Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 80


Jam kerja sudah habis, tapi belum ada tanda-tanda Kak Zayn mengajak pulang. Tiga hari ini ia selalu menghampiriku, lalu pulang bersama. Tidak tahu mengapa, hari ini berbeda.


"Bu Bos, tumben belum disamperin?" tanya Dara yang kini sedang membereskan mejanya.


Aku pun melakukan hal yang sama, menata berkas, pulpen dan membersihkan potongan kertas yang sengaja aku gunting saat Pak Riko tidak memberi pekerjaan.


"Nggak tau, biar aku samperin aja. Apa jangan-jangan aku ditinggal?" Aku terkekeh membayangkan hal konyol yang mungkin saja Kak Zayn lakukan.


"Ngaco, mana ada suami ninggalin istrinya di kantor." Dara ikut terkekeh.


Pak Riko menghampiri kami. Bapak dua anak itu sudah bersiap pulang dengan menenteng tasnya.


"Nona, Tuan Bos belum datang?" Ia melirik jam di pergelangan tangannya.


Aku menggeleng, lalu meletakkan pulpen dan gunting di wadah pensil. Meraih tas dan berdiri untuk pulang.


"Biar saya ke ruangannya, hati-hati di jalan semuanya. Sampai ketemu besok." Aku melambaikan tangan pada semua rekan kerja yang satu ruangan denganku. Walaupun aku bos mereka, tapi saat ini karyawan magang dalam tim ini.


"Hati-hati Bu Bos." Mereka semua kompak memanggilku seperti itu, walau aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak suka dipanggil begitu, tapi lama-lama aku pasrah. Bisa apa satu orang melawan puluhan orang begini. Apalagi mereka tidak ada takut-takutnya sama sekali setelah bersama hampir seminggu ini.


Setelah naik lift dan sampai di ruangan suamiku, dua wanita yang membantu pekerjaan suamiku itu juga bersiap untuk pulang.


"Pak Zayn lembur?" tanyaku pada dua wanita cantik itu.


"Sepertinya begitu Nona, Tuan Bos dari tadi belum keluar, ada di dalam bersama Pak Kaisar," jawab Vivi, salah satu sekretaris Kak Zayn.


Aku berjalan memasuki ruangan Kak Zayn dan langsung membuka pintu yang tidak terkunci. Namun, satu keanehan yang kulihat membuat bulu kudukku meremang.


"Kak Zayn," teriakku saat melihat Asisten Kaisar berjongkok di hadapan Kak Zayn, tepat di depan kakinya. "Kalian ngapain?" tanyaku langsung menghampiri keduanya.


"Kai numpahin air ke celanaku Ra, ini sudah hampir kering." Kak Zayn membela diri. Memang di paha Kak Zayn terlihat tumpahan air yang lumayan banyak, tapi masa iya sih Kaisar yang bersihkan tumpahan itu.


"Kalian, jeruk makan jeruk? Mentang-mentang aku tanggal merah?" Aku menatap tidak percaya pada dua manusia yang mencurigakan itu.


"Nona, jangan sembarangan ngomong ya, walaupun saya diancam phk, saya nggak akan mau nganu-nganu sama si Bos." Asisten Kaisar membuang tisu yang bekas ke tong sampah dengan kasar, wajahnya juga terlihat kesal.


"Bohong!" sinisku sambil mencebik, dengan dua tangan yang kusilangkan di dada.


"Alah sekarang pasti sudah lemas, kan udah ketahuan," balasku masih dengan nada sinis.


"Ampun deh Ra, jangan negatif thinking terus." Kak Zayn menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bos, sebenarnya ini masalah rumah tangga, tapi masalahnya saya juga dituduh Bos, saya nggak terima lah, Bos."


"Kamu sih, pake acara numpahin minuman, mau kupecat kamu?"


Asisten Kaisar menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Nona, kadang apa yang kita lihat itu belum tentu kenyataannya begitu," kata Asisten Kaisar dengan nada tenang. "Kalau saya sama Bos nganu-nganu, mana bisa kalau gak dibuka ikat pinggangnya, itu resletingnya masih utuh! Itu gelas di meja masih tergeletak belum saya bereskan." Asisten Kaisar menunjuk gelas yang tumpah di meja.


Memang posisinya masih tergeletak, ritsleting celana Kak Zayn juga masih utuh, ikat pinggangnya juga masih rapi. Apa iya aku cuma salah paham?


"Kalau Nona masih tidak percaya, saya bakalan dipecat kayaknya." Asisten Kaisar menunduk lesu.


Aku menatap Kak Zayn yang juga terlihat frustasi.


Lalu, aku meraba Juna yang terasa lemas, dengan gerakan mere*mas, Juna mulai terasa keras.


"Ra, kamu sengaja bangunin Juna? Kamu harus tanggung jawab ya, Ra." Kak Zayn menempelkan kepalanya di pundakku.


"Asisten Kaisar, kalau dalam dua minggu kamu masih jomblo, aku anggap yang kalian lakukan tadi itu sesuatu yang menyimpang!" Aku memperingatkan kepada Asisten Kaisar yang seketika membuatnya melotot seakan tidak percaya.


Dia ganteng, penghasilan lumayan, kehidupan sudah mapan, sangat meragukan sekali kalau dia terus-terusan jomblo.


♥️♥️♥️


...Ya ampun Ra, kamu salah paham aja deh kayaknya. Kamu cemburu apa gimana sih? Cemburu sama Kaisar 🤣🤣🤣...


Jangan lupa jempolnya..


Sampai ketemu lagi 😘😘