
DERA
Pagi-pagi begini, Kak Zayn sudah mengganggu pengantin baru yang mungkin belum terbangun itu. Siapa lagi kalau bukan Asiten Kaisar dan Dara. Dengan isengnya, Kak Zayn menyelipkan kunci rumah yang ia berikan untuk asistennya itu ke dalam kado aneh dari kami. Satu set lingerie sek*si ditambah beberapa kotak karet pengaman dan tisu khusus pria dewasa. Kado yang sangat aneh 'kan untuk sepasang pengantin?
"Si Kai itu bodoh banget deh, Queen." Kak Zayn baru saja mengakhiri teleponnya dengan Asisten Kaisar.
"Kenapa sih Kak?" tanyaku. Aku baru selesai mandi dan mendekatinya yang masih belum turun dari ranjang.
"Kado dari kita itu diabaikan loh sama dia, untung nggak dibuang itu kunci rumah," gerutunya. Ia mendekat padaku dan memeluk dari belakang.
"Masa sih. Pasti dia kesel karena isinya tisu begituan," balasku.
"Ya maksud aku kan baik Queen, mereka kan pasti lagi seneng-senengnya mencoba hal baru, pasti itu juga bermanfaat buat mereka," elaknya.
Aku paham sekali kalau Kak Zayn itu memang menyebalkan, tidak salah kalau asistennya kesal mendapat kado begituan.
"Kalau kado buat Zayyan, Kakak kasih apa?" tanyaku.
Hari ini adiknya juga menikah dengan adik asistennya, secara tidak langsung mereka akan menjadi besan 'kan?
"Kok kamu kepo?" Kak Zayn melepas pelukannya dan malah menatapku dengan pandangan lucu. Sepertinya ia cemburu.
"Aku kan istri kamu, Kak."
Suamiku itu kembali memelukku dan mencium pipiku dari belakang.
"Ada deh, kamu kasih apa ke mereka?"
"Kan aku udah bilang, kasih cincin berlian sama lingerie juga."
"Aku lupa Queen."
"Udah sana mandi dulu, habis ini kita sarapan."
"Mandiin ya," pintanya dengan nada manja.
Aku berdiri dan menarik tangan Kak Zayn.
"Ya udah, tapi mandi beneran jangan aneh-aneh."
"Nggak sayangku, lihat perut kamu sebesar ini aku mana tega sih." Kak Zayn lalu mencium perutku yang memang seperti mau lahiran, padahal usianya baru lima bulan.
Akhirnya, aku memandikan Kak Zayn seperti bayi besar. Menyabuni punggung, tangan dada dan semua bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Setelah selesai, aku dan Kak Zayn keluar dari kamar mandi. Tepat pada saat yang sama, suara ketukan pintu membuatku berjalan membukanya, karena Kak Zayn yang masih basah kuyub.
"Ada, baru selesai mandi, masuk Za." Aku mempersilakan adik iparku itu untuk masuk ke dalam kamar Kak Zayn yang kini menjadi kamarku juga.
"Nggak usah, aku tunggu di sini aja, Kak," kata Zayyan.
"Oke, aku panggil Kak Zayn dulu."
Setelah itu, aku menemui Kak Zayn yang sudah bersiap memakai kaus polos warna putih, dengan handuk yang masih melilit pinggangnya.
"Ada Zayyan di depan pintu," ucapku sambil membenarkan kaus Kak Zayn yang belum rapi.
"Ngapain?" tanya Kak Zayn.
Aku memberikan celana *da*lam dan celana pendek selutut yang langsung dia pakai di hadapanku.
"Nggak taulah, tanya aja sendiri."
"Jangan-jangan mau nanya-nanya gaya apa yang enak dipakai pas malam pertama," ucapnya sambil cengengesan tidak jelas.
"Ih, Kakak tuh aneh-aneh terus pikirannya."
"Ya, habisnya mau ngapain, tumben-tumbenan kan dia nyariin aku. Tapi dia beneran nyari aku 'kan bukan nyari kamu?"
"Jangan aneh-aneh deh pikirannya. Kali aja mau minta tolong, kakak dijadiin sopir buat Zayyan sama Putri."
"Idih, orang ada sopir banyak, kenapa juga harus aku yang ganteng ini."
"Gemes deh, pengen nyubit Juna."
"Jangan gitu Queen, kalau nggak ada Juna nggak akan ada baby kembar empat di perut kamu."
Kak Zayn mencium pipiku dan menyerahkan handuk yang ia pakai. Lalu, ia keluar dari kamar ganti menemui adiknya.
"Iya sih, kalau nggak ada Juna nggak akan ada anak-anak Mommy di sini, ya kan Sayang."
β€β€β€
Hallo, spada ada yang nungguin. Padahal aku dah bilang tahun depan loh updatenya lagi πππ
Pasti ada yang nungguin Zayyan nganuΒ².. et tidak semudah itu gaess.
Sabar, tahan dulu. Iklannya kudu banyak. Eh, maksudnya hadiahnya kudu banyakin π€£π€£π€£ Tau lah, aku tukang palak πππ