Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 70


Pergerakan tangan menyentuh kulit perutku, mengusap lembut lalu semakin bergerak menyusuri area lain. Sentuhan demi sentuhan yang menuntut membuatku terjaga dari tidurku.


"Ra," panggil Kak Zayn dengan nada yang sangat pelan.


Sebenarnya aku sudah bangun, tapi aku ingin mengetahui apa yang akan Kak Zayn lakukan lagi jika aku tidak bangun.


Tadi malam kami hanya melakukannya sekali, dan segera tidur, mungkin karena itulah Kak Zayn menginginkanku lagi.


"Ra, bangun dong, Juna aja udah bangun. Kamu ngantuk banget apa?" Kak Zayn menjepit choco chip milikku dengan kedua jarinya, dan menariknya berulang-ulang.


"Ra, ayolah! Apa aku paksa masuk aja nih si Juna ke sini?" Tangan Kak Zayn berpindah lagi, ia menyelipkan jarinya ke dalam kawasan rumah Juna.


Aku bisa merasakan tangan Kak Zayn yang berusaha mengaduk-aduk bagian sensitif itu.


"Ah, Kak Zayn." Aku berbalik dan Kak Zayn langsung mencium bibirku.


Kak Zayn sepertinya benar-benar sedang bernap*su saat ini. Dia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara sedikit pun.


Dalam situasi seperti ini, aku sangat tahu, mendorong atau memukul tubuh Kak Zayn tidak akan berpengaruh banyak. Sambil berusaha membalas ciumannya, aku menggenggam Juna yang sudah sangat keras, dan mengurutnya pelan.


Berhasil! Kak Zayn berhenti menciumku. Ia menatap mataku dengan penuh nap*su.


"Kakak nggak tidur?" tanyaku sambil terus mengurut Juna.


"Aku kayaknya ke*tagihan banget, Ra. Tolong aku, Ra." Kak Zayn seperti orang sa*kau yang menginginkan obatnya.


"Kenapa kenapa?" Aku melepaskan Juna dan menyentuh wajah tampan suamiku.


"Nggak tahu, kamu bikin aku kecan*duan se*x," katanya dengan ekspresi memelas.


"Kamu tuh kena karma, Kak. Dulu aja dengan sombongnya kamu bilang nggak mau ber*cinta sama aku. Sekarang kamu malah minta lagi, lagi, dan lagi," ucapku setengah mengejeknya.


"Iya, aku tau, aku salah. Maafin aku, Ra."


"Panggil sayang dulu."


"Ayolah, Sayang. Aku udah nggak tahan, Juna tersiksa banget."


"Bilang sayangnya kurang mesrah."


"Ya ampun, Ra. Ayolah, Sayang."


Aku tertawa puas bisa mengerjai suamiku saat ini. Semoga kamu tidak akan bosan denganku, Kak.


*


*


*


Kak Zayn membantuku mengeringkan rambut dengan handuk, sebagai ungkapan rasa terima kasih katanya.


"Kak, jangan terlalu sering begituan deh," kataku sambil mengoleskan sedikit krim pegal-pegal di pingganggku.


"Kenapa? Kamu cape? Kan aku yang kerja Ra, kamu tinggal nikmatin."


"Bukan gitu Kak, tapi aku takut Kak Zayn cepat bosan nantinya."


"Nggak mungkin Ra, semakin hari semakin nikmat, mana bisa aku bosan sama kamu." Kak Zayn mencium leher dan pipiku.


"Alah, gombal."


"Beneran, Ra. Aku nggak bohong."


Tok, tok, tok.


Suara pintu menghentikan perdebatan kami.


"Siapa shubuh-shubuh begini ketuk pintu?" tanya Kak Zayn yang sudah selesai mengeringkan rambutku.


"Aku juga nggak tau, bentar aku buka dulu, mungkin aja Mama."


Kak Zayn mengangguk, lalu aku segera membuka pintu kamar, dan ternyata benar.


"Mama, ada apa?" tanyaku bingung, karena Mama datang dengan wajah yang berderai air mata.


"Kakek ...."


"Kakek kenapa?" tanyaku semakin penasaran.


"Kakek meninggal, Sayang." Mama langsung memelukku. "Kakek sudah meninggal."


Air bening menerobos keluar dari mataku begitu saja. Bayangan wajah Kakek yang sangat menyayangiku berputar di kepalaku bagai sebuah film. salah satu orang yang sangat kusayangi pergi meninggalkanku.


♥️♥️♥️


Sabar ya, Ra. Kakek udah tenang. Sengaja Othor akhiri kontraknya sama Othor, biar Bang Arsen ada konflik batin. Ketawa jahat 😄😄


Selamat siang,


Mumpung lagi rajin update ini.


Makasih yang selalu mendoakan dapat wangsit dan selalu kasih semangat 🥰🥰🥰


Jangan lupa ritualnya.


Sampai ketemu lagi 😘😘