
ZAYYAN
Di tahun ketiga pernikahan kali ini, Mas Kai dan istrinya mengadakan syukuran di rumah mereka. Acaranya cukup sederhana, hanya mengundang aku dan Putri, lalu Kak Zayn dan keluarganya, juga Mama dan Papa yang sudah menganggap Mas Kai seperti keluarga sendiri.
Hari ini genap tiga tahun mereka menikah, artinya besok aku dan Putri juga merayakan hal yang sama. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat.
Mas Kai sengaja mengadakan acara makan dengan barbequan. Para istri sibuk menyiapkan bumbu dan para suami sibuk memanggang, lebih tepatnya aku dan Mas Kai karena Papa dan Kak Zayn sedari tadi hanya sibuk ngobrol.
"Kai, kayaknya bagus deh kalau area ini dikasih gazebo," komentar Kak Zayn yang hanya duduk di belakangku dan Mas Kai, sementara Mas Kai sibuk membakar jagung.
"Dara nggak suka ada begituan di rumah, Bos. Dia suka rumah yang malah kelihatan luas kayak gini," jawab Mas Kai.
"Untung aku pinter milih Kai, coba kalau nggak, pasti rumah kamu sempit," kata Kak Zayn lagi.
"Emang rumah ini Kakak yang pilih?" tanyaku ikut bergabung dengan pembahasan mereka, masalahnya mereka berbicara dengan keras dan sangat jelas di telingaku.
"Iya. Upah beli bakso ini rumah," jawab Kak Zayn.
Aku tidak mengerti dengan ucapan Kak Zayn itu, hanya karena bakso saja bisa dapat rumah. Aku sampai menoleh pada Kak Zayn yang duduk santai di belakangku.
"Maksudnya apa sih, Mas?" tanyaku pada Mas Kai. Tanganku masih sibuk membolak balik daging dan sosis yang cukup banyak dimasak.
"Ya, karena nuruti istrinya yang ngidam, tengah malam aku keliling cari bakso isi telur, terus aku dapat hadiah rumah ini," jawab Mas Kai dengan bangga.
"Aneh, istrinya Kak Zayn yang ngidam, kenapa Mas Kai yang repot?" gumamku yang mungkin masih terdengar di telinga Mas Kai.
"Biarin aja, yang penting kita jangan kayak dia."
*
*
*
Putri menyuapi daging, seperti Dera yang menyuapi ketiga anaknya yang sangat aktif.
Istrinya Mas Kai saat ini sedang hamil, dan karena itulah Putri seakan iri melihatnya.
"Kakak, kapan mau buat aku hamil?"
Pertanyaan itu membuatku tersedak, rasa pedas mulai menjalar sampai ke hidung membuatku terbatuk-batuk.
Dera menyerahkan gelas minuman yang tidak jauh dari posisinya kepada Putri, lalu Putri memberikan minuman itu padaku.
"Kapan Za?" tanya Kak Zayn seolah mengejek.
"Putri, kita kan udah bahas ini, nanti kalau kamu udah lulus aja," jawabku sambil menggenggam tangannya, sementara Putri meletakkan piring di meja.
Istriku itu menggendong Ellea anak bungsu Kak Zayn, ia membawanya menjauh dari kami dan menyusul Leonel yang sedang bermain bersama pengasuhnya.
"Kenapa sih Za? Kalian sengaja nunda ya?" tanya Kak Zayn yang ikutan kepo.
Aku melirik kakakku itu dengan malas. Soal seperti ini sebenarnya kan cukup sensitif.
"Aku cuma mau dia fokus kuliah dulu, Kak. Takut aja kalau kejadian itu keulang lagi," jawabku.
"Za, bukannya aku mau ikut campur, tapi menurutku Putri udah siap kok punya anak. Lihat cara dia momong El, kelihatan banget kan sikap keibuannya?" Dera menunjuk ke arah Putri yang sedang tertawa karena bermain dengan anak-anak Kak Zayn dan Dera.
Apa ini saatnya aku dan Putri merencanakan momongan?
❤❤❤
Ritual jejaknya jangan lupa, kembang kopi ada di kolom hadiah ya 😘😘😘