
Mengunjungi baby Mireya, adalah salah satu caraku melatih diri untuk siap menjadi ibu. Walau aku belum tahu kapan Tuhan akan mengirimkan malaikat kecil itu untukku, tapi setidaknya aku bisa mulai belajar dari sekarang.
Mireya sudah berusia tiga bulan, wajahnya cantik dengan pipi gembul dan mata bulat. Setiap tertawa, matanya akan tenggelam karena tertarik pipinya yang gembul.
"Mireya cantik, mau gendong Onty?" Aku meraih bayi yang baru belajar tengkurap itu lalu menggendongnya.
"Kamu bawa apa, Ra? Kenapa repot-repot banget?" tanya Kak Yumna yang membuka hadiah yang kubawa.
"Itu cuma mainan edukatif sama baju buat Mireya Kak, gemes soalnya pas lihat di mal," jawabku sambil menciumi pipi gembul Mireya yang menggemaskan.
"Kamu repot banget sih, makasih ya, Ra." Kak Yumna tersenyum dan Mireya ikut tersenyum melihat mamanya. Menggemaskan sekali.
"Kimmora juga sebentar lagi akan melahirkan, pasti rame ya kalau keluarga Mahendra lagi kumpul-kumpul," ucapku sambil membayangkan Mireya dan anaknya Kak Arsen yang akan lahir itu, menangis karena berebut mainan.
"Setelah anaknya Kimmora lahir, giliran kamu yang hamil, Ra."
"Aamiin, semoga aja Kak."
*
*
*
Hari ini acara wisuda di kampus. Setelah melewati rangkaian acara yang menandai kelulusan para mahasiswa, Kak Zayn mengajakku untuk makan malam dan merayakan kelulusan dengan mengundang beberapa temanku. Ia menyewa satu restoran mewah tanpa sepengetahuanku.
"Kak Zayn siapin ini semua?" tanyaku yang sangat takjub dengan dekorasi cantik yang dihiasi namaku di beberapa sudutnya.
"Yang nyiapin dia, bukan aku! Aku cuma nyuruh aja." Kak Zayn menunjuk Asisten Kaisar yang juga ditemani Dara, kekasihnya.
"Tapi yang punya ide Kak Zayn, kan?" Aku bergelayut manja di lengan Kak Zayn yang memakai jas rapi.
"Iya dong, ini semua buat kamu," kata Kak Zayn yang kemudian mencium pipiku.
Acara pesta pun dimulai, aku yang didampingi Kak Zayn memberikan beberapa kata ucapan dan juga salam perpisahan dengan teman-temanku di kampus itu. Lalu, setelahnya semua kembali menikmati pesta.
"Makasih ya Dera, tahu aja kita anak kost jarang makan enak, apalagi gratis gini," kata Dimas, salah satu temanku di kampus.
"Iya, Ra. Beruntung banget kita punya temen baik kayak lo. Panteslah lo dapat suami perfect gitu, lo baik banget sih, Ra." Dini ikut bersuara, salah satu mahasiswa yang cerdas di kelasku.
"Kalian berdua kalau nggak diajak makan gratis tetep bilang Dera baik nggak?" tanya Nadya.
"Kalian tu apaan sih, nggak jelas banget," sahutku sambil ketawa-ketiwi dengan mereka.
Tiba-tiba ada yang merangkul pundakku lalu berkata, "Aku pinjam Dera bentar ya!" Lalu, ia membawaku ke sudut ruangan yang jauh dari teman-temanku.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Aku mau kasih hadiah buat kamu." Kak Zayn menyodorkan hadiah kecil yang dihias pita merah muda.
"Apa ini?" tanyaku sambil menatap wajahnya yang terus tersenyum.
"Buka aja!" perintahnya.
Lalu, aku menarik pita itu dan membuka isinya. Sebuah foto resort di atas laut yang sangat cantik, dengan air laut yang sangat jernih.
"Coba tebak itu di mana?" tanya Kak Zayn setelah aku berhasil membuka hadiah darinya.
"Em, Maldives?" tebakku. Hanya itu yang ada dalam benakku.
"Ya, kita akan ke sana besok."
"Kita?"
"Iya, aku, kamu, Kai, dan pacarnya. Dia yang akan mengurus semuanya, Ra. Jadi kita bisa menikmati bulan madu kita," kata Kak Zayn yang membuatku ternganga.
"Ini bulan madu apa rekreasi? Kenapa semua ikut?"
"Biarkan saja, si Kai nggak mau kalau pacarnya nggak diajak," kata Kak Zayn.
"Mereka belum menikah, Kak."
"Iya, aku tau, kita pesen tiga kamar. Aman kok."
Sebenarnya, ini bulan madu apa double date ya? Kak Zayn dan asistennya itu memang sama-sama aneh.
♥️♥️♥️
Yang mau ikut, kembang kopinya kirim dulu 😘😘😘