
Setelah dari bioskop, Kak Zayn mengajakku ke kantor karena ada sesuatu hal. Masih dengan baju yang sama saat kami berkencan, aku dan Kak Zayn masuk ke kantor pusat tempat Kak Zayn mengelola perusahaan.
"Apa nggak sebaiknya Kakak ganti baju, masa ke kantor pakai kaos sama celana jeans gini sih," bisikku setelah menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang bertemu kami.
"Kan kata kamu aku ganteng pakai baju gini." Kak Zayn memainkan alis matanya naik turun, tangan kirinya masih setia menggandeng tangan kananku sejak turun dari mobil.
"Apaan sih, masa bos penampilannya gini," sinisku.
"Kamu cerewet deh, aku pakai jas salah, aku pakai kaos salah. Kamu mau aku nggak pakai baju?"
Aku dan Kak Zayn sampai juga di ruangannya setelah naik dengan lift khusus.
Ada dua orang wanita yang menyambut kedatangan kami. Dua duanya cantik, anggun dan masih muda, sepertinya mereka berdua adalah staf sekretaris di perusahaan ini.
"Vi, buatkan minum untuk istri saya!" perintah Kak Zayn dengan wajah datarnya. "Kamu mau apa, Ra?" Kak Zayn ganti menatapku.
"Apa aja deh," jawabku merasa canggung. Nanti kalau aku bilang jus nangka belum tentu mereka punya, 'kan?
Kak Zayn mengajakku masuk ke ruangannya, ruangan direktur utama yang luas dan nyaman. Ada sofa, kursi dan meja direktur, rak buku yang besar, toilet, dan selayaknya ruangan direktur pada umumnya. Dindingnya sebagian terbuat dari kaca besar, sehingga pemandangan ibu kota terlihat jelas dari atas sini.
"Bos, semua sudah siap!" kata Asisten Kaisar yang masuk ke ruangan setelah Kak Zayn mengizinkannya.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku ada meeting dadakan, kalau ada apa-apa kamu panggil Vivi aja!" kata Kak Zayn.
"Aku boleh ngapain aja kan di sini?" tanyaku sambil duduk di kursi empuk milik Kak Zayn.
"Terserah, asal jangan jual data perusahaan ke orang lain!" jawabnya.
"Emang laku ya? Yang mana datanya?" tanyaku hanya ingin menggodanya.
"Dera!" kata Kak Zayn dengan tegas.
"Iya, iya! Udah sana! Aku mau ngerasain jadi bos sebentar." Aku menikmati kursi empuk ini dengan memutarnya layaknya seorang bos dalam film film.
Kak Zayn lalu meninggalkan ruangan ini bersama asistennya.
Aku mengamati ruangan ini sendirian, tak lupa aku mengambil beberapa foto, bisa saja kan, aku tidak diajak ke sini lagi nantinya.
Puas meneliti satu per satu dan juga berfoto ria, aku akhirnya tiduran di sofa panjang ruangan ini. Rasanya aku sangat mengantuk, nanti kalau Kak Zayn kembali pasti akan membangunkanku.
Aku terbangun di ruangan yang sangat asing. Seperti kamar hotel, tapi terlalu kecil, hanya ada satu tempat tidur dan meja kecil di kamar ini. Seingatku, tadi aku sedang tiduran di sofa ruangan Kak Zayn. Kenapa sekarang aku ada di sini?
Aku berusaha bangun dengan tubuh yang sudah segar. Aku mencoba menarik pintu itu, tapi tidak bisa. Apa dikunci dari luar?
Ponselku! Di mana ponselku? Wah, jangan-jangan di tas?
Wah, sepertinya aku terjebak di ruangan ini.
Tok tok tok
"Hallo! Ada orang di luar?"
Tok tok tok
"Hallo!"
Tak lama pintu terbuka, dan ternyata aku salah cara membukanya. Ternyata pintunya digeser bukan ditarik.
"Kamu udah bangun?" tanya Kak Zayn setelah membuka pintu.
"Kok aku bisa di sini? Kayaknya tadi aku tiduran di sofa deh. Kak Zayn yang gendong aku, ya?"
"Si Kai yang gendong."
Hah? Yang benar saja? Masa iya aku digendong laki-laki asing?
♥️♥️♥️
...Hayo loh, Kak Zayn kan yang gendong, nggak mau ngaku....
Selamat malam gaess,
Jangan lupa ritualnya 😘😘