Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 173


ZAYYAN


Laki-laki mana yang bisa menolak saat wanita yang sudah halal menjadi miliknya, tiba-tiba menawarkan diri untuk dinikmati. Sesuatu yang selama ini sangat kujaga karena tidak ingin menyakiti perasaannya. Sekarang dia menawarkannya secara terang-terangan.


"Aku nggak tahu apa itu sakit atau nggak, dari yang aku denger itu akan menyakitkan, apa kamu benar-benar yakin?"


"Mau sekarang apa nanti, sakitnya akan sama aja kan, tapi kalau nanti-nanti dosaku malah makin banyak." Putri mengerucutkan bibir, entah kenapa ekspresi itu membuatku tidak bisa tahan untuk tidak menciumnya.


Bibirku kembali menyesap bibir Putri yang terasa kenyal. Secara perlahan, aku menuntun tubuh Putri untuk tidur telentang di kasur, dengan posisiku berada tepat di atasnya. Ciuman kami semakin lama semakin bernap*su.


Putri bergerak lebih agresif, ia berhasil melepaskan pakaian atasku.


"Tubuh Kakak keren banget," kata Putri. Ia mengusap dadaku, dan memainkan pu*tingku.


Gelenyar aneh semakin menyusup dalam aliran darah, aku pun tidak ingin kalah. Aku menarik lepas kemeja musim panas yang dikenakan Putri, yang tersisa hanya tank top crop yang menyangga dua bulatan yang tidak terlalu menonjol.


Aku menelan saliva dengan susah payah saat menyaksikan langsung perut Putri dan pundaknya yang terkespose.


Saat aku masih tertegun, Putri tiba-tiba melepaskan pakaian atasnya itu, membuangnya ke lantai, lalu menciumku dengan sangat agresif.


Aku tidak menyangka kalau Putri bisa se-liar ini. Ia mendorongku jatuh ke kasur tanpa melepaskan ciuman kami. Aku yang bingung harus berbuat apa, akhirnya hanya diam dan menikmati apa yang Putri lakukan.


Tiba-tiba ia melepaskan ciuman panas kami. Bulatan di dadanya terpampang jelas. Dia bergerak turuk menurunkan ritsleting celanaku, lalu menurunkan celanaku sampai ke lutut.


"O my God." Putri menutup mulutnya dengan tangan saat Jupiter yang belum sepenuhnya tegak, terbebas dari celanaku.


"Kenapa?" tanyaku. Jelas saja aku bingung dengan reaksi Putri.


"Ini nggak seperti yang di video Nafa." Putri mundur, menjauh dari tubuhku.


Kepalang tanggung, aku ganti menidurkannya di kasur, mencium lagi bibirnya yang mulai bengkak. Kakiku bergerak menurunkan celana yang tadi sudah dilepaskan Putri, sampai benar-benar terlepas, dan saat ini aku telan*jang bulat.


Tanganku menggenggam erat tangan Putri saat ciumanku turun ke lehernya. Lalu, menyesapnya dengan gemas membuat Putri mengeluarkan suara-suara yang membuat Jupiter semakin tegak. Setelah puas dengan lehernya, aku menyusuri bulatan yang tidak besar itu dengan menghisap ujungnya yang berwarna merah muda. Lucu sekali bentuknya.


Entah merasa geli atau bagaiamana, Putri melepaskan genggaman tangan kami. Lalu, ia menyurai rambut belakangku dengan kedua tangannya. Tanganku yang bebas bergerak menggenggam satu bulatan milik Putri yang menganggur.


Ternyata menghisap bulatan itu rasanya enak dan nyaman apalagi tanganku bisa bebas memainkan ujungnya yang berwarna pink ini. Gemas sekali!


Aku menikmati setiap erangan Putri, dan terus menghisapnya secara bergantian.


"Ah geli, tapi enak, Oh my God."


Kata-kata Putri terdengar lucu di telingaku. Aku berhenti menghisap karena sudah penasaran dengan bagian intinya.


Sambil kembali mencium bibirnya, aku membuka perlahan celana yang Putri pakai. Putri sendiri berusaha membantuku melepas celananya, tanpa malu-malu seperti yang ada di imajinasiku.


Dalam hitungan detik, pelindung tubuhnya hanya tersisa satu, yaitu CD warna hitam dengan renda-renda dan juga pita di bagian depannya. Membungkus gundukan daging yang sepertinya enak jika digigit.


"Kakak jangan dilihatin aja."


Aku menatap Putri yang rambutnya sudah acak-acakan tapi justru terlihat seksi di mataku.


"Aku buka ya?"


Ia mengangguk dengan cepat. Sangat yakin sekali kelihatannya.


Dengan jantung yang berdebar, berpacu dengan cepat, aku membuka satu-satunya kain yang tersisa. Satu-satunya kain yang menghalangi kami.


Satu, dua, tiga. Aku benar-benar menghitung dalam hati.


Dalam hitungan ke tiga, kain itu telepas dari kaki Putri. Menampilkan gundukan daging yang terbebas dari rerumputan. Sangat bersih, mungkin Putri rajin memotong rumputnya. Pandanganku tertuju pada cairan berwarna merah kecoklatan. Tidak, apa ini?


❤❤❤


...Maafkan aku Kak Za. Roman-romannya gagal unboxing deh 🤣🤣🤣...


Maaf ya, ntar kalau bunting pas kuliah, mental down, aku juga yg disalahin.🤣🤣🤣


Tolong jangan komentar negatif, semua orang mempunyai karakternya masing-masing, begitu pun Putri, yang masih labil. Mungkin kelihatan seperti ja*lang karena agresif, tapi ingat Zayyan itu suaminya. So, menurutku karakter Putri udah pas karena nggak semua perempuan bisa lembut seperti Dera, bisa aja galak dan sombong seperti Kimmora juga. So komentar yang baik ya. Nanti kalau aku dapat hidayah dari Dewa Anu, pasti unboxing 🤣🤣🤣


Selamat merayakan natal untuk kalian yang merayakannya 😘😘😘😘


Ritual jangan lupa, aku up 1 bab lagi 😍😍