Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 122


ZAYYAN


Semenjak Kak Zayn menikahi perempuan yang sangat aku cintai, aku menjadi enggan dekat dengan perempuan mana pun. Di kampus pun aku menghindari interaksi dengan perempuan.


Sampai akhirnya, aku harus berurusan dengan mahasiswi jutek bernama Putri Prameswari. Nama unik yang baru aku ketahui beberapa hari ini.


Awalnya, aku tidak sengaja menabraknya hingga buku-bukunya berjatuhan di selokan. Waktu itu, aku ingin segera menggantinya, tapi karena Mama terus menelepon akhirnya aku terpaksa meninggalkannya dan berjanji untuk mengganti buku-buku itu.


Beberapa hari berlalu, aku tidak masuk kuliah karena Mama mengajakku berkunjung ke kampung untuk menengok Kakek. Akan tetapi, Putri salah paham dan menuduhku lari dari tanggung jawab. Ia mengejutkanku dengan tiba-tiba muncul entah dari mana. Aku yang saat itu sedang minum, langsung menyemburkan air ke wajahnya. Karena terkena air, Putri memukul lenganku sampai air dalam botol itu tumpah dan mengenai laptopnya.


Sejak saat itu, aku harus berurusan dengan perempuan aneh yang tidak ada anggun-anggunnya.


"Kak Za." Suara perempuan itu membuyarkan lamunanku. Iya aku tahu, masih ada satu buku yang belum aku ganti, tapi apa aku tidak bisa terbebas dulu darinya?


"Nggak lupa 'kan hari ini kamu ganti buku aku?" tanyanya dengan senyum cerah, merekah seperti bunga matahari.


"Iya, aku tau, aku mau kuliah dulu, nggak bisa?" Aku balik bertanya karena merasa kesal.


"Aku cuma ingetin aja kok, ya udah. Bye." Gadis itu melambaikan tangan lalu pergi begitu saja.


Aku mengembuskan napas dengan kasar. Berharap rasa kesalku menghilang.


Kok ada sih, cewek kayak dia.


Berjalan menuju kelas, lagi-lagi ada yang menghalangi langkahku.


"Za, aku boleh pinjem catatan kamu nggak, kelas Pak Bambang kemarin aku nggak masuk," kata Vina —wanita yang telah lama mengejarku.


"Aku nggak bawa, ada di rumah," jawabku singkat lalu kembali berjalan ke kelas.


Vina mengikuti dan berjalan di sampingku, menaiki tangga karena kelas kami di lantai tiga.


"Kamu sama mahasiswa baru itu ada hubungan apa, Za?" tanya Vina saat kami telah sampai di lantai tiga.


"Kenapa emangnya?"


"Nggak apa-apa tanya aja."


"Bukan urusan kamu kan," jawabku lalu melangkah cepat meninggalkan Vina.


***


Sepulang kuliah, aku langsung menuju parkiran untuk pulang.


"Kak Za tunggu!" Suara perempuan itu membuatku menghentikan langkah. "Jangan kabur ya." Ia menarik tanganku dengan mata melotot.


"Apaan sih, yang kabur siapa?" Aku mengibaskan tangannya yang mencekalku. Tenaganya sebagai wanita tentu saja tak bisa mengalahkanku. "Mending aku kasih uang, kamu beli sendiri deh!"


"Ogah, toko buku kan jauh, nggak ada bis yang lewat sana!"


"Kamu kan bisa naik angkot."


"Aku nggak punya helm, kalau nanti ada razia, kamu yang aku serahin ke polisi!" Aku naik ke atas motor.


"Lewat jalan tikus aja lah, masa anak motor nggak tau jalan pintas sih!" ocehnya yang membuatku uring memakai helm.


"Aku bukan anak motor, dan juga yang harusnya tahu jalan tikus itu kamu, kan itu jalanan kamu!" ejekku sambil memakai helm teropong milikku.


"Dasar kucing jelek!" balasnya, lalu ia naik membonceng di belakangku.


Untuk pertama kalinya, aku membonceng perempuan. Mama dan Kak Zea saja tidak pernah naik ke atas Nindy, apalagi Dera. Ah dia hanya masalalu sekarang.


"Buruan jalan, Kak. Ngelamunin apa sih?" Putri menepuk pundakku dengan keras, membuatku kesal dan menoleh padanya.


"Nindy nggak suka dinaikin cewek kayak kamu."


"Nindy siapa coba?"


"Motor aku lah."


"Dasar gila! Buruan nggak, keburu panas nih!"


Aku menyalakan motor lalu menarik gas dan meninggalkan kampus.


Jalanan yang kami lewati memang jalan pintas, gara-gara Putri yang tidak memakai helm. Melewati gang gang sempit yang cukup dilewati dua motor, itu pun harus sangat pelan supaya tidak tabrakan. Lewat depan rumah orang yang sedang menjemur pakaian, pokoknya jalanan kecil yang tidak terjangkau polisi. Sampai akhirnya kami sampai di toko buku yang cukup besar, dan aku yakin isinya lengkap.


"Kak nanti anterin aku pulang!" ucapnya setelah turun dari motor.


"Ogah, pulang aja sendiri," balasku sambil merapikan rambut.


"Jahat banget!"


Kami mulai mencari buku untuk menggantikan buku milik Putri. Berkeliling dari satu rak ke rak yang lain, belum juga ketemu. Akhirnya, aku bertanya pada pegawai toko judul buku yang dicari Putri. Kemudian, pegawai itu mengajak kami untuk mengecek stok buku tersebut.


"Maaf, Mas. Bukunya baru saja habis satu jam yang lalu," kata pegawai itu.


"Waduh, gimana dong. Toko buku besar aja nggak ada stok," keluhnya yang membuatku merasa bersalah.


"Itu buku terbitan lama mbak, jadi agak susah carinya," ucap pegawai toko.


"Terus gimana sekarang?" tanyaku yang juga bingung mau mencari ke mana lagi.


"Aku beli online aja deh," kata Putri yang membuatku mendelik padanya.


"Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja, tau gini kan nggak perlu capek-capek nyari?" tanyaku dengan kesal.


"Aku takut yang datang nggak sesuai isinya."


Ingin sekali aku mencubit pipinya itu. Dasar gadis aneh! Gadis menyebalkan! Tikus got!


♥️♥️♥️