Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 103


Seharian ini kami hanya menghabiskan waktu berdua menikmati hari. Tanpa ponsel, tanpa pekerjaan, dan kami benar-benar menikmatinya. Kami saling berbagi cerita, tentang mimpi dan masa depan yang kami rancang berdua.


“Kamu tahu, Ra. Terkadang aku berpikir, kenapa saat ini kita hanya berdua tanpa anak, itu semua ada alasannya,” kata Kak Zayn yang sedang duduk bersandar di sofa, menatapku yang sedang memotong kuku kakinya.


“Kenapa?” tanyaku sambil mengeluarkan kutek, lalu mulai menyapukan kuas kutek di kuku Kak Zayn saat ia mulai bercerita.


“Karena Tuhan ingin kita menikmati waktu kita berdua dulu. Saling belajar untuk mengerti dan memahami. Kita menikah bukan karena cinta, tapi sekarang kita bahagia karena cinta." Kak Zayn duduk lalu mencium pipiku.


Apa yang dikatakan Kak Zayn memang ada benarnya, aku dan Kak Zayn memang perlu banyak adaptasi. Banyak sifat dan kebiasaan kami yang masih saling menyesuaikan.


"Coba kamu pikir deh, bayi itu suka bangun malem-malem terus nangis Ra. Kayak Zayyan waktu bayi, aku lihat mama tu repot banget ngurusinnya. Kalau nanti kamu repot mengurus anak kita, kita pasti jarang punya waktu berdua kayak gini. Aku kan sibuk kerja, kapan kita mesra-mesraannya kalau kamu juga sibuk?"


"Iya deh iya, tapi janji ya, jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi."


"Iya Ra." Kak Zayn mengacak-acak rambutku yang tergerai. "Kamu kebanyakan nonton drama sama baca novel kayaknya. Orang nikah itu nggak langsung hamil, Ra. Banyak juga yang menikah beberapa tahun baru dikasih anak," kata Kak Zayn.


"Iya, suamiku." Aku balas mengecup pipinya.


Kak Zayn tersenyum, tak lama ia seperti sadar sesuatu. "Ra, kamu apain kaki aku?"


Aku bangun dari sofa dan berlari menghindari Kak Zayn yang kini mengejarku. Kami berkejaran di rooftop villa yang tidak terlalu luas ini.


"Jangan lari, Ra. Kalau aku berhasil tangkap kamu, aku nggak akan lepasin kamu dengan mudah, Ra," kata Kak Zayn yang terus berusaha menangkapku.


Tanpa kusangka, Kak Zayn berlari cepat dan sialnya aku malah menabrak pot besar yang terbuat dari semen, sehingga kakiku terasa sakit dan aku berhenti berlari.


"Kena kan kamu!" Kak Zayn berhasil menangkapku dengan memegang kedua lenganku.


Aku bersandar di tembok pembatas, membelakangi pantai dan berhadapan langsung dengan tubuh Kak Zayn yang jauh lebih tinggi dariku.


"Mau lari ke mana kamu, Ra?" tanya Kak Zayn yang kini ikut menyandarkan tangannya di dinding pembatas, sehingga kini wajah kami terasa sangat dekat saat Kak Zayn menunduk.


"Kaki aku sakit nih," jawabku yang berusaha mengalihkan perhatian.


"Oh ya, kuku aku juga kenapa jadi merah-merah gitu? Kamu sengaja kasih kutek?" Kak Zayn mendekatkan kepalanya ke leherku, lalu ia meniup pelan sampai aku merasa geli.


"Aku kan cuma … ahh." Kak Zayn tiba-tiba mengecup dan menghisap leherku yang membuat aku mende*sah karenanya.


"Aku bilang nggak akan mengampunimu, Ra. Si Juna udah bangun, dan sekarang tugasmu membuatnya tidur lagi." Kak Zayn kini mencium bibirku dengan lembut, lalu kembali turun ke leher yang membuat napasku semakin memburu.


Sepertinya, bermesra-mesraan bagi Kak Zayn memang tidak jauh-jauh dari ranjang. Lagi-lagi, Juna akan kembali beraksi untuk menyiramku dengan kehangatannya. Semoga dengan begini, usaha Juna tidak sia-sia dan segera membuatku hamil.


♥️♥️♥️