
DERA
Pagi ini, aku berkunjung ke rumah Mama, karena Kak Zayn sudah berhasil menemukan titik terang dari kasus kecelakaan yang menimpa Kak Arsen. Kata Kak Zayn orang yang menjadi dalang kecelakaan itu adalah rival bisnis Papa.
"Papa nggak nyangka kalau memang dia pelakunya, di depan papa semuanya baik-baik saja, tapi kita harus punya bukti yang kuat untuk memenjarakannya. Papa tahu dia itu licik."
Kak Zayn mengangguk, lalu mereka kembali melanjutkan diskusi mereka, sedangan aku memilih untuk mencari sesuatu ke belakang. Melihat tanaman anggrek yang dulu aku tanam.
Di belakang rumah Papa memang ada banyak tanaman, ada bunga, tanaman hias dan tanaman buah-buahan. Halaman belakang rumah Papa lebih mirip kebun sebenarnya, karena Mama menanam pisang, rambutan, mangga, buah naga, kelapa, jambu, belimbing, bahkan pohon nangka juga ada.
"Kamu pengen mangga muda?" tanya Mama yang menghampiriku.
"Enggak, Ma. Masih segede jempol gitu mana bisa dimakan," jawabku, lalu aku berjalan menghampiri pohon kelapa yang ditanam Mama saat aku masih kecil, sekarang tingginya sudah berkali lipat dari tinggi badanku."Ma, kalau kelapa ini udah enak dimakan belum?" tanyaku.
"Oh, yang muda-muda itu bisa kok, Sayang. Kamu mau? Biar Pak Muh yang petikin nanti.
"Nggak usah, Ma. Aku tahu siapa yang akan manjat nanti."
Aku berjalan dengan semangat menghampiri Kak Zayn yang masih bersama Papa, sekarang asistennya sudah datang, dan mungkin sebentar lagi mereka akan berangkat ke kantor.
"Kak, aku mau ngomong bentar," panggilku yang membuat Kak Zayn langsung berdiri dan menghampiriku.
"Kenapa? Kamu pusing? Mual-mual? Nggak enak badan?"
"Ih, dengerin dulu, Kak. Aku lagi pengen sesuatu." Aku senyum-senyum genit supaya Kak Zayn mau menuruti keingiinanku.
"Apa Queen? Kamu mau apa? Sebentar lagi aku ke kantor, ada meeting."
"Aku pengen kelapa muda," katau yang membuat Kak zayn tersenyum.
"Iya nanti aku belikan, ya." Kak Zayn mengusap perutku.
"Bukan gitu, Kak. Aku mau Kak Zayn sendiri yang petik kelapanya di belakang rumah."
"Maksudnya, aku yang manjat pohon?" Kak Zayn sedikit berteriak.
Pasti dia tidak mau. Mana ada sih seorang Big Boss yang mau manjat kelapa. Tinggal beli saja isa dapat satu kebun dengan mudahnya.
"Ya udah kalau nggak mau," balasku lalu berajak meninggalkannya.
"Iya, iya Queen. Kamu akan dapat kelapa yang dipetik langsung kok, biar Pak Muh yang petik ya." Kak zayn meraih tanganku untuk menghentikan langkahku.
"Nggak mau, aku maunya Kak Zayn."
"Kaisar aja ya, dia di kampung jago manjat juga kok."
"Nggak mau ya udah, sana berangkat. Aku mau tidur." Aku langsung meninggalkannya.
Aku sudah menaiki anak tangga menuju kamarku.
"Iya iya, kakak petikin sekarang, kamu lihat ya dari balkon." Kak Zayn berteriak karena aku sudah di ujung tangga paling atas.
Tanpa menjawab lagi aku langsung masuk ke kamarku, berjalan ke arah balkon dengan membuka pintunya.
Dari atas, aku bisa melihat Kak Zayn yang berjalan menuju pohon kelapa. Tentu saja ia tidak sendiri, ada asistennya yang ikut berjalan di belakangnya.
Dua orang dengan tinggi badan yang hampir sama itu terlihat berdebat. Meski aku tidak bisa mendengar langsung, tapi dari bahasa tubuh mereka, aku yakin mereka sedag berdebat. Sepertinya, Asisten Kai sedang memberi arahan atau mungkin sedang mengajari cara memanjat pohon kelapa yang benar.
Kak Zayn melepaskan jas yang dipakai, menyisakan kemeja dan celana kain yang merupakan setelan dari jasnya. Perlahan-lahan Kak Zayn mulai naik, meskipun beberap kali gagal, ia tetap mencoba lagi, sampai akhirnya entah naik pohon yang ke berapa, Kak Zayn berhasil sampai di puncaknya.
Aku keluar kamar menuju pintu di balkon utama yang terdapat tangga langsung menuju halaman belakang.
"Aku mau yang masih muda," teriakku sambil berjalan menuruni anak tangga. Terakhir kali aku menuruni tangga besi ini adalah saat hari pernikahanku dan Kak Zayn. Sekarang, aku menuruni tangga yang sama di saat aku mengandung buah cinta kami.
Kak Zayn masih berada di atas. Asissten Kaisar mengumpulkan kelapa hasil petikan Kak Zayn, ia menggoyang-goyangkan kelapa itu dan menempelkannya ke telinga.
"Udah Bos, masih muda semua," kata Assisten Kaisar dengan sedikit berteriak.
"Terus ini gimana turunnya?" tanya Kak Zayn yang masih berada di atas pohon kelapa.
"Turunnya pelan-pelan aja, Bos, kayak naik tadi. Masa nggak bisa sih?"
Pelan-pelan Kak Zayn mulai turun dari pohon, dan akhirnya berhasil mendarat dengan selamat.
"Huft, perjuangan banget sih nurutin bumil," kata Kak Zayn sambil mengibas-kibaskan kemejanya yang kotor, ada robekan juga di celananya.
"Udah jangan ngeluh, bpas bikinnya aja nggak prnah ngeluh kok," sahutku sambil ikut membersihkan pundaknya.
"Kalau bikinnya kan enak, nggak mungkin ngeluh Queen," jawab kak Zayn.
"Udah dong, jangan buat pikiranku yang masih suci ini traveling ke mana-mana," keluh Asisten Kaisar.
"Ya udah, sekarang pecahin kelapanya, aku udah nggak sabar pengen minum air kelapa muda," ucapku sambil menggesekkan kedua telapak tangan.
"Yang mmecahin boleh Kai aja, kan?" tanya Kak Zayn.
"Ya enggak, yang mecahin harus Kak Zayn juga."
♥️♥️♥️
Jangan lupa jempolnya diangkat semua 😘😘😘