
Kak Zayn masih tidak mau juga melepaskan cengkramannya dari tanganku. Rasanya benar-benar sakit sekali.
"Bersikap baiklah Kak, dia istrimu, kalau Mama tahu Kakak memperlakukan istri Kakak seperti ini, pasti Mama akan sedih," kata Zayn yang kemudian memakai helmnya, lalu menjalankan motornya meninggalkanku dan Kak Zayn.
Aku yang kesal dengannya akhirnya hanya bisa masuk ke mobil dengan perasaan jengkel yang menyelimuti hatiku.
*
*
*
"Kamu mau nonton?"
"Nggak!"
"Mau makan apa?"
"Terserah!"
Kak Zayn menepikan mobil dan mematikan mesinnya, lalu ia melepaskan sabuk pengaman yang menempel di tubuhnya.
Kenapa berhenti di sini? Mau apa Kak Zayn menghentikan mobil di tepi jalan begini?
"Dera, kamu pengen naik motor?" tanya Kak Zayn yang kini menghadap ke arahku.
"Apaan sih, Kak? Nggak jelas banget," jawabku lalu memalingkan wajah darinya.
"Kak Zayn menarik tengkukku, lalu melu*mat bibirku dengan cepat. Secara refleks aku memukul dadanya, tapi Kak Zayn terus menciumku dengan lembut, dan aku yang terbawa suasana akhirnya membiarkan Kak Zayn melakukan apa yang dia mau.
Kak Zayn melepaskan tautan bibir kami, saat kami kehabisan napas. Lalu, Kak Zayn kembali menciumku.
"Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama laki-laki lain." Kak Zayn memejamkan mata, keningnya menempel erat dengan keningku, sehingga aku bisa menyaksikan dengan jelas Kak Zayn mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Aku hanya diam menanggapi ocehannya. Bagiku sudah biasa Kak Zayn bersikap plin plan seperti saat ini.
"Ayo kita berkencan!" ajak Kak Zayn yang membuatku mengernyit.
Kencan? Apa lagi ini yang akan dia lakukan? Aku harus waspada, Kak Zayn ini benar-benar memanfaatkanku dengan baik, bisa saja dia mempunyai rencana di balik sikap manisnya ini.
Kak Zayn melajukan mobilnya kembali, kali ini ia terlihat bersemangat sekali. Sampai akhirnya mobil pun memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan.
Saat masuk di mal, Kak Zayn masih terlihat santai seakan tidak ada pertengkaran di antara kami, sedangkan aku masih sangat kesal dengannya.
Kak Zayn mengajakku masuk ke salah satu restoran lalu kami makan berdua.
"Ayo kita nonton!" ajak Kak Zayn saat kami selesai makan. "Kamu suka film apa?"
"Pembu*nuhan," jawabku asal bicara.
Raut wajah Kak Zayn tiba-tiba berubah, mungkin dia pikir aku benar-benar menyukai film mengerikan seperti itu. Biarlah, biar Kak Zayn takut denganku.
Kami berjalan menuju bioskop, kali ini kami berjalan sambil bergandengan tangan. Sebenarnya aku masih sangat kesal, tapi melihat tatapan dari wanita-wanita itu membuatku pasrah saja saat Kak Zayn meraih tanganku.
"Tuan Bos," panggil seseorang saat kami baru sampai di lantai ketiga dengan menaiki eskalator.
"Oh! Ada apa?" tanya Kak Zayn kepada laki-laki yang tadi memanggilnya.
"Maaf saya tidak mendapat informasi terkait kedatangan Tuan Bos, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya laki-laki itu sambil menundukkan badannya.
"Tutup bioskopnya, aku mau nonton berdua dengan istriku," jawab Kak Zayn yang membuatku melongo.
Apa dia sudah gila? Mentang-mentang dia pemilik pusat perbelanjaan ini, apa dia berhak bersikap seenaknya seperti ini? Apa dia akan menutup mal dan mengusir semua pengunjung kalau dia ingin belanja tanpa gangguan? Dasar manusia menyebalkan!
♥️♥️♥️
Dera, kamu lupa, bos mah bebas 😅😅
aku up lagi, tapi jangan lupa pencet like juga di bab ini 😊😊