
ZAYYAN
Aku masih merangkul pinggang Putri yang sekarang mulai pasrah. Jawaban refleks yang aku ucapkan, sepertinya akan menjadi bumerang untukku. Putri pasti akan memanfaatkan keadaan, tapi ya sudahlah pasrah saja dengan keadaan.
"Kalian kenapa bisik-bisik?" tanya Kak Zayn yang membuat rangkulanku di pinggang Putri terlepas.
Dera berjalan menghampiri kami bertiga, aroma vanila stroberi semakin terasa setelah ia mendekat, sepertinya ia bru saja menyemprotkan ciaran wangi itu ke seluruh tubuhnya.
"Jadi kalian pacaran?" tanya Dera dengan senyum cerah dan mata yang berbinar indah. Istri orang kenapa secantik ini sih? Ingat Za, dia kakak iparmu, berhenti mengaguminya.
"Beberapa hari yang lalu, Kak. Iya 'kan Put?" Aku mengedipkan mata untuk memberi isyarat pada Putri.
"I–iya Kak," jawab Putri.
"Syukurlah kalau emang gitu." Dera tersenyum, lalu menggandeng tangan Kak Zayn. "Udah yuk jangan gangguin orang pacaran! Kita masuk dulu ya." Dera menarik tangan Kak Zayn untuk menjauh dariku dan Putri.
"Iya, Nona," jawab Putri.
"Pacaran boleh Za, tapi inget jaga diri, jangan macem-macem!" kata Kak Zayn sebelum akhirnya pergi bersama istrinya.
Saat ini, tinggal aku dan Putri berdua di halaman rumah milik calon istri Asisten Kai.
"Sekarang jelasin! Maksud Kakak itu apa?" Putri mendorong lenganku.
"Nggak ada maksud. Kamu udah iyain kan kalau kita pacaran. Ya udah, sebagai imbalannya kamu mau aku lakuin apa yang kamu mu," kataku.
Aku menatap Putri yang tingginya sekitar dua puluh senti lebih pendek dariku. Pandangan mata kami saling bertemu. Putri memang cantik, usianya lebih muda dari Dera yang notabenenya memang lebih tua dariku.
Aku masih menanti apa yang akan Putri minta sebagai imbalan karena telah mau menjadi pacar pura-puraku. Mata bulat sempurna itu sedang mengerjap, telihat lucu, dan tanpa sadar aku menarik ujung bibirku.
"Kenapa senyum-senyum? Aku cantik kan?" tanyanya yang membuatku membuatku membuang muka.
"Cih, percaya diri sekali. Udah masuk sana jangan gangguin aku," usirku. Lalu, aku membuka handle pintu mobil, tetapi Putri menghalangi tanganku,
"Jelasin dulu sampai kapan kita pura-puranya. Apa aja yang aku dapat selama menjadi pacar pura-pura kamu," ucapnya.
"Dasar sombong, sok ganteng sok kaya. Kalau gitu dengerin!" Putri menepuk-nepuk pundakku lalu menyeringai. "Mulai sekarang, antar jemput aku ke mana pun aku minta. Di depan teman-temanku, Kakak juga harus pura-pura sayang sama aku pokoknya selayaknya orang pacaran, karena aku nggak mau nanti ketahuan kalau kita cuma pura-pura pacaran. Satu lagi, Kakak harus belikan aku sesuatu."
"Belikan apa?"
"Belikan aku helm, aku nggak mau kalau lewat gang gang sempit lagi, nanti tiba-tiba ada kucing lewat Kakak ngerem mendadak lagi."
Aku mengembuskan napas berat, aku pikir dia akan meminta sesuatu yang membuatku pusing.
"Itu aja?" tanyaku. Permintaan Putri bukan hal sulit untuk aku wujudkan, kalau hanya pura-pura saja aku pasti bisa, pura-pura bahagia dan kuat saat menjadi saksi pernikahan Dera dan Kak Zayn saja aku bisa.
"Nanti aku pikir-pikir lagi, yang namanya pacar, apapun yang ceweknya minta pasti dituruti 'kan? Kalau Kak Zayyan nggak mau nuruti, aku anggap kita putus." Putri mengangkat satu ujung bibirnya, tangannya bersedekap seolah mengejekku.
"Bukan kamu yang bisa memutuskan perjanjian ini, tapi aku." Aku mencekal tangan terlipat itu. Kesal sekali melihat wajah menyebalkan itu.
Aku menunduk untuk menatap dua mata Putri yang masih menahan tawa. Dia benar-benar mengejekku.
"Aku tau, Kakak butuh aku biar kelihatan move on dari kakak ipar sendiri kan? Cih, kasihan sekali, itu artinya Kak Zayyan kalah ganteng dan kalah tajir dari kakak sendiri."
"Kamu bisa diam nggak?" Ucapan Putri benar-benar memancing emosiku.
"Kalau aku nggak diam, kakak mau cium aku?" Putri tertawa terbahak-bahak. "Kakak tu butuh aku, nggak usah sok sok an marah."
"Zayyan kamu ngapain?"
Mama keluar bersama Papa dan rombongan, sepertinya acara lamaran sudah selesai, dan sekarang mereka semua memadangku yang masih mencekal tangan Putri mepet ke mobil.
"Aku nggak ngapa-ngapain, Ma. Tadi, Putri mau jatuh makanya aku tolongin," jawabku membohongi Mama. Semoga mereka semua bisa percaya dengan ucapanku.
"Aku turuti maumu, asal kamu bisa jaga rahasia, jangan sampai ada yang tahu kita cuma pura-pura pacaran," bisikku pada Putri.
♥️♥️♥️
Jangan lupa ritualnya 😘😘😘