
(Part Kaisar Dara, nggak ada Kak Zayn ataupun Dera ya)
KAISAR
Memiliki bos super kaya dan juga baik hati seperti Bos Zayn, memang anugerah yang selalu aku syukuri. Walau terkadang dia sangat menyebalkan dan seenaknya sendiri, tapi aku selalu mengingat kebaikan hatinya yang membawaku sampai di posisi ini.
Semua berawal dari beberapa tahun lalu, saat itu aku yang seorang mahasiswa tingkat akhir bertemu dengan adik tingkat yang masih sangat muda. Tanpa sengaja, ia mendengar obrolanku dengan adik perempuanku, bahwa ibu mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Saat itu, Zayn menawarkan bantuannya, dan karena itulah aku bersedia bekerja dengannya sampai detik ini.
Saat ini, aku sedang menikmati liburan gratis bersama Bos Zayn yang sedang berbulan madu bersama istrinya. Tadinya aku hanya bercanda untuk mengajak Dara —pacarku, ternyata Bos Zayn benar-benar mengajaknya juga. Suatu keberuntungan yang patut aku syukuri.
Hujan deras mengguyur resort yang mengapung di atas air ini. Benar-benar cuaca yang pas untuk pasangan yang sudah menikah, pas untuk berkembang biak. Andai saja aku dan Dara sudah menikah, mungkin kami juga sedang berkembang biak saat ini.
Baru saja muncul di pikiranku, gadis itu mengirimkan pesan untuk menemaninya ngobrol. Dengan senang hati, aku menghampiri Dara di kamarnya, memakai jas hujan yang merupakan salah satu fasilitas resort.
"Ada apa, Sayang? Jangan bilang kamu kangen?" godaku setelah Dara mengajakku masuk ke kamarnya.
"Kesepian aja aku, Mas." Dara duduk di tepi ranjang, sedangkan aku memilih duduk di kursi untuk menjaga jarak dengan Dara.
"Makanya aku tu pengen cepet nikahin kamu, biar kita nggak kesepian gini," ucapku dengan tulus.
"Aku baru lulus, Mas. Papa pasti nggak ngizinin kita nikah." Dara cemberut, terlihat sekali keraguan di matanya.
Dara memang anak orang kaya, papanya seorang abdi negara yang mempunyai jabatan cukup tinggi di jajarannya. Mendapatkan restu papanya Dara, adalah salah satu rintangan terbesar dalam hubungan kami saat ini.
"Sahabat-sahabat kamu udah nikah semua, tinggal kamu kan?" Aku menundukkan kepala, mencoba mencari jalan terbaik untuk hubungan kami.
"Ada satu lagi yang belum, Mas. Namanya Sheza, aku belum sempat kenalin kamu sama dia. Kalau papa nggak kasih restu kita untuk menikah gimana, Mas?" tanya Dara yang semakin cemberut.
Aku menghampirinya, memeluknya dan berharap ia akan merasa nyaman dalam dekapanku.
"Apa kita nikah lari aja, Mas?"
"Kawin lari maksudnya?"
Dara mengangguk cepat.
"Nggak, aku nggak mau. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu papa kamu, Sayang."
"Aku kenal papaku, Mas. Aku boleh pacaran sama siapa aja, tapi soal menikah nggak akan mudah." Dara terlihat memikikan sesuatu. "Gimana kalau kamu hamilin aku?"
Aku menggelengkan kepala dan menatap matanya yang berkaca-kaca. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang Dara katakan saat ini.
"Aku ini laki-laki bermoral, Ra. Jangan pernah berpikiran seperti itu. Kamu tau kan betapa sulitnya aku dan si bos untuk membawamu berlibur ke sini. Aku nggak mau merusak kepercayaan itu. Demi kamu, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk meminta restu supaya kita bisa menikah."
Belum sempat Dara membalas ucapanku, ponselku berdering. Sebuah telepon masuk dari Bos Zayn yang membuatku langsung menjawabnya.
"Ya. Halo Bos," ucapku setelah menjawab teleponnya.
"Kai, ajukan kepulangan kita, lusa kita pulang!" titahnya yang membuatku kaget juga.
"Bukannya jadwalnya lima hari di sini, Bos."
"Zea mau lamaran sama si cunguk menyebalkan itu, kamu urus kepulangan kita jadi lusa!" Telepon diputus sepihak. Tuan Bos kalau memberi perintah suka seenaknya. Jadi gagal kan liburan gratisnya.
♥️♥️♥️