
Selimut tebal bermotif garis-garis membalut tubuh lelahku. Setelah semalam bergulat dengan cucuran peluh, tulang dalam tubuhku terasa hancur berkeping-keping. Pegal-pegal di sekujur tubuh, nyeri dan perih di area inti membuat pagiku kali ini terasa berat.
Masalahnya, jika kemarin aku bisa bangun pagi dengan tubuh segar, maka pagi ini aku terbangun dengan rasa lelah luar biasa. Tenagaku seakan habis terkuras, dan juga apa ini? Sesuatu yang mengganjal di bawah sana membuatku tak bisa leluasa bergerak. Apalagi dekapan erat dari belakang tubuhku semakin memaksaku untuk pasrah.
Jam berapa sekarang? Kenapa cahaya matahari bisa menembus kaca besar itu? Dari kehangatan yang terpancar sepertinya ini masih cukup pagi.
Tok, tok, tok.
"Zayn, Dera. Kalian mau sarapan bareng nggak?" Suara Kak Zea menjadi satu-satunya alasanku untuk bangkit dari ranjang empuk ini.
Ya Tuhan! Aku kesiangan di rumah mertuaku. Bagaimana ini? Memalukan sekali!
Tanpa basa-basi, aku langsung menyingkirkan tangan kekar yang mengurungku dalam kehangatannya. Lalu, aku melepaskan Juna dari tubuhku, dan segera meraih bathrobe yang tergeletak mengenaskan di lantai.
"Iya Kak, bentar!" Buru-buru aku mengikat tali pengikat bathrobe putih tak berdosa itu, tidak lupa menutupi tubuh polos Kak Zayn yang tidak terganggu karena pergerakan dan teriakanku.
Setelah semua aman, aku segera menemui iparku yang telah menunggu di depan pintu kamar ini.
Dengan jantung berdebar karena terburu-buru, juga rasa tidak enak karena terlambat bangun, aku membuka kunci dan menarik handle pintu.
Kak Zea berdiri di hadapanku, wajahnya yang cantik terlihat segar dan berbinar, sepertinya saudara kembar suamiku ini sudah bersiap untuk pergi.
"Kamu baru mandi?" tanya Kak Zea setelah memperhatikanku sebentar.
"Belum Kak, ini mau mandi. Yang lain udah mau sarapan ya?" tanyaku sambil mengikat rambut tinggi-tinggi, supaya tidak terlihat berantakan di hadapan Kak Zea.
Sesaat kemudian, Kak Zea tersenyum. Sepertinya ia mengerti posisiku saat ini, yang menjadi alasanku terlambat bangun di pagi ini.
Sungguh ini sangat memalukan.
"Ya aku pikir kamu ingin sarapan sekalian sama kami, tapi sepertinya aku lupa kalau suamimu sudah pulang. Aku melihat tanda merah di lehermu." Kak Zea mengatakan itu dengan terang-terangan, membuat rasa malu menyelimuti hatiku. Ingin sekali tenggelam di dasar samudra saat ini juga.
"Ini …."
Belum selesai aku membuat alasan, Zayyan berhenti tepat di belakang Kak Zea. Tatapan mata Zayyan membuat lidahku semakin terasa kelu. Aku harus jawab apa?
"Ra, kamu ngapain di situ? Ambilin celana aku dong!" Suara Kak Zayn terdengar jelas di telingaku, aku yakin Kak Zea dan Zayyan juga mendengarnya.
"Ra, kamu ngobrol sama siapa sih?" Suara Kak Zayn kembali terdengar, kali ini terdengar lebih kesal.
"Iya iya bentar," jawabku lalu kembali tersenyum pada Kak Zea. "Maaf ya Kak, kayaknya aku sama Kak Zayn terlambat sarapan deh."
"Iya, aku paham kok. Nanti aku suruh bibi buat anter ke sini ya," kata Kak Zea pengertian.
"Makasih Kak." Aku menutup pintu kembali setelah Kak Zea berlalu pergi.
Kemudian, aku menghampiri Kak Zayn yang bersandar di headboard, dengan selimut yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara bagian atasnya dibiarkan polos begitu saja.
"Kamu ngobrol sama siapa?" tanya Kak Zayn yang menarikku untuk duduk di tepi ranjang.
"Sama Kak Zea, aku malu deh, bangun kesiangan." Aku menundukkan wajah.
Kak Zayn bergerak lalu memelukku.
"Kenapa malu, mama pasti ngerti kok," kata Kak Zayn sambil mencium wajahku.
"Kita pulang yuk, aku nggak nyaman di sini."
Sebenarnya bukan hanya karena terlambat bangun, tapi tatapan Zayyan juga membuatku tidak nyaman tinggal di rumah ini. Mungkin karena itu pula, Kak Zayn tidak membiarkanku dekat dengan Zayyan.
"Ini bukan karena terlambat bangun aja kan? Atau ada hubungannya juga sama Zayyan?"
♥️♥️♥️
Pulang yuk pulang 🙈🙈 sebelum kakak adik berantem nih.
Aku terlambat lagi 🙈🙈
Maaf ya, walaupun kesiangan aku tetap update kok 😍
Jangan lupa ritualnya,
Sampai ketemu lagi 😘😘😘