
...Pokoknya bukan area bocil. Skip bab selanjutnya 🥰...
Ibarat singa, Kak Zayn seperti singa yang kelaparan setelah satu-satunya kain penutup itu terbuka. Ia langsung menyerbu habis benda kenyal itu dan membuatku terbaring di kasur karena tidak kuat menahan serangannya.
Mulutnya yang basah, menyesap kuat choco chip yang tidak akan mengeluarkan apapun. Satu tangannya menjepit dan memi*lin choco chip kembarannya. Aku bisa merasakan Juna yang sudah mengeras menyentuh pahaku.
Rasa nikmat saat Kak Zayn menghisap dan memainkan choco chipku membuat mulutku tidak berhenti merintih nikmat. Kulihat Kak Zayn tersenyum sambil terus memainkan kedua choco chip. Lalu, tanganya bergerak turun dan menyentuh pintu surga yang aku yakin sudah sangat basah.
Kemudian, Kak Zayn melepaskan choco chip dari mulutnya. Ia merebahkan diri di sampingku, lalu tiba-tiba ia membuatku berada di atasnya.
"Lakukan, aku ingin melihatmu seperti kupu-kupu yang terbang bebas," kata Kak Zayn lalu tersenyum.
"Aku?"
"Iya, kamu yang di atas," kata Kak Zayn.
Kepalang tanggung, mau tidak mau aku harus menurutinya, apalagi aku juga sudah sangat menginginkan Juna memasuki saat ini.
"Ayo, Sayang, tunjukkan aksimu." Kak Zayn mere*mas-re*mas benda kenyal yang menggantung bebas itu.
"Sekali aja ya," jawabku yang pada akhirnya pasrah.
Kak Zayn mengangguk dan tersenyum. Lalu, aku meraih Juna yang tidak cukup ku genggam dengan satu tangan, dan akhirnya aku menggesekkan Juna pada lembahku yang sangat basah.
Rasanya geli-geli nikmat, lalu aku mengarahkan Juna untuk masuk ke dalam rumahnya, melewati lorong sempit yang membuat Juna kesulitan masuk.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Juna bisa masuk sepenuhnya ke dalam rumahnya, membuatku merasa penuh dan Juna terasa menabrak dinding rahimku yang terasa nikmat.
"Ouh, Ra. Ini benar-benar nikmat."
Tidak hanya Kak Zayn yang merasakan itu, aku sendiri juga selalu merasakan kenikmatan setiap kali Juna beraksi.
Lalu, setelah tubuhku mulai nyaman dengan kehadiran Juna, aku mulai bergerak perlahan, berputar-putar, sesekali bergerak naik turun. Sementara Kak Zayn terus bermain dengan gunung dan choco chipku, menambah sensasi nikmat yang memacu adrenalinku untuk bergerak semakin bebas. Melakukan apapun yang aku suka, karena aku pemimpinnya.
"Ahh." Rasanya benar-benar nikmat, aku seperti terbang bebas ke angkasa, menjadi kupu-kupu seperti yang Kak Zayn katakan.
Aku tidak tahan untuk mencium bibir Kak Zayn, membuat tangan Kak Zayn berpindah dari bukit menuju punggung lalu bergerak turun mencari dua bongkahan daging kenyal yang juga bergerak seirama dengan gerakan Juna.
"Aku udah mau keluar, Kak," kataku saat aku merasa ingin meledak.
Kak Zayn membalik posisi kami. Sekarang dialah yang memimpin permainan ini.
"Keluarkanlah, Ra!" Kak Zayn bergerak cepat menabrak dinding pembatas itu, membuatku semakin merasa tidak karuan.
Aku begitu menikmati sampai rasanya seluruh ototku menegang, aku hampir mencapai puncak.
"Ra, kalau kamu jepit terus, aku juga nggak tahan." Kak Zayn membenamkan wajahnya di dadaku, sambil terus bergerak semakin cepat.
Gerakan demi gerakan membawaku semakin terbang, dan akhirnya aku meledak juga.
"Ahh." Aku berteriak saat aku terbang di angkasa, melayang bebas meninggalkan cairan hangat yang memandikan Juna. Sedangkan Juna masih terus bergerak semakin cepat.
"Ah, aku cinta kamu Ra." Kak Zayn juga berteriak saat Juna menembakkan cairannya dan menghangatkan rahimku.
Seketika itu, Kak Zayn ambruk di atasku, membiarkan Juna memuntahkan semuanya tanpa sisa.
♥️♥️♥️
Udah ya, nganu-nganunya. Selamat hari jumat 🤭🤭
Maapken aku yang polos ini 🙈
Jangan lupa jempolnya, semua diangkat.
Kembang kopinya juga jangan lupa.
Sampai ketemu lagi 😘😘😘