
Sesampainya di apartemen, aku langsung memasak, tumis kangkung dan ayam goreng saja supaya praktis, karena aku sudah lapar. Kak Zayn mandi terlebih dulu selama aku memasak.
Setelah selesai, aku mencuci bersih alat masak yang baru saja kupakai. Supaya tidak memenuhi wastafel dan membuatku risih. Tiba-tiba dua tangan melingkar di perutku, diikuti kecupan lembut di leher yang membuatku menoleh.
"Udah lapar?" tanyaku saat mata kami saling bertemu.
"Belum," jawabnya sambil menggesekkan hidungnya ke pundak dan leherku.
"Aku masih cuci piring nih, mau aku cuci juga?" Aku kembali fokus dengan teflon yang kucuci.
Kak Zayn melepas paksa sarung tangan cuci piring yang kupakai, lalu ia membalik tubuhku dengan cepat.
"Seharian aku sibuk banget sampai nggak bisa nikmati wajah kamu." Kak Zayn langsung melu*mat bibirku setelah mengatakannya.
Aku mendorong tubuhnya perlahan sampai ciuman kami terlepas.
"Aku kan masih libur Kak," ucapku lalu kembali membilas teflon, benda terakhir yang kucuci. "Kak Zayn mau makan sekarang apa nanti?"
Ia kembali memelukku dari belakang, membuatku merasa berat saat meletakkan teflon ke tempatnya.
"Masa cium aja nggak boleh," katanya dengan memelas.
"Ya boleh, tapi aku kan belum mandi, masih empt ...."
Ciumannya kembali mendarat, terasa lembut dan menghanyutkan seperti biasa.
"Dari tadi Juna nggak mau tidur, gara-gara tangan nakal kamu tu." Kak Zayn menarik tanganku untuk menyentuh Juna.
"Nggak sengaja tadi, udah ah, aku mau mandi. Bye bye Juna." Aku meninggalkan Kak Zayn di dapur yang memasang wajah kasihan.
*
*
*
Niat awalku memilih magang di perusahaan Kak Zayn supaya bisa dekat dengan orang yang kusukai. Sekarang ini memang sudah terwujud keinginanku, bahkan aku di magang di gedung yang sama dengannya, yang ternyata malah menjadi suamiku. Akan tetapi, sepertinya keputusanku itu salah, nyatanya aku tidak mendapat pengalaman apa-apa karena bekerja dengan suami sendiri.
Bahkan saking bosannya, aku sering bolak balik ke ruangannya, menikmati wajah seriusnya saat sedang bekerja. Sungguh membosankan!
Aku menaruh kepalaku di meja, bermain-main dengan pulpen yang berhias bulu-bulu lucu. Bosan sekali, Dara sekarang pelit, dia tidak mau membagi pekerjaan denganku.
"Kamu aja yang kasih laporan, aku nggak berani." Samar kudengar bisik-bisik di meja sebelahku.
"Kalau salah bicara, nanti Tuan Bos marah, bisa habis aku," bisik yang satunya lagi.
"Kalian ghibahin siapa?" tanyaku yang membuat dua wanita itu berjingkat karena kaget.
Aku menahan tawa melihat ekspresi terkejut mereka yang sangat lucu.
Yang berambut pendek mengelus dada, sementara yang rambutnya panjang mendorong pundak temannya.
"Kenapa sih kalian? Ghibahin Pak Bos ya?" godaku yang membuat keduanya menjadi pucat.
"Tapi apa?"
"Kita kemarin salah kasih laporan, dan yang benar sebenarnya ini." Gadis berambut pendek mengangsurkan map warna biru padaku.
Aku melihat sekilas lalu menatap keduanya.
"Kenapa kemarin bisa salah?" tanyaku penuh selidik.
"Kemarin sore kita buru-buru cetak laporannya karena waktunya sudah mepet jam pulang, dan pagi ini kita baru sadar. Maafkan kami Bu Bos," kata gadis berambut panjang dengan menundukkan kepala.
"Terus sekarang kalian takut menghadap Pak Bos?"
Keduanya mengangguk.
Hem, haruskah aku menolong mereka?
"Baiklah, ayo ikut denganku!" Aku berdiri dan mereka berdua mengekor di belakangku.
Lalu, kami bertiga menuju ruangan Kak Zayn dengan membawa laporan yang baru.
*
"Ada apa?" tanya Kak Zayn dengan wajah dingin yang menyebalkan. Ia melepas kacamatanya dan menarik tanganku untuk berdiri di sampingnya.
"Begini Tuan Bos, kami kemarin salah kasih laporan, seharusnya bulan kemarin, tapi yang kami kasihkan kemarin itu laporan bulan ini. Maaf Tuan Bos." Gadis berambut pendek menyerahkan map yang dibawanya.
"Apa kalian bo doh? Begitu saja kalian tidak becus?" Kak Zayn membanting map itu hingga membuat keduanya kaget.
"Kak Zayn, tenang!" Aku menyentuh pundak Kak Zayn yang kemudian menarik sampul dasinya.
"Pastikan tidak ada kesalahan!" Kak Zayn membuka lembar laporan satu demi satu, sedangkan aku memijat pundaknya supaya tidak terlalu tegang.
Dua wanita itu menunduk, dengan wajah yang tegang.
"Kalian boleh keluar!" Kak Zayn meletakkan laporan ke meja, lalu menarik tanganku sampai jatuh ke pangkuannya.
"Baik Tuan Bos, permisi!" Dua wanita itu keluar dari ruangan Kak Zayn.
"Jadi, sekarang kamu menjadi Dewi Pelindung mereka?" tanya Kak Zayn yang kini membelai wajahku. "Kalau begitu, kamu harus dihukum."
♥️♥️♥️
...Hukum lagi?? Eh iya kan belum buka puasa 🤣🤣🤣...
...Oh iya gengs, alurnya Arsen sama Zayn agak beda ya, soalnya Arsen udah hampir mendekati tamat 🥲...
Selamat hari minggu,
Jangan lupa ritualnya, angkat jempol kakinya juga.
Sampai ketemu lagi 😘😘😘