Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 193


Kak Zayn mengejarku dan menarik tanganku sampai aku berbalik badan. Ia langsung mendekapku dengan erat.


"Jangan bicara begitu, Queen. Kalau nggak boleh pulang ke rumahnya, terus Juna pulang ke mana? Cari kontrakan lain? Emang boleh?" tanya Kak Zayn sambil memelukku.


Ya Tuhan, bukannya malah baik-baikin aku, malah semakin bikin aku kesel deh Kak Zayn.


"Kalau berani-berani cari kontrakan atau rumah lain, apalagi sampai berani masuk ke dalamnya—" Aku melepaskan pelukan kami, lalu mendongak untuk memperlihatkan ekspresi serius di wajahku, "aku akan tinggalin Kakak, sendirian!" lanjutku. Kemudian, aku kembali berjalan untuk menemui anak-anakku.


Dasar suami aneh! Coba kalau di rumah tangga lain, pasti mereka seneng dong punya istri sepertiku, yang pintar memilih barang diskonan. Dia kan juga bisa menghemat, sisanya bisa buat tabungan masa depan triplet baby.


Aku terus berjalan, tidak mempedulikan Kak Zayn yang terus merayu, ia berjalan tepat di sampingku. Beberapa pasang mata memperhatikan kami, seolah mereka tidak pernah melihat suami istri yang sedang bertengkar. Dasar norak!


"Ayolah Dera Sayang, aku nggak mungkin kok kalau sampai selingkuhin kamu. Nggak akan mungkin, kalau hati aku aja udah kamu ambil sepenuhnya, gimana bisa aku bagi sama orang lain," ocehnya yang terus mencoba merayuku.


Kenapa restoran jauh sekali ya, aku hanya ingin sampai di restoran dan menghentikan omongan Kak Zayn itu.


"Selingkuh itu nggak harus dengan cinta dan hati, hanya karena nap*su juga banyak kok kejadiannya. Nanti menyesal terus minta maaf, akhirnya istrinya memaafkan karena saling cinta, tapi aku bukan tipe seperti itu," sahutku.


"Kenapa kita jadi bahas selingkuh sih? Aku kan cuma khawatir kalau kamu kenapa-kenapa, dorong-dorongan sama banyak orang kayak gitu, aku tu sayang kamu Dera."


Saat ini kami sudah sampai di depan pintu restoran, di dalam sana kulihat ketiga anakku yang sudah menunggu.


"Iya tahu, tapi aku juga nggak salah, dari sebelum nikah, aku emang udah hobi belanja, Kakak tau itu. Hari ini, setelah setahun nggak belanja diskonan, terus Kakak nyalahin aku, kesel nggak aku? Salahku di mana?" Aku meluapkan semua emosiku, sebelum berniat memasuki restoran dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Tiba-tiba Kak Zayn memelukku. Sangat erat, sampai aku kesulitan bernapas.


"Kalau gitu aku yang salah, maaf ya Queen, udah jangan ngambek lagi, tapi izinin Juna pulang ya, hari ini aku maafin kamu karena udah bikin aku khawatir," ucapnya seraya mengusap rambutku dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain masih mendekap erat tubuhku.


Lihatlah! Dia mengucapkan maaf demi Juna, dan tetap saja aku yang salah karena belanja diskonan. Suamiku masih saja menyebalkan!


Aku melepaskan pelukannya, tidak ingin memperpanjang masalah. Masalah diskon, mungkin kita bicarakan lagi lain waktu, kalau di ranjang pasti dia bisa lebih mengalah dan tidak akan menyebalkan.


***


Kak Zayn baru saja selesai mandi, dengan lilitan handuk di pinggang serta rambut yang juga diusap dengan handuk lainnya, ia menghampiriku. Saat ini aku baru kembali dari kamar anak-anak setelah memastikan mereka tertidur.


"Queen, bantuin dong!" kata Kak Zayn sambil mengulurkan handuk yang ia pakai untuk mengusap rambutnya.


Aku tahu, maksudnya adalah ia ingin aku mengeringkan rambutnya.


"Aku maunya tangan kamu," balasnya. Ia duduk di sofa, bersandar dengan santainya lalu menyalakan televisi.


Dengan hati yang masih sedikit kesal karena perkara tadi siang, aku menurut dan mencoba memanfaatkan situasi ini.


Pelan-pelan aku mengusap rambutnya, lalu setelah setengah kering, aku memijat kepala dan pundaknya.


"Pijatan kamu emang aneh Queen, yang dipijat yang atas, kenapa yang bawah ikut bangun ya," gumamnya yang bisa kudengar jelas.


Memang di balik handuk itu, aku bisa melihat tonjolan besar, pasti Juna sudah terprovokasi oleh sentuhanku.


Aku mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Ah, tapi tanganku juga capek mijitnya," balasku. Sengaja aku mengibaskan rambutku ke belakang, supaya Kak Zayn bisa melihat leherku dengan jelas.


"Kamu bikin aku tambah gerah," ucapnya, lalu mengendus leherku dengan hidungnya, sebelum akhirnya menjilat dan menghisapnya.


"Kakak kan baru mandi, kenapa gerah?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Ayolah Queen, kenapa kamu jadi gini, masa' kamu nggak paham?" Kak Zayn balik bertanya.


"Izinin dulu belanja diskonan, kalau mau Juna nggak tersiksa." Aku sengaja membuka tiga kancing atas piyamaku. Tujuanku memang biar Kak Zayn tidak bisa berpikir lama dan terpancing dengan tubuhku.


"Ayolah, Sayang. Mal itu punya kamu juga, buat apa kamu belanja diskonan sih?"


"Itu namanya hobi Kak, hobi dan kebutuhan, sama seperti Juna yang hobi olahraga, dan butuh dilampiaskan," jawabku.


Aku sedikit mengusap Juna yang sudah tegak sempurna di balik handuk, lalu aku melepas semua kancing piyamaku dan meninggalkan Kak Zayn di sofa. Berjalan masuk ke kamar ganti, tujuanku untuk mencari baju yang lain, tapi baru beberapa langkah, Kak Zayn sudah berhasil menangkapku.


"Jangan buat aku gila, oke lakukan semua yang kamu suka, aku sudah tidak tahan, aku lemah, aku kalah!"


Setelah mengatakan itu, Kak Zayn mencium leher dan punggungku yang hanya berbalut bra warna merah.


Dalam hati aku bersorak, karena Kak Zayn selalu mudah dikalahkan kalau sudah menyangkut urusan ranjang.


❤❤❤