
ZAYYAN
Ini hari pertamaku dan Putri untuk pacaran pura-pura. Aku menjemputnya di apartemen sesuai perjanjian kami kemarin.
Aku menunggunya di depan apartemen karena malas jika harus masuk.
^^^Aku udah di depan^^^
Iya, tunggu bentar.
^^^Kalau kelamaan aku tinggal^^^
Bawel. Kalau ninggalin, perjanjian batal.
Daripada bermain ponsel membalas chat, kenapa dia tidak cepat-cepat turun saja? Dasar cewek aneh!
Lima menit menunggu, akhirnya gadis itu keluar juga dari persembunyiannya. Ia mengikat rambutnya ekor kuda, menjulang di ujung kepalanya, berjalan santai menghampiriku yang sudah kepanasan.
"Bisa jalan lebih cepet nggak sih? Biasanya tikus itu lincah nggak kayak kamu," teriakku yang membuatnya melotot.
"Bawel deh Kakak," sahutnya yang kini sudah semakin dekat. "Buru-buru amat, nggak sabar ya mau pamerin aku ke temen-temen Kak Za." Putri mengedipkan satu matanya, gaya centil itu sangat tidak cocok dengannya.
"PD banget sih. Nih pakek!" Aku menyerahkan helm yang baru saja aku beli itu pada Putri.
"Kok merah sih, aku sukanya yang pink," protesnya yang sudah memasang wajah kesal.
"Jangan berisik deh, udah dibeliin juga. Merah tuh cocok sama Nindy, biar matching." Aku memasang helm untukku sendiri. Lalu, bersiap menyalakan mesin motor.
"Aduh, kok sakit sih, rambutku rusak deh," gerutunya yang kemudian melepas ikatan rambutnya.
Salah sendiri, sudah tahu naik motor pakai helm, malah ikat rambut setinggi monas.
"Ini gimana nguncinya sih?" tanya Putri yang masih berdiri dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya. Rambutnya yang lurus, hitam, dan panjang kini tergerai, tertutupi helm merah yang memantulkan cahaya matahari.
"Elah, kampungan banget sih. Sini!" Aku mengancingkan tali helm di dagu Putri. Lehernya yang putih dan bersih terlihat jelas ketika aku mengancingkan helmnya. Tidak mau berpikiran kotor, aku mengalihkan pandanganku pada stiker yang masih terpasang di helmnya. "Ini tu dibuang, mau pamer apa kalau punya helm baru?" Aku menarik lepas stiker yang menutupi helm Putri, kaca bening itu akhirnya tidak bisa menghalangi wajah Putri yang memang sebenarnya cantik.
"Ih, kenapa tadi nggak Kakak lepas dulu, sengaja banget ya mau bikin aku malu. Dasar, pacar nggak peka!"
"Pacar pura-pura, dasar Tikus Got, udah dibeliin juga masih aja ngomel, nggak tau terima kasih banget sih jadi orang," desisku.
...****************...
Aku menghentikan Nindy tepat di parkiran kampus yang teduh. Aku tidak pernah rela jika Nindy harus kepanasan.
"Lepasin helmnya dong, Kak," kata Putri setelah turun dari motorku. Aku masih merapikan rambutku sendiri dan beralih menatapnya.
Aku membuang napas berat. Pacar pura-pura saja merepotkan, apalagi pacar beneran.
Dengan malas, aku membantu Putri melepaskan helmnya. Karena rambutnya tidak diikat, sebagian rambut itu membuat ribet saat melepaskannya.
"Aduh, sakit, Kak. Pelan-pelan dong," ocehnya yang membuatku semakin tidak sabar ingin menarik paksa tali helmnya.
Tepat saat kunci pengaman dari helm itu terlepas, seseorang memanggilku. "Zayyan."
Aku menoleh pada perempuan yang menjadi primadona kampus itu. "Vina."
"Kalian sedang apa?" tanya Vina yang kini menatapku dan Putri bergantian.
"Aku bantu lepasin helm pacarku," jawabku santai.
"Kalian pacaran?" tanya Vina lagi.
"Em, iya Kak. Baru jadian kemarin." Putri merangkulkan tangannya di lenganku.
"Bener Za?"
Aku mengangguk.
"Ih, dibilangin nggak percaya sih," sahut Putri dengan centilnya.
"Oh, ya udah." Vuna meninggalkan kami, setelah kepergian Vina, Putri langsung melepaskan tangannya.
"Gimana aktingku, meyakinkan, 'kan?"
Ternyata pura-pura pacaran sama Putri ada untunggnya juga, Vina bisa menjauh dengan mudahnya berkat Putri.
...****************...
Putri masih ada kelas tambahan, sedangkan aku yang sudah selesai, malas bolak-bolik ke kampus untuk menjemputnya. Akhirnya, aku mengajak teman-temanku untuk bermain basket, sambil menunggu Putri.
Setelah mengirimkan pesan pada Putri uuntuk menenmuiku di gedung olaharaga, aku langsung mengganti bajuku dengan seragam basket kami yang ada di loker.
Setelah pemanasan dan bermain beberapa menit, aku melihat Putri masuk ke gedung. Mukanya ditekuk, memegang dua buku besar di hadapannya. Ia celingukan, lalu aku mengangkat tangan supaya ia bisa menemukanku.
Bukannya duduk santai, ia malah berjalan mendekat. Mau tidak mau aku pun menghampirinya.
"Ayo pulang, Kak," ucapnya. Terlihat sekali wajahnya yang sedang cemberut itu, membuatnya terlihat lucu.
"Tunggu bentar, lima belas menit deh," balasku lalu menunjuk tribune yang sepi. Aku mengisyaratkan agar Putri duduk di sana.
"Za, tangkap," pekik salah satu anggota timku, saat bola basket itu melayang di udara. Dilihat dari arahnya, bola itu pasti mengarah ke Putri yang masih berdiri membelakangiku.
"Awas!" Aku berlari cepat ke arah Putri yang masih belum jauh dariku. Aku menarik tubuhnya dalam pelukanku, detik kemudian, bola basket itu membentur pundakku, membuatku menjerit menahan sakit.
"Zayyan," suara teriakan dari teman-temanku bisa kudengar jelas, tapi aku lebih khawatir dengan Putri.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanyaku cemas.
"Hah?" Putri berkedip-kedip. Ia pasti bingung saat ini. "Iya aku nggak kenapa-napa."
❤❤❤