Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 153


Aku menyingkirkan hadiah pemberian Bos Zayn itu, dan menarik tubuh Dara agar duduk di sampingku.


"Kita nggak butuh Sayang," kataku sambil membelai wajah Dara yang masih lengkap dengan riasan.


"Apa kita akan melakukannya sekarang, Mas?" tanya Dara.


Aku mengangguk membenarkan apa yang ada di pikiran istriku itu.


"Aku mandi dulu ya, biar seger. Kamu bersihin make up dulu aja," ucapku lalu masuk ke kamar mandi.


Ada rasa gugup yang melanda pikiranku, untuk pertama kalinya aku akan melakukan sesuatu yang sangat ingin aku lakukan sejak remaja, tapi tidak pernah sekali pun aku mencoba.


Aku membersihkan diri dan memakai pewangi tubuh supaya Dara semakin terkesan denganku.


Saat aku keluar kamar mandi, kulihat Dara juga sudah selesai membersihkan riasan di wajahnya. Wajah cantik alami itu membuatku salah tingkah.


"Mas udah selesai?"


Aku mengangguk mengiyakan apa yang Dera tanyakan, sedangkan Dara tersenyum dan berjalan cepat ke kamar mandi. Ia pasti juga sama gugupnya dengan aku.


Hampir satu jam Dara berada di kamar mandi, tapi dia belum juga keluar, membuatku sedikit khawatir dan akhirnya mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, kamu masih lam—"


Dara membuka pintu kamar mandi sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


"Mas."


Melihat Dara yang hanya memakai jubah mandi berwarna putih, mendadak aku kembali gugup dan suasana menjadi canggung.


"A–aku pikir kamu ke-ti-du-ran," jawabku terbata.


Bingung harus bagaimana, aku berbalik badan sambil menggaruk kepala. Tepat pada saat aku akan berjalan menuju ranjang, Dara memelukku dari belakang.


"Aku seneng banget, Mas. Akhirnya kita udah jadi suami istri," kata Dara yang membuat bulu-bulu halus di sekitar leher belakangku meremang.


Aku menggenggam tangan Dara yang melingkar erat di perutku. Lalu, aku berbalik badan dan menangkup wajahnya.


"Apa kamu udah siap menjadi suami istri seutuhnya?"


Rona merah alami di pipi Dara muncul seiring dengan seyumannya yang membuatku semakin berdebar.


Dara menggigit bibir bawahnya, membuatku jadi ingin melahap bibir mungil yang tipis itu. Dengan perlahan aku mengarahkan wajah mendekat padanya. Setelanya aku mulai mencium bibirnya yang terasa lembut dan manis. Ada sisa kesegaran dari pasta gigi di dalam mulutnya yang membuatku semakin berna*su.


Ternyata Dara cukup agresif saat membalas ciumanku. Lidah kami saling berbelit saling mengisap dan menuntut untuk melakukan lebih. Satu tanganku bergerak menyusuri punggung Dara yang masih berbalut bathrobe sedangkan tangan Dara bergerak mengusap-usap dadaku.


Saat asupan oksigen mulai berkurang, kami melepaskan ciuman kami. Aku menatap Dara yang tiba-tiba menunduk malu-malu.


Ia langsung berjalan mendekat ke ranjang pengantin kami, tapi Raja sudah terlanjur sesak di bawah sana. Akhirnya aku memeluk Dara sebelum ia merebahkan diri di atasnya.


Dari belakang tubuhnya, aku bisa menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang membuatku semakin menggila. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menerkamnya, tetapi aku tahu kesan pertama harus selembut mungkin kan?


"Mas," desahnya saat tanganku bergerak perlahan dari perut menuju dua benda kenyal yang sangat menantang itu.


"Hem," jawabku yang kini sudah menggenggam dua benda itu. Aku juga mencium leher Dara sambil mencoba menghisapnya.


"Buka aja, Mas. Ini kan milikmu," kata Dara yang membuatku semakin gemas.


Karena sudah mendapat lampu hijau, aku jadi tidak sabaran. Aku membalik tubuh Dara dan kini menghadapku. Ciuman lembut kembali mendarat di bibirnya, menciptakan basah karena saliva. Dengan gerakan cepat, aku berhasil melepaskan handuk berbentuk jubah itu dari tubuh Dara.


Kemudian, aku melepaskan ciuman kami untuk melihat lekuk tubuh istriku. Sebuah bra berwarna merah terang dan kain segitiga yang juga berwarna merah menutup sebagian kecil tubuhnya.


"Indah banget." Kata itu spontan keluar dari mulutku saat melihatnya pertama kali.


"Mas bikin aku malu," balasnya yang kembali menundukkan kepala, menyembunyikan wajah cantiknya yang merona.


"Aku suka kamu agresif, daripada malu Sayang." Aku mencari pengait yang biasanya ada di belakang punggung wanita.


"Bukan di sana Mas, tapi di sini." Dara menuntun tanganku untuk menyentuh celah dari dua gundukan menantang itu.


Aku baru tahu, kalau kancing bra ada di depan.


❤❤❤


Segini aja dulu, panas dingin akoh 🤣🤣🤣🤣


Banyakin vote, nanti aku kasih unboxing beneran 🤣🤣🤣


Zayyan nikahnya kan besoknya.. jangan buru²in aku ya 🤣🤣🤣 Aku kan sam Mas Kai mau malam pertama yang berkesan 🤭🤭🤭 kasih tau dong tipsnya biar Mas Kai nggak grogi 🙈🙈


Vote, kembang kopi banyakin. Aku malak beneran hari ini 🤣🤣🤣