Nafa kan bentar lagi mau lahiran, sama suaminya nggak boleh keluar rumah,."


"Ke rumah Kak Zayn, nengokin triplet," kata Kak Za yang terdengar ragu-ragu. "Siapa tau aja dengan menjalin kedekatan dengan bayi, kamu bisa ketularan juga kayak Dera."


Sebenarnya aku sedikit malas keluar rumah, tapi daripada semakin kesal mungkin lebih baik aku menerima usulan Kak Za. Toh, aku bingung mau melakukan apa di rumah, siapa tau Kak Dera punya resep supaya aku cepat hamil.


"Ya udah, tapi anterin."


Kak Za mengangguk. Lalu, setelah bersiap-siap, kami pergi ke rumah Kak Zayn dan Kak Dera.


*


*


*


Kami sampai di rumah Kak Zayn yang sangat mewah, ternyata Kak Dera dan Kak Zayn tengah mengajari si kembar yang sudah berusia hampir tiga tahun itu berenang. Ellea yang melihat kedatanganku langsung meminta keluar dari kolam renang.


"Onty, El kanen Onty," teriaknya setelah aku mendekat padanya.


"Onty juga kangen El. Eh Ellea basah, Onty udah mandi loh, nggak mau peluk-peluk ah, nanti basah."


Ellea tertawa. Ia menuntunku mengambil handuk miliknya.


"Nggak kerja, Kak?" tanya Kak Za pada kakaknya.


"Tadinya udah mau berangkat, eh mereka nangis minta renang."


"Mas Kai kok nggak ada?" tanyaku setelah memastikan kakakku tidak ada di rumah bosnya, karena biasanya Mas Kai itu akan ada di manapun bosnya berada.


"Udah ke kantor. Kalian udah sarapan?" tanya Kak Zayn.


"Udah kok."


"Udah Mommy, El mau main sama Onty aja," jawabnya.


"Val mau lenang lagi, Mom."


"Leon juga. Ayo Dad, ajali Leon lagi, Leon mau belenang ampe cana!"


"Udah kalian lanjut aja, biar El sama aku sama Putri, ya kan Put," kata Kak Za yang kini ikut membantu mengeringkan rambut Ellea.


"Oke deh. Titip satu ya," jawab Kak Za.


"Sarapan dulu, Put. Di dapur ada tumis kacang sama udang," kata Kak Dera.


Aku hanya mengangguk. Lalu, kami bertiga masuk ke rumah mereka yang sangat mewah. Banyak kamar dan ruangan di sini. Siapa pun yang tidak biasa datang ke sini pasti akan bingung dan tersesat, saking besarnya rumah mereka.


"Onty, El lapel, cuapin El mamam ya," ucapnya saat aku menemaninya berganti baju. Padahal pengasuhnya juga ada bersama kami.


"Iya, Sayang. Onty hari ini mau temani kalian main sampa onty capek," jawabku yang disambut senyuman cantik di bibirnya.


**


**


Selesai mengganti pakaian Ellea, aku menyuapi keponakanku itu. Ellea memang sangat dekat dan manja denganku, dibandingkan Leon atau pun Vallen kembarannya.


Kak Dera yang baru selesai menggantikan pakaian Vallen dan Leon menghampiri kami, sedangkan Kak Za ada di ruang tengah bersama Kak Zayn dan dua bocah kembar itu.


"Kamu udah cocok banget loh, Put. Apa kamu sama Zayyan masih menunda? Sorry ya, kalau aku ...."


"Nggak apa-apa Kak, santai aja. Kita udah nggak nunda sih, cuma mungkin belum dipercaya aja."


"Aku dulu juga lumayan sih nunggu kehadiran mereka. Dara juga sama."


"Iya sih Kak, nggak tau lah, tadi pagi aku udah kecewa berat. Padahal aku tuh udah telat seminggu loh, eh tiba-tiba tamunya datang."


"Oh ya. Emang kamu udah cek ke dokter?"


"Belum sih, Kak. Aku nggak mau kecewa aja. Tadinya mau nunggu sampai telat dua minggu, eh ternyata baru telat seminggu udah keduluan. Nggak kayak biasa sih, mungkin karena aku stres kali ya."


"Nggak kayak biasa gimana? Apa yang keluar cuma bercak-bercak gitu?"


"Iya, Kak. Kok Kak Dera tau?"


"Em, waktu hamil si kembar, aku juga gitu Put. Kayak datang bulan tapi pusing banget, tapi pas dicek ke dokter, ternyata aku hamil. Kamu nggak pengen tes aja, siapa tau kamu hamil beneran?"


Apa iya bisa begitu? Hamil tapi ada bercaknya. Kalau aku cek lagi, nanti hasilnya nggak keluar lagi gimana?


❤❤❤


...Selamat pagi. Eh hamil nggak ya. 😅😅😅...


...Mau dilanjut sampai ngidamnya juga nggak nih? Apa langsung lahiran aja? Komenin dong 🥰🥰 Biasanya dari komen kalian itu aku dapat ide lain 😅😅😅...


Jangan lupa ritualnya 😉😉😉