
"Kak Zayn." Dera menggerakkan tangannya yang kugenggam.
"Iya Sayangku." Aku memeluknya karena tidak sanggup menyembunyikan kesedihanku.
"Kakak kenapa sih? Anak-anak kita sehat semua kan? Mereka baik-baik aja kan?" Dera tidak mau membalas pelukanku.
"Anak kita baik-baik saja, Sayang. Kamu harus cepet pulih biar bisa lihat mereka." Aku mengusap kening dan rambut Dera.
"Kak Zayn lihat aku! Lihat mata aku, Kak. Bilang kalau mereka baik-baik aja," kata Dera dengan suara serak. Aku tahu dia hampir menangis saat ini.
Aku menurut dan memperhatikan wajahnya, dengan sekuat hati aku menguatkan diri untuk Dera. Berkali-kali aku mengatur napas untuk bisa berbicara dengan hati yang tenang.
"Iya Sayang, kenapa?" Tangan Dera yang kugenggam, aku letakkan di pipi. Aku duduk dan menatapnya dengan rasa khawatir.
"Cerita sama aku, ada apa Kak, jangan tutupin apa pun dari aku!" Dera terlihat memohon, matanya itu, aku tidak bisa lagi menutupi kenyataan ini darinya. Cepat atau lambat, dia pasti akan mengetahui juga.
Aku kembali menarik napas dalam, dan mengembuskannya dengan berat.
"Sayang, anak kedua kita. Dia ... ikhlaskan Sayang." Aku melihat mata Dera berkaca-kaca, dan genangan air itu perlahan keluar dari matanya.
"Kita harus kuat, Tuhan lebih mencintainya. Tuhan lebih menyayangi putra kita, Sayang."
Dera mulai menangis tersedu, yang bisa aku lakukan hanya memeluknya yang hanya bisa terbaring.
"Aku mau lihat dia, Kak. Aku belum gendong dia. Kamu pasti bohong, 'kan?" Dera memukul dadaku dengan lemah.
"Jangan banyak gerak Sayang, dokter tadi bilang apa? Jangan banyak gerak!"
"Aku nggak peduli Kak, aku mau ketemu anakku, Kak Zayn jahat. Kenapa Kakak biarin dia pergi?"
"Dera, kalau aku bisa, pasti aku akan lakukan apa pun untuk anak kita Sayang, aku akan bayar dokter mana pun yang bisa menyelamatkan nyawanya. Tapi aku ... tapi aku tidak bisa melakukan apa pun Dera, Tuhan sudah mengambilnya dari kita."
Dera semakin menangis. Aku bingung harus bagaimana? Aku takut karena kondisinya yang baru saja sadar.
"Ra, kuatlah. Kuatlah untuk ketiga anak kita, mereka masih sangat membutuhkan kamu." Aku kembali memeluk Dera.
"Dengarin aku. Besok pagi, kita mulai belajar gerak ya, aku akan temani kamu. Setelah itu aku janji akan antar kamu lihat mereka bertiga."
"Kakak, apa mereka bertiga sehat?"
"Ya, mereka sehat, hanya saja dokter teman kamu itu masih memantau kondisi mereka."
"Kak, apa anak kita sudah dimakamkan?" tanya Dera, matanya kembali berkaca-kaca.
"Iya, aku baru saja selesai memakamkan dia," jawabku.
"Kenapa dia meninggal Kak? Apa aku karena aku suka makan sembarangan?"
"Nggak Sayang, dia meninggal karena gagal jantung."
"Kasihan sekali dia Kak, dia sendirian di surga. Aku takut kalau kita kehilangan lagi, pasti mereka sangat kecil."
Maafkan aku Sayang, karena keegoisanku anak-anak kita dalam bahaya. Bahkan salah satu putra kita meninggal. Kalau saja kemarin malam aku tidak memaksa melakukannya ... maafkan aku istriku.
❤❤❤
Selamat siang eh, sore. Aku terlambat ya. Iya sengaja soalnya 🤣🤣🤣 Habisnya aku takut sama koment kalian, masak disuruh hidupin lagi 😭😭
Betewe, aku mau ngucapin terima kasih banyak buat Kakak perawat Maria Regolinda, sama Kakak Dr. Myranda. Hallo Kakak kakak cantik 😍😍😍 Makasih banyak udah berbagi banyak ilmu buat aku di novel ini 😍😍
Jangan lupa gaess ritualnya. 😉😉
Oh ya, Onty onty, kasih nama buat dedek bayi dong.
L.... (cowok) 2.Oase 3. V.... (cewek) 4. E... (cewek)