
ZAYYAN
Cahaya terang sudah mulai mengintip di balik tirai rumah sakit. Aku merasakan tubuhku sangat pegal-pegal. Sepertinya karena aku tidak bergerak sama sekali saat tidur sambil memeluk Putri. Ibu hamil di sampingku ini tidur sangat nyenyak.
Perlahan, aku menggerakkan tangan. Sangat berhati-hati supaya Putri tidak terganggu tidurnya.
Setelah berhasil lolos ke kamar mandi tanpa membangunkannya. Aku dikejutkan oleh Mama yang datang membawa banyak makanan.
"Sarapan dulu, Za. Mama udah masakin buat kamu, sama buat Putri juga. Mama juga udah belikan susu hamil biar anak kalian sehat," kata Mama sembari menata makanan di atas lemari kecil di samping tempat tidur Putri.
Mama memang terbaik untuk urusan perhatian, beliau selalu bisa diandalkan untuk hal sekecil apa pun.
"Mama ke sini sama siapa?" tanyaku seraya mendekat pada Mama yang masih sibuk mengeluarkan makanan.
"Sama Papa, tapi mama tinggal karena papamu lagi telfonan tadi."
Putri membuka mata, ia mencoba bangun tapi aku langsung mendekat dan membantunya.
"Mau sarapan bubur Put, mama udah masakin, atau mau sarapan sayur bening, ada bayam jagung, labu sama wortel." Mama menawarkan makanan yang sudah selesai diletakkan di meja kecil itu.
"Nanti aja, Ma. Aku belum laper," kata Putri.
"Ya udah mau minum susu nggak? Ingat kamu sekarang nggak makan untuk diri kamu sendiri, tapi untuk bayi yang ada di perut kamu juga," tutur Mama yang mencoba membuat Putri mau makan.
"Em, iya deh Ma. Aku makan pakai sayur, biar dia sehat." Putri mengusap perutnya yang rata. Ada rasa bahagia dan lega di hatiku saat Putri bisa menerima kehamilannya.
"Mama suapin ya." Mama mengambil nasi dan juga sayur, lalu kembali duduk di samping Putri dan menyuapi menantu bungsunya itu.
"Za, kalau kamu kuliah, biar mama yang temani Putri di sini." Kata-kata Mama membuyarkan lamunanku dan lebih asyik memandang dua wanita itu. Mama sangat perhatian sama Putri.
"Iya, Ma. Aku nggak ada jadwal kok, mungkin besok ada janji ketemu dosen untuk skripsi aku."
"Oh, ya udah bagus, kamu bisa jagain Putri. Jangan diambil hati Za, orang hamil kadang emang sensitif banget." Mama terus menyuapi Putri dengan telaten.
"Iya, Ma. Aku tau kok."
Setelah Mama selesai menyuapi Putri. Papa masuk dan menanyakan keadaan Putri.
"Siap-siap kamu Za, orang hamil biasanya suka yang aneh-aneh," kata Papa yang terdengar lirih.
Mama hanya tersenyum lalu membantu Putri meminum susunya.
"Bener tuh Pa, waktu hamil si Dera pernah minta bakso tengah malem, minta roti john, minta lapis kukus." Kak Zayn yang batu datang ikut menyahut. Ia datang bersama Dera, istrinya.
"Putri, gimana keadaan kamu?" tanya Dera yang kemudian meletakkan buah di meja.
"Udah baikan kok Kak. Si kembar nggak diajak?"
"Nggak, rumah sakit kan banyak penyakit, nanti kalau kamu udah sehat aja aku bawa mereka main ya."
Mama dan Dera menemani Putri mengobrol, sementaravaku menemani Kak Zayn dan Papa.
"Nggak nyangka ya Zayn, Zayyan kita udah mau jadi ayah," kata Papa yang duduk di sebelah Kak Zayn.
"Iya Pa, padahal mukanya masih kayak anak-anak kan?"
Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Kak Zayn. Memang, terkadang mereka masih menganggapku anak kecil.
"Oh iya Za. Jangan lupa, kalau masih kandungan lemah gitu biasanya harus puasa."
"Iya, Kak aku tau kok."
"Dokternya Putri siapa sih, Za?"
"Dokter Heru."
"Lah, laki dokternya?"
Aku hanya mengangguk, karena memang yang memeriksa keadaan kandungan Putri adalah dokter laki-laki.
"Queen, dokter kandungan kamu kerja di sini juga nggak sih?" tanya Kak Zayn setengah berteriak.
"Dokter Nayla? Kayaknya enggak deh, Kak."
"Tuh, mending pindah ke dokternya Dera, Dokter Nayla perempuan Za. Emang kamu rela kalau nanti Putri dipegang-pegang sama dokter cowok? Kalau aku sih enggak."
♥️♥️♥️
Kak Zayn mana rela. Dia aja sampek mau bikin rumah sakit di dalam rumah 🤣🤣
Jangan lupa jempolnya, biar pun telat update, komennya tetep aku pantau ya 🤣🤣🤣