
ZAYYAN
Putri masih mengomel terus. Ia tidak terima karena aku menolong Vani yang motornya mogok. Putri bilang seharusnya aku memanggil montir supaya motor Putri dibawa ke bengkel.
Sepanjang perjalanan, dia terus saja mengomel, walau sebagian dari ocehannya tidak kudengar jelas karena bising suara motor ditambah angin yang menghalau indera pendengaranku.
"Kakak ngerti nggak sih?"
Saat ini kami baru saja turun dari motor. Kami ada di depan stand penjual seblak, makanan yang rencananya akan Putri beli bersama Nafa.
"Gini deh Put. Kalau kamu jadi Vani, terus ada orang yang bisa tolong kamu, ternyata istrinya marah karena dia nolongin kamu. Kamu gimana?"
"Ya, nggak gimana-gimana. Biasa aja, aku kan tinggal telfon Kak Za, terus Kak Za akan datang nolongin aku, ya kan?"
Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Susah melawan perempuan, selalu saja mereka yang benar.
Usai membeli seblak, Putri memaksa untuk ikut ke bengkel. Sebenarnya aku malas, karena Putri lebih banyak mengganggu pekerjaanku. Akan tetapi, karena tiba-tiba dia sudah mewek, mau tidak mau aku pun mengajaknya ke bengkel.
"Awas ya, kalau gangguin aku lagi, aku anterin pulang nanti!" ucapku saat kami sudah sampai di bengkel.
"Nggak akan, aku mau makan seblak kok," jawab Putri saat aku membantunya melepaskan helm.
Setelah itu, ia masuk ke kantor. Sudah ada Papa yang serius menatap layar komputer. Putri menyapa Papa sebentar, lalu mulai makan seblaknya.
"Tumben Putri ikut ke sini? Nggak kuliah Put?" tanya Papa.
Aku ikut membantu Papa memeriksa beberapa laporan bengkel. Bengkel cabang diurus oleh Om Galih, sahabat Papa sekaligus partner yang membantu Papa membesarkan bengkel sampai bisa sesukses ini.
"Aku bolos Pa, dosennya cerewet banget. Lagian hari ini aku lihat Kak Za sama cewek lain, daripada aku diselingkuhin mending aku ikutin sekalian," jawab Putri. Ia menikmati sendiri seblak yang ia beli hanya satu porsi.
"Kok bolos? Selingkuh gimana Za?" Papa melepas kacamatanya dan menatapku dengan tatapan memyelidik.
Mulut Putri kenapa tidak bisa dikondisikan sih. Bisa-bisa Papa pikir aku benar-benar selingkuh.
"Itu bukan salah paham Kak, itu namanya antisipasi, bibit-bibit pelakor mulai bermunculan, aku nggak mau jadi janda."
"Nggak usah didengerin, Pa. Dia emang aneh akhir-akhir ini." Aku berbisik pada Papa yang terlihat bingung.
Baru beberapa jam bekerja, hari belum sore bengkel juga masih ramai. Tiba-tiba Putri membuat keributan.
"Kakak aku sakit perut, beneran sakit ini."
Sudah kuduga dia akan sangat merepotkan. Pasti karena makan terlalu pedas, ususnya tidak kuat dan asam lambungnya naik.
"Ya udah ayo pulang! Udah tau sakit magh, masih aja bandel makan seblak." Dia masih tiduran di sofa sambil memegangi perutnya.
"Kakak ini bukan sakit magh deh Kak, beda rasanya."
"Bawa ke rumah sakit aja Za, pakai mobil papa."
Tanpa basa-basi lagi, aku segera membawa Putri ke rumah sakit dengan mobil Papa. Putri terus memegangi perutnya, sambil mengaduh, membuatku menambah kecepatan supaya bisa cepat sampai. Untung saja tidak ada kemacetan, sehingga dalam beberapa menit saja sudah sampai di rumah sakit.
Di UGD, Putri terus memegangi perutnya. Setelah ditanyai banyak hal, dokter UGD mengatakan satu hal yang membuatku terkejut, sekaligus tidak percaya.
"Istri Anda sedang hamil, tapi karena kandungan lemah, kita harus menjaganya dengan hati-hati."
"Apa? Saya hamil? Kok bisa?" Putri memegangi perutnya, air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
"Ya bisa saja, kalian sudah menikah, 'kan?"
β€β€β€
Ya bisa aja, lha si Jupiter aksinya berhasil. Nggak usah syok, titipin ke Dara aja nanti π€£π€£π€£ Kasihan Mas Kai belum punya anak. Si Raja kalah sama Jupiter sih π₯²π₯²
Jangan lupa jempolnya, votenya juga. π₯°π₯° Selama komentar masih rame, aku tetep lanjutin sesuai kemauan kalian, kalau komentar sepi, ya udah aku tibaΒ² aja ngilang nanti π€£π€£π€£ cari aja di ig @ittaharuka π₯°πππ