
ZAYN
Istriku sangat suka dengan yang namanya belanja. Kalau saat ini dia tidak sedang hamil anak-anakku, aku pasti akan membiarkannya berbelanja sendiri. Dera yang aku kenal itu super lincah, apalagi kalau sudah menyangkut promo dan diskon, dia bisa kalap seolah-olah tidak mampu membeli dengan harga normal.
Kali ini, ia mengajak Kimmora dan mamanya belanja bersama. Untungnya, Arsen ikut dengan membawa serta bayinya. Bayi yang belum bisa berjalan sendiri itu memang lucu dan tampan.
"Kalian tunggu sini aja, kita mau belanja!" kata Dera lalu merangkul tangan mamanya yang berada di tengah antara Dera dan Kimmora.
"Udah biarin aja, ada Mama yang akan jaga mereka," kata Arsen yang seolah paham dengan kekhawatiranku.
"Iya. Xavier umur berapa sih?"
"Umur sepuluh bulanan, lagi aktif-aktifnya dia, udah nggak bisa diem," jawab Arsen. Ia sibuk sekali menitah anaknya yang memang tidak mau dduduk tenang.
"Aku tu ngebayangin anak aku empat dan semuanya super aktif kayak Xavier gimana ya," curhatku.
Arsen masih menitah anaknya jalan bolak-balik, sedangkan bayi itu tertawa bahagia apalagi sepatunya mengeluarkan bunyi setiap kali kaki kecinya melangkah.
"Ya gantianlah, kita harus adil sebagai orang tua. Porsinya harus pas dan seimbang. Yang aku bayangin itu ribetnya kalau mereka diajak keluar kayak gini. Xavier aja dandan sama persiapannya lebih lama dari mommienya, apalagi kalau kembar, mungkin dua-tiga jam sebelum pergi rumah sudah heboh."
Aku dan Arsen sama-sama tertawa.
"Mom-mi, Mom-mi." Xavier menunjuk mommienya mondar-mandir mencari perlengkapan bayi.
"No-no, biarkan mommy happy belanja-belanja. Xavier stay here, with daddy, oke."
"Mom-mi, Mom-mi." Bayi itu masih terus berjalan dengan bantuan Arsen sambil memanggil ibunya.
"Oh iya, Arsen. Waktu Xavier lahir, kamu nemenin istri kamu nggak?" tanyaku.
Dera sempat cerita kalau dia tidk suka dengan aroma rumah sakit, sehingga aku sedikit khawatir dengan persalinannya nanti.
"Iya lah, sebenarnya aku merasa bersalah waktu sadar dari koma dan Kimmy bilang kalau dia hamil lagi. Aku emang sering bercanda minta dia hamil lagi, tapi nggak nyangka bisa secepat ini. Padahal waktu dia melahirkan Xavier, aku melihat jelas perjuangan dia, sakitnya dia, dan itu buat aku semakin menghormati dia sebagai istri dan ibu," kata Arsen yang kini sudah kembali duduk bersamaku, Sedangkan Xavier sibuk dengan susu di botolnya.
"Gimana perasaan kamu waktu ketemu Xavier pertama kali? Apa yang kamu lakuin waktu itu?" tanyaku lagi.
"Tapi dia mirip banget sih sama kamu. Anaknya Dion juga mirip banget sama Dion. Apa semua bayi itu mirip bapaknya?"
Arsen tertawa. "Kamu tahu nggak, Kimmy iri banget waktu Xavier lahir, karena nggak ada mirip-miripnya sama dia, padahal dia yang hamil dan melahirkan."
"Emang nggak adil sih ya."
"Iya, makanya aku sendiri juga nggak tahu kok bisa gen aku lebih kuat. Kalau Dera kan hamil empat, masih ada kemungkinan mirip kamu atau Dera."
"Bener-bener, tapi kalau kembar identik empat-empatnya ya beda lagi ceritanya."
"Kalian ghibahin apa?" Dera tiba-tiba sudah berdiri di belakang kami.
"Loh, udah belanjanya?" tanyaku sambil berdiri, membantu Dera untuk duduk. Mama dan Kimmora masih mengantre di kasir.
"Udah, diantriin Mama, aku capek banget," keluhnya.
"Kamu kayaknya butuh kursi roda deh Ra," kata Arsen.
"Terus Kak Zayn doong krusi roda aku, sebelahnya Kak Arsen dorong strollernya Xavier. Aku sama Xavier sama-sama didorong dong. Ya nggak Xavier."
"Kayaknya bener deh kata Arsen, besok kita beli kursi roda buat kamu biar nggak capek kalau ke mana-mana."
❤❤❤
Selamat siang, aku up lagi gaess.
Makasih udah menunggu. Mohon maaf banget ya, buat kalian yang ngeluh cuma 1 bab. Aku juga punya kehidupan nyata gaess, maafkan aku. Tapi aku usahakan up setiap hari kok 🥰🥰🥰
Putri dan Zayyan tetap di sini ya. Karena mereka emang pasangan kedua di novel ini. Pasangan utama tetap Zayn-Dera,
Sampai ketemu lagi 😘😘😘