Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 117


"Secepatnya, Om. Secepatnya saya akan membawa ibu saya ke sini untuk melamar Dara." Aku menjawab dengan tegas, mungkin karena saking semangatnya.


Dara mengusap air matanya, lalu tersenyum dan aku pun membalasnya. Ingin sekali memeluknya saat ini juga, tapi aku sangat sadar, bapaknya Dara sangat galak.


"Kalian jadi mau makan di luar?" tanya Mama Dara setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Dara.


"Pulang sebelum jam sepuluh. Papa suka martabak telor daripada martabak manis," ucap Papa Dara yang membuatku sedikit bengong, mendadak bodoh. "Kalau martabak manis kesukaan Mama, kamu pasti bingung kan mau bawa makanan apa. Sudah tidak usah pusing, saya dulu juga begitu," lanjutnya yang seolah paham bahwa aku sedikit bingung.


"Siap, Om. Nanti saya belikan yang spesial. Sebelum jam sepuluh Dara akan sampai di rumah," balasku dengan penuh keyakinan. Lumayanlah ini masih jam enam, masih ada empat jam untuk berduaan, semoga Tuan Bos tidak mengganggu.


"Hemm." Papa Dara masuk ke dalam rumah, meninggalkan ruang tamu yang sudah tidak setegang saat aku pertama masuk tadi.


"Papa itu baik dan lucu sebenarnya, tapi ya memang kalau lagi galaknya kumat ya seperti harimau." Mama Dara terkekeh, membuatku mengusap tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.


***


Dara, gadis yang tidak ribet. Dia sedikit pendiam jika dibandingkan dua sahabatnya yang aku kenal. Dara itu lebih lemah lembut.


"Mas, maaf ya, aku tadi juga nggak tau kalau papa tiba-tiba sidang kamu kayak tadi," kata Dara yang duduk di sampingku, di sebelah kemudi.


"Nggak apa-apa Sayang, dengan begini 'kan akhirnya kita mendapatkan restu papa kamu." Aku mengusap rambutnya pelan, riasan tipisnya sudah terhapus karena menangis tadi, tapi sedikitpun tidak mengurangi kecantikan alaminya.


"Akhirnya, kita akan menikah ya, Mas."


"Kamu senang?"


"Seneng bangetlah, semenjak Kikim nikah, dia sibuk sama rumah tangganya, cuma aku sama Nana aja. Sekarang, Nana udah nikah dan jadi iparnya kikim, tinggal aku sendiri."


"Soal Kimmora, kamu nggak ...."


"Kikim itu sahabat aku, aku lebih tau kisah dia sama Arsen dari awal, dan soal perasaan Mas ke dia ...." Dara menghela napasnya dan menghembuskan dengan kasar. "Kikim memang cantik, tidak heran kalau Mas Kai menyukainya, waktu SMA juga banyak yang tergila-gila sama dia. Buatku saat ini, yang paling penting Mas Kai udah membuktikan kalau Mas Kai beneran sayang sama aku."


"Makasih ya, Sayang, karena kamu udah percaya sama aku. Saat ini, cuma kamu yang ada di hati dan pikiran aku." Kulihat wajah Dara merona kemerahan. "Mau makan di mal aja nggak?"


Dara mengangguk, masih dengan rona malu-malu di wajahnya.


Lalu, aku pun menambah kecepatan mobil menuju pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari sini.


***


Memasuki pusat perbelanjaan, Dara mengusulkan sebuah restoran yang sering ia datangi bersama sahabat-sahabatnya. Aku hanya menurut karena kata Dara makanannya enak dengan harga yang terjangkau.


Saat akan naik eskalator, aku dikejutkan dengan sosok wanita yang sangat kukenal.


"Itu Putri sama siapa?" gumamku saat melihat adikku yang sepertinya sedang berdebat dengan laki-laki.


"Kita samperin aja, Mas," usul Dara yang kujawab dengan anggukan.


Berjalan semakin dekat, aku sangat tidak sabar melihat siapa laki-laki yang sedang bersama adikku itu. Setelah jarak kami lebih dekat dengan Putri, ternyata laki-laki yang bersamanya juga sangat aku kenal.


"Putri. Tuan Muda. Kalian ngapain di sini?"


♥️♥️♥️


...Yok tebak, siapa ya 😅😅😅 Tuan Muda yang terabaikan di novel ini 🤭🤭🤭...


Jangan lupa ritualnya, jempolnya, komennya, kembang kopinya yuk.


Happy Satnight and happy weekend gaess 😘😘😘